
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga melatih kelembutan hati. Dengan berpuasa, kita belajar mengendalikan emosi, meningkatkan empati, dan menjadi pribadi yang lebih sabar serta penuh kasih sayang.
Kultum Ramadan (Seri 9): Mengasah Kelembutan Hati di Bulan Ramadan; Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.
Tagar.co – Puasa dan kelembutan hati tepat untuk menjadi bahan Kultum Ramadan kali ini. Baca selengkapnya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dalam keadaan sehat walafiat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti ajaran beliau.
Baca juga: Kultum Ramadan: Puasa, Menundukkan Nafsu Meraih Kemuliaan
Pada kesempatan ini, mari kita renungkan salah satu hikmah besar dari ibadah puasa, yaitu melatih kelembutan hati. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengasah kepekaan rasa, kelembutan hati, dan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai ketakwaan. Takwa tidak hanya berarti takut kepada Allah, tetapi juga mencakup kepekaan dan kelembutan hati terhadap sesama. Salah satu sifat takwa adalah kelembutan perbuatan yang lahir dari kelembutan hati.
Puasa mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan orang lain. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita diingatkan betapa beratnya kehidupan mereka yang setiap hari harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dari sini, tumbuh rasa empati dan keinginan untuk membantu.
Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.”
Hadis ini mengingatkan kita bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan yang menyakiti orang lain. Puasa sejati adalah puasa yang melahirkan kelembutan hati dan sikap santun.
Ada sebuah kisah nyata yang terjadi di zaman Rasulullah Saw. Suatu hari, seorang sahabat bernama Abu Hurairah RA mengeluh kepada Rasulullah karena ada seorang tetangganya yang sering menyakitinya. Rasulullah tidak langsung menyuruh Abu Hurairah untuk membalas, tetapi beliau menasihatinya untuk bersabar dan berbuat baik kepada tetangga tersebut.
Setelah beberapa kali Abu Hurairah mengeluh, Rasulullah akhirnya memerintahkan untuk membawa harta miliknya ke jalan sebagai tanda protes. Namun, ketika orang-orang berkumpul, Rasulullah justru memuji tetangga tersebut di depan mereka. Mendengar pujian itu, tetangga tersebut merasa malu dan akhirnya berubah menjadi orang yang baik. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kelembutan hati dan kesabaran dapat mengubah permusuhan menjadi persaudaraan.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang khusus. Puasa khusus yang khusus adalah puasa yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, dan marah. Puasa tingkat inilah yang melahirkan kelembutan hati dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain.
Kelembutan hati tidak hanya dibutuhkan dalam hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dalam beribadah kepada Allah. Seorang yang hatinya lembut akan lebih khusyuk dalam salat, lebih ikhlas dalam beramal, dan lebih sabar dalam menghadapi ujian.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
Ayat ini mengajarkan kita bahwa kelembutan hati adalah kunci untuk menarik simpati dan membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.
Marilah kita menjadikan puasa sebagai momentum untuk melatih kelembutan hati. Dengan hati yang lembut, kita akan lebih peka terhadap penderitaan orang lain, lebih sabar dalam menghadapi ujian, dan lebih dekat kepada Allah Swt. Semoga puasa kita tahun ini membawa perubahan positif dalam diri kita, baik secara lahir maupun batin. (#)
Nasrumminallah wafathunqarib. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penyunting Mohammad Nurfatoni








