
Petualangan baru menanti! Rahasia tersembunyi terungkap, membawa kejutan tak terduga. Keberanian diuji, batasan dilampaui. Akankah mereka berhasil, atau justru terjebak selamanya?
Tiga Jejak Digital: Labirin tanpa Pintu (Seri 5); Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Langit Bandung malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Jalanan masih ramai oleh kendaraan yang berseliweran, lampu-lampu kota berkedip seperti bintang buatan, dan udara dingin menyelinap masuk melalui celah jendela mobil yang mereka tumpangi.
Fikri duduk di kursi belakang, menatap layar laptopnya yang masih menampilkan titik koordinat yang mereka lacak sebelumnya. Lokasi itu berada di sebuah kawasan industri tua di pinggiran kota. Tidak ada informasi spesifik tentang tempat itu di Internet, seolah-olah bangunan tersebut tidak terdaftar dalam sistem apa pun.
Arga yang menyetir, sementara Revan duduk di kursi penumpang depan. Keduanya masih mencoba mencerna situasi yang semakin aneh.
“Aku nggak habis pikir,” gumam Revan. “Bagaimana mungkin sesuatu yang berasal dari sistem kita bisa berlabuh ke lokasi fisik?”
Fikri menghela napas. “Aku juga belum tahu. Tapi satu hal yang pasti, ada sesuatu di sana yang menarik entitas ini kembali.”
Arga tetap fokus pada jalan. “Kalau ini jebakan, kita harus siap. Kita nggak tahu apa yang bakal kita hadapi.”
Baca Seri 4: Tiga Jejak Digital: Bayangan di Dunia Maya
Mobil mereka akhirnya sampai di kawasan industri yang dimaksud. Bangunan-bangunan tua menjulang di sekitar, sebagian besar sudah tidak terawat. Lampu jalan minim, menciptakan bayangan panjang yang menari di tembok kusam.
Arga memarkir mobil beberapa meter dari titik koordinat yang mereka cari.
“Di sana,” kata Fikri, menunjuk ke sebuah gedung tua dengan papan nama yang sudah hampir tak terbaca.
Mereka bertiga saling pandang.
Tidak ada yang berbicara, tapi mereka semua tahu bahwa langkah selanjutnya bisa mengubah segalanya.
Pintu utama gedung itu terkunci, tapi Revan menemukan jalan masuk melalui sebuah pintu samping yang terbuka sedikit.
Langkah mereka bergema di lorong yang remang-remang. Bau debu bercampur dengan aroma logam tua. Lantai berdebu, tapi ada jejak kaki baru yang samar-samar terlihat.
“Sepertinya ada orang lain yang datang ke sini belum lama ini,” bisik Fikri.
Mereka berjalan lebih dalam. Lorong itu akhirnya membawa mereka ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh peralatan komputer tua. Monitor CRT berdebu berjejer di sepanjang dinding, beberapa kabel masih terhubung ke perangkat yang tampaknya sudah lama tidak digunakan.
Revan menyalakan senter dari ponselnya. “Apa tempat ini dulunya semacam pusat data?”
Fikri tidak menjawab. Ia melangkah ke salah satu komputer yang masih menyala dengan layar hitam. Tangan gemetar, ia menekan tombol di keyboard.
Layar tiba-tiba menampilkan sesuatu.
Bukan kode. Bukan pesan ancaman.
Tapi gambar.
Baca Seri 3: Tiga Jejak Digital: Celah di Balik Layar
Sebuah foto hitam-putih dari tiga pria muda yang sedang tersenyum di depan gedung yang sama dengan tempat mereka berdiri sekarang.
Arga, Revan, dan Fikri terdiam.
Mereka mengenali wajah-wajah itu.
Mereka sendiri yang ada di dalam foto itu.
“Tidak mungkin…” Revan berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.
Arga melangkah maju, mengambil foto yang sudah mulai pudar di layar. Tangannya terasa dingin.
“Kita… kita tidak pernah ke sini sebelumnya,” katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Fikri memeriksa metadata file. Tapi yang ia temukan justru semakin membuat kepalanya pusing.
Tanggal pembuatan foto: Lima tahun yang lalu.
Tapi yang lebih aneh lagi, ada satu detail yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Di foto itu, di belakang mereka bertiga, ada seseorang lagi.
Sosok samar yang berdiri di dalam bayangan gedung, nyaris tidak terlihat.
Arga menghela napas dalam-dalam. “Aku nggak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang nggak.”
Revan memijit pelipisnya. “Kita harus keluar dari sini.”
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara berdengung memenuhi ruangan. Monitor tua yang tadinya mati tiba-tiba menyala satu per satu, menciptakan cahaya redup yang berkedip-kedip.
Lalu, pesan muncul di semua layar secara bersamaan.
“Kalian tidak bisa melarikan diri dari sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kalian.”
Fikri merasa udara di sekitarnya semakin berat.
“Apa maksudnya?” bisik Revan.
Arga, yang masih menatap foto di tangannya, akhirnya menyadari sesuatu.
“Kita sudah pernah ke sini sebelumnya…” katanya pelan. “Hanya saja… kita tidak mengingatnya.”
Ruangan terasa semakin sempit.
Dan mereka bertiga mulai menyadari bahwa mereka tidak sekadar mencari sesuatu.
Mereka sedang mencoba mengingat sesuatu yang telah mereka lupakan. (#) Bersambung!
Penyunting Mohammad Nurfatoni








