Feature

Komitmen Aisyiyah di Usia 108 Tahun: Dakwah Kemanusiaan, Ketahanan Pangan, dan Qaryah Tayibah

59
×

Komitmen Aisyiyah di Usia 108 Tahun: Dakwah Kemanusiaan, Ketahanan Pangan, dan Qaryah Tayibah

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA), Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M. Kes menyampaikan pidato milad pada Resepsi Milad Ke-108 Aisyiyah di Yogyakarta, Senin, 19 Mei 2025 (Tangkapan layar YouTube ).

Dalam pidato Milad Ke-108, Ketua Umum PP Aisyiyah menegaskan komitmen dakwah perempuan berkemajuan, membangun ketahanan pangan berbasis desa, Qaryah Tayibah, sebagai fondasi peradaban bangsa.

Tagar.co – Seratus delapan tahun bukan waktu singkat. Namun, bagi Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA), usia lebih dari satu abad bukan alasan untuk berpuas diri. Dalam Resepsi Milad ke-108 yang digelar di Yogyakarta pada Senin (19/5/2025), Ketua Umum PPA, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menegaskan kembali komitmen Aisyiyah dalam dakwah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.

Mengawali pidato miladnya, Salmah menyitir Surah Ar-Rahman, “fabi’ayyi âlâ’i rabbikumâ tukadzdzibân” (Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?) Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya bersyukur atas nikmat Allah Swt. Dan rasa syukur itu pula yang diwujudkan Aisyiyah melalui kerja-kerja dakwah yang mencerahkan kehidupan bangsa.

“Di usia yang ke-108 tahun, Aisyiyah tetap berkomitmen untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama yang sebenar-benarnya,” tutur Salmah.

Baca juga: Aisyiyah Garda Terdepan Ketahanan Pangan, Bupati Kulon Progo: Kami Bangga Jadi Tuan Rumah Resepsi Milad

Baca Juga:  Eks Kepsek TK Penggerak Manfaatkan Halalbihalal untuk Perkuat Sinergi

Ia juga menegaskan pentingnya risalah perempuan berkemajuan sebagai salah satu keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta pada 2022. Aisyiyah, jelasnya, mengambil inspirasi dari Surah An-Nahl ayat 97 yang menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam beriman dan beramal saleh demi kehidupan yang lebih baik.

“Ayat tersebut mendorong para perempuan Aisyiyah untuk meraih ilmu pengetahuan dan teknologi, berkiprah di ruang publik, mengaktualisasikan segenap potensi pikir, zikir, dan amal mengukur peradaban di seluruh aspek kehidupan,” ungkapnya tegas.

Penandatanganan MoU Pimpinan Pusat Aisyiyah (PPA) dengan Kementrian Koperasi Republik Indonesia tentang penguatan dan pengembangan koperasi Aisyiyah pada Resepsi Milad ‘Aisyiyah ke-108 Tahun di Yogyakarta, Senin, 19 Mei 2025 (Tangkapan layar Youtube).

Salah satu bentuk konkret dakwah Aisyiyah yang terus dikembangkan adalah di bidang ketahanan pangan. Menurut Salmah, posisi Indonesia dalam indeks ketahanan pangan global 2022 masih rendah, yakni peringkat ke-69 dari 113 negara. Masalah ini, kata dia, bukan hanya soal lahan, tetapi juga distribusi, konsumsi, hingga literasi masyarakat tentang pangan sehat.

“Jika bicara tentang ketahanan pangan, tidak cukup hanya faktor keterbatasan lahan, ekonomi, sosial ataupun kesehatan, tapi juga faktor pendidikan, literasi tentang ketahanan pangan menjadi sangat penting untuk dipahami bersama,” ujarnya.

Baca Juga:  Ardan dan Cerita yang Tidak Selalu Utuh

Inilah yang menjadi dasar pemilihan tema Milad Ke-108 Aisyiyah: “Mewujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Tayibah Menuju Ketahanan Nasional.” Dalam Islam, konsep Baldah Tayibah dijelaskan dalam berbagai ayat Al-Qur’an, seperti Surah Al-A’raf, Saba’, An-Nahl, Al-Ma’un, Ali Imran, dan Ar-Rum, yang kesemuanya menggambarkan masyarakat yang beriman, bertakwa, dan memiliki solidaritas tinggi.

“Keluarga sakinah akan membentuk Qoryah Thayyibah. Qoryah Thayyibah membentuk Baldah Thayyibah dan Baldah Thayyibah atau baldatun tayibatun warabun gafûr akan membantu terwujudnya ketahanan nasional,” harap Salmah.

Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah (GLHA) menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya membangun Qoryah Tayibah. Gerakan ini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam bahan pangan atau memelihara hewan ternak sebagai upaya menjamin ketersediaan pangan mandiri.

Selama lebih dari satu abad, Aisyiyah dan Muhammadiyah telah menghadirkan amal usaha sebagai pengejawantahan dakwah dan tajdid untuk mendorong kemajuan umat dan bangsa. Komitmen itu terus dijaga, ditegaskan, dan dikembangkan—sebuah napas panjang dakwah yang tak pernah lelah menggapai peradaban. (#)

Baca Juga:  Di Museum Muhammadiyah, Jejak Perjuangan Terasa hingga Menggetarkan Hati

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni