Cerbung

Tiga Jejak Digital: Terjebak dalam Jaring

37
×

Tiga Jejak Digital: Terjebak dalam Jaring

Sebarkan artikel ini
Tiga Jejak Digital (Ilustrasi AI)

Revan menyimpan rahasia berbahaya. Fikri menemukan bukti, Arga mulai curiga. Mereka harus memilih—menyelamatkan sahabat atau menghadapi kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya. Waktu mereka hampir habis.

Tiga Jejak Digital (Seri 10): Terjebak dalam Jaring; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi harinya, Fikri tahu ia tidak bisa tinggal diam. Apa yang ia lihat semalam bukan hanya sebuah kebetulan atau sekadar kecurigaan tanpa dasar. Ini nyata. Ini berbahaya. Dan jika ia tidak segera bertindak, ia tahu segalanya akan berantakan lebih cepat dari yang bisa ia bayangkan.

Namun, bagaimana ia harus menghadapinya? Ia bisa saja langsung mengonfrontasi Revan, tetapi itu berarti risiko kehilangan hubungan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Baca Seri 9: Tiga Jejak Digital: Jejak yang Menghilang

Sebelum Fikri sempat mengambil keputusan, Arga tiba-tiba mengajaknya berbicara.

“Fik, kita harus bicara,” kata Arga dengan ekspresi serius. “Aku merasa ada yang salah dengan Revan. Dia semakin menjauh dari kita, dan aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu.”

Baca Juga:  Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

Fikri menatap Arga dengan berat hati. Seolah dunia berputar terlalu cepat di sekelilingnya. Ia menghela napas panjang, merasa ini adalah momen yang tidak bisa ia hindari lagi.

“Aku juga merasakannya, Ga,” ucap Fikri pelan. “Tapi aku… aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Arga menatapnya tajam, kebingungan terpancar jelas di wajahnya. “Apa maksudmu?”

Fikri terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. Ia tahu bahwa apa yang akan ia katakan bisa mengubah segalanya.

“Revan terlibat dalam sesuatu yang sangat gelap,” ujarnya akhirnya. “Sesuatu yang bisa menghancurkan kita semua.”

Arga mengerutkan dahi, sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar. “Tidak mungkin,” katanya, suaranya bergetar. “Revan? Dia teman kita, Fik. Kita sudah melalui banyak hal bersama.”

Fikri menatapnya dengan penuh kesungguhan. “Percayalah, Ga. Apa yang aku lihat semalam… adalah bukti yang tidak bisa kita abaikan.”

“Apa maksudmu?” Arga semakin tidak mengerti.

“Revan terlibat dengan mafia digital yang mencoba memanfaatkan perusahaan kita untuk keuntungan pribadi.”

Mata Arga terbelalak, wajahnya berubah pucat. Ia mencoba mencerna informasi itu, tetapi semuanya terasa begitu sulit diterima.

Baca Juga:  Menunda Tobat, Menunda Selamat

“Jelaskan padaku,” pintanya, suaranya lebih pelan kali ini.

Fikri mengambil napas dalam-dalam. “Aku menemukan transaksi mencurigakan di sistem kita. Jumlahnya besar. Aku tidak tahu pasti ke mana uang itu mengalir, tapi ada pola yang aneh. Aku mulai menyelidikinya dan menemukan bahwa ada akses eksternal yang bukan dari kita. Dan yang lebih mengejutkan… aku melihat Revan melakukan sesuatu di server semalam. Aku yakin dia terlibat.”

Arga terdiam. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Selama ini, mereka bertiga selalu berada di jalur yang sama—membangun sesuatu yang besar bersama, berbagi visi yang sama. Tetapi sekarang, segalanya terasa seperti kepingan puzzle yang tercerai-berai.

“Aku harus bicara dengan Revan,” kata Arga akhirnya.

Fikri mengangguk. “Kita harus menghadapi Revan. Tapi kita harus berhati-hati. Kalau benar dia sudah terlibat terlalu dalam… kita tidak tahu siapa yang ada di balik semua ini.”

Arga memejamkan matanya sesaat. Kepalanya terasa berat, tetapi ia tahu bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang.

Mereka harus mencari kebenaran.

Baca Juga:  Notifikasi Terakhir dari Grup 1983

Mereka harus menghadapi Revan.

Dan mereka harus bersiap menghadapi konsekuensinya. (#) Bersambung!

Penyunting Mohammad Nurfatoni