Feature

Ngabuburead UMM di Smadiga: Serunya Ramadan dengan Buku, Games, dan Mahasiswa Asing

41
×

Ngabuburead UMM di Smadiga: Serunya Ramadan dengan Buku, Games, dan Mahasiswa Asing

Sebarkan artikel ini
Ngabuburit tak lagi biasa! Mobil Kaca UMM membawa ratusan buku, permainan seru, dan mahasiswa asing ke Smadiga Gresik. Literasi, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam Ramadan yang penuh keceriaan.
Siswa Smadiga Gresik membaca koleksi buku Mobil Kaca UMM (Foto Humas UMM)

Ngabuburit tak lagi biasa! Mobil Kaca UMM membawa ratusan buku, permainan seru, dan mahasiswa asing ke Smadiga Gresik. Literasi, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam Ramadan yang penuh keceriaan.

Tagar.co – Ramadan tahun ini semakin meriah bagi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 3 Bungah (Smadiga), Gresik. Pasalnya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Mobil Kamis Membaca (Kaca) dalam agenda Ngabuburead yang digelar pada Jumat (7/3/2025) lalu. Tak hanya membawa ratusan buku, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh kehadiran mahasiswa asing dari Vietnam dan Jepang yang ikut berinteraksi dengan para siswa.

Sejak sore, suasana sekolah terasa hidup dengan berbagai aktivitas menarik. Para siswa dan anak-anak sekitar antusias mengikuti permainan yang diselenggarakan, mulai dari tantangan bermain golf, membaca buku bersama di Mobil Kaca, hingga berbagi takjil menjelang waktu berbuka. Semua ini menjadi bagian dari upaya UMM untuk menyebarkan semangat literasi dan kebersamaan selama bulan Ramadan.

Baca juga: Sahur Unik UMM, Barbeque bareng Ojol dan Tukang Becak

Kepala Humas UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengungkapkan kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Kampus Putih dalam menyemarakkan Ramadan di berbagai daerah, tidak hanya di Malang, tetapi juga di kota-kota lain seperti Gresik. “Kami ingin Ramadan ini terasa lebih ceria, tidak hanya dengan berbagi takjil, tetapi juga dengan berbagai permainan edukatif yang melibatkan siswa dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Baca Juga:  Ngabuburit di Kayutangan: Ada Buku, Ecoprint, hingga Dapur Live Cooking
Mahasiswa asing UMM sedang mengajari siswa Smadiga bermain golf (Foto Humas UMM)

Kehadiran mahasiswa asing menjadi daya tarik tersendiri bagi para siswa. Mereka diberi kesempatan untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mahasiswa asal Vietnam dan Jepang, sehingga bisa lebih percaya diri dalam berbicara dengan orang dari negara lain. “Ini pengalaman berharga bagi mereka, karena bisa langsung berinteraksi dengan mahasiswa asing tanpa harus merasa canggung atau takut salah,” tambah Isnaini.

Selain itu, Mobil Kaca UMM juga membawa koleksi buku yang beragam, mulai dari buku cerita, novel, motivasi, hingga buku-buku keagamaan. Banyak siswa yang antusias karena menemukan buku-buku yang jarang mereka temui di tempat lain. “Melalui Mobil Kaca, kami ingin meningkatkan minat baca di kalangan siswa dan masyarakat. Literasi adalah bagian penting dalam membangun generasi yang cerdas dan berwawasan luas,” jelasnya.

Mahasiswa asing UMM sedang membagikan takjil pda pengendara (Foto Humas UMM)

Salah satu mahasiswa asal Vietnam, Hani, mengaku senang bisa ikut serta dalam acara ini. Menurutnya, pengalaman ngabuburit di Indonesia sangat unik dan berbeda dari tradisi di negaranya. “Di sini suasana Ramadan terasa lebih hidup. Banyak pilihan makanan menarik, masyarakat begitu menikmati puasanya, dan selalu ada kegiatan seru di berbagai tempat,” ujarnya.

Baca Juga:  Wujudkan Deep Learning, UMM Kembangkan Modul Ajar Berbasis STEM

Hal yang sama dirasakan oleh Nur Athira, siswi SMA Muhammadiyah 3 Bungah asal Malaysia. Ia sangat menikmati acara ini karena tidak hanya bisa membaca buku dan bermain, tetapi juga berkesempatan memenangkan doorprize. “Tiba-tiba sudah magrib, padahal kami masih ingin bermain dan bercengkerama. Semoga acara seperti ini bisa diadakan setiap tahun, bahkan diperluas ke sekolah-sekolah lain,” harapnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (10/3/25) siang.

Dengan berbagai keseruan yang dihadirkan, Ngabuburead Mobil Kaca UMM sukses membawa warna baru dalam Ramadan di Gresik. Agenda ini tidak hanya memperkuat tradisi berbagi, tetapi juga mendorong semangat literasi dan interaksi budaya yang lebih luas. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni