Feature

Guru SD Almadany Didorong Publikasikan Penelitian Tindakan Kelas di Jurnal Ilmiah

33
×

Guru SD Almadany Didorong Publikasikan Penelitian Tindakan Kelas di Jurnal Ilmiah

Sebarkan artikel ini
Dr, Sarwo Edy menjadi narasumber workshop PTK di SD Almadany (Tagar.co/Mahfudz Efendi)

Guru SD Almadany didorong untuk menyelesaikan penelitian tindakan kelas (PTK) mereka dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah, untuk memperkuat identitas sebagai pendidik sekolah alam berbasis riset.

Tagar.co — Sebuah semangat baru menyala di kalangan guru SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Gresik usai mengikuti Workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Sabtu (27/4/2025).

Dalam sesi pertama workshop itu, Dr. Sarwo Edy, M.Pd.—Direktur Direktorat Pengembangan Kampus dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Gresik—berhasil memicu para pendidik untuk menyelesaikan PTK mereka dan melangkah lebih jauh: mempublikasikan hasil karyanya di jurnal ilmiah.

“Selain menjadi kebanggaan pribadi bagi guru, hal ini juga akan memberikan warna tersendiri sebagai guru sekolah alam,” ujar Sarwo Edy saat membuka workshop.’

Baca juga: Malam Abata SD Almadany: Air Mata, Doa, dan Asa Menyambut Asesmen

Kegiatan ini dirancang dalam dua sesi. Pada sesi pertama, Sarwo Edy membekali peserta dengan pengantar tentang esensi PTK. Ia mengajak guru-guru SD Almadany untuk berlatih menemukan masalah pembelajaran, menyusun kerangka masalah, serta menetapkan alternatif solusi. Target utamanya hari itu: menyusun kerangka PTK yang siap dikembangkan.

Baca Juga:  Logo Milad Ke-8 SD Almadany Diluncurkan, Usung Tema Brighter Future

“Sedangkan pada sesi kedua nanti, sekitar satu setengah bulan lagi, kita akan presentasikan hasil PTK, merumuskan rencana tindak lanjut, dan menyiapkan artikel untuk publikasi jurnal,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, dia menekankan bahwa masalah dalam PTK tidak selalu bersumber dari nilai siswa, dan tidak melulu berasal dari siswa itu sendiri. Masalah bisa muncul dari guru, pendekatan belajar, model pembelajaran, metode, media, atau bahkan dari Modul Ajar yang kurang tepat.

“Kalau masalahnya pada guru, maka PTK tidak dilakukan dengan eksperimen terhadap siswa, melainkan treatment-nya adalah terhadap guru itu sendiri,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa PTK tidak tergantung pada materi muatan pelajaran tertentu. Dalam pelaksanaannya, satu siklus penelitian bisa dilakukan dalam beberapa kali pertemuan.

Suasana kelas sebaiknya tetap natural, berlangsung di kelas sendiri, dan guru berperan ganda: selain mengajar, juga sebagai pengamat (observer) dalam penelitian. Jika diperlukan, penelitian bisa dilanjutkan hingga siklus ketiga untuk memperkuat hasil temuan di kelas.

Menurut Sarwo Edy, rumusan masalah dalam PTK idealnya berbentuk pertanyaan, sementara judul disusun sebagai pernyataan. Setelah masalah ditentukan, alternatif solusi perlu disusun dengan merujuk pada hasil penelitian terdahulu yang kredibel—yakni penelitian yang sudah terindeks Scopus, Sinta, atau teori-teori dari para ahli bidang terkait.

Baca Juga:  Little Kartini, Big Dream: Aksi Siswa Almadany Meramaikan Mal

Workshop sesi pertama ini diakhiri sebelum azan Zuhur berkumandang. Para ustaz dan ustazah SD Almadany aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi, memperkuat pemahaman mereka tentang langkah-langkah penelitian yang dibimbing langsung oleh Sarwo Edy. (*)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni