Rileks

Cerita Tiga Mahasiswa UMM Membawa Budaya Indonesia ke Negeri Jiran

31
×

Cerita Tiga Mahasiswa UMM Membawa Budaya Indonesia ke Negeri Jiran

Sebarkan artikel ini
Tiga mahasiswa UMM

Tiga mahasiswa UMM menjelajahi Singapura, Malaysia, dan Thailand tak sekadar kunjungan. Mereka membawa budaya Jawa-Bali, mengenalkan rupiah, dan menginspirasi siswa Indonesia di luar negeri.

Tagar.co – Bukan sekadar melancong atau sekadar pertukaran pelajar. Bagi tiga mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM), perjalanan ke tiga negara Asia Tenggara ini menjadi misi kecil mengenalkan Indonesia dari dekat—lewat cerita, budaya, dan secarik uang rupiah.

Salsabila Nur Husnia, Erin Herawati, dan Najwa Mahira, tiga sahabat dari Kampus Putih itu, terpilih menjadi delegasi dalam program International Volunteer Semangat Muda Indonesia Youth Exchange 2025.

Baca juga: Takbir di Tanah Katolik: Kisah Dosen UMM Lebaran di Budapest Hungaria

Selama hampir sebulan, mereka mengikuti program University Visit: Global Insight Local Impact di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Maret lalu, mereka pulang dengan segudang cerita.

“Kami ingin mahasiswa dari negara lain, juga anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri, bisa mengenal Indonesia lebih dari yang selama ini mereka dengar atau lihat di internet,” ujar Salsabila, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (14/5/25).

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Mengajar Budaya, Membagikan Cerita

Di Singapura, mereka tak hanya berkunjung ke kampus-kampus bergengsi seperti Nanyang Technological University (NTU) dan Singapore Management University (SMU), tapi juga mengajar di Sekolah Indonesia Singapura (SIS), tempat anak-anak pekerja migran Indonesia menimba ilmu. Di sinilah mereka membagikan pengetahuan tentang kekayaan budaya Pulau Jawa dan Bali.

“Kami memilih Jawa dan Bali karena siswa di sana lebih familiar dengan Bali. Tapi, banyak dari mereka juga berasal dari Jawa, jadi ini menjadi titik temu yang pas,” ungkap Erin.

Materi yang mereka bawakan tidak sembarangan. Mereka menyusun modul budaya ini berdasarkan mata kuliah Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah mereka pelajari di semester awal, dikaitkan pula dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Rupiah sebagai Media Edukasi

Tak hanya budaya, mereka juga memperkenalkan uang rupiah. Ya, lembar demi lembar rupiah dijadikan sarana belajar bagi para siswa SIS. Mulai dari mengenalkan tokoh pahlawan, pulau-pulau di Indonesia, hingga keragaman flora-fauna yang tergambar dalam uang kertas tersebut.

Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

“Banyak dari mereka belum pernah memegang uang rupiah. Bahkan ada yang baru tahu kalau ada pulau Papua dan bunga bangkai di lembaran rupiah,” kata Najwa sambil tersenyum.

Mereka juga berdiskusi soal kebanksentralan, topik yang mungkin terasa berat bagi siswa sekolah dasar, tapi dibuat ringan dan interaktif. Gambar, cerita, dan pengalaman pribadi mereka ubah menjadi media belajar yang menyenangkan.

Menginspirasi lewat Aksi Nyata

Di Malaysia, mereka singgah ke Universiti Malaya. Di Thailand, mereka menyempatkan diri berkunjung ke Prince of Songkla University (PSU). Di setiap tempat, mereka tak sekadar datang dan pergi, tapi aktif berdiskusi, berbagi, dan menyerap sebanyak mungkin wawasan dari mahasiswa dan lingkungan sekitar.

Bagi ketiganya, program ini bukan hanya tentang perjalanan internasional, tapi perjalanan hati. Tentang menjadi wajah muda Indonesia yang ramah, penuh cerita, dan bersedia berbagi. “Semoga apa yang kami sampaikan bisa menjadi bekal bagi mereka untuk lebih mencintai Indonesia, walau belum pernah menginjakkan kaki ke tanah air,” ujar Salsabila menutup cerita.

Baca Juga:  Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual

Dan di balik paspor dan visa, tiga mahasiswa UMM ini membawa sesuatu yang lebih penting: semangat berbagi, secarik budaya, dan sepenuh rasa bangga sebagai anak bangsa. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni