Telaah

Ketika Tirai Disingkap: Nikmat Tertinggi Melihat Allah

86
×

Ketika Tirai Disingkap: Nikmat Tertinggi Melihat Allah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Seluruh kenikmatan surga masih berada di bawah satu karunia terbesar. Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa memandang wajah Allah adalah puncak kebahagiaan bagi orang beriman.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Tagar.co – Di antara seluruh kenikmatan yang Allah siapkan bagi hamba-Nya, ada satu karunia yang melampaui segala bayangan manusia, yaitu kesempatan memandang wajah-Nya Yang Maha Mulia pada hari akhir kelak.

Inilah nikmat ruhani yang oleh para ulama disebut lebih agung daripada seluruh kenikmatan surga yang mempesona. Ia menenangkan hati orang beriman yang memahami janji suci dalam Al-Qur’an dan sunah Nabi.

Baca juga: Doa untuk Memperindah Akhlak

Dalam perjalanan iman seorang mukmin, surga sering dibayangkan sebagai puncak kebahagiaan. Di sana terdapat sungai yang mengalir, buah yang tidak pernah habis, serta berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlintas dalam hati manusia.

Namun para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan itu masih berada di bawah satu karunia yang paling agung, yaitu melihat wajah Allah Swt. Inilah puncak kerinduan para pecinta Tuhan dan tujuan akhir dari perjalanan ruhani yang panjang.

Baca Juga:  Sedekah Subuh, Amalan Kecil dengan Dampak Besar dalam Kehidupan

Allah sendiri memberi isyarat tentang kenikmatan ini dalam Al-Qur’an. Dia berfirman:

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Para mufasir besar, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa “tambahan” dalam ayat ini adalah kenikmatan memandang wajah Allah. Artinya, setelah semua kenikmatan surga diberikan, masih ada hadiah istimewa yang disimpan Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Penegasan yang lebih terang terdapat dalam firman-Nya:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiamah: 22–23)

Ayat ini menggambarkan kebahagiaan yang tidak dapat disamai oleh kenikmatan materi mana pun. Wajah mereka bersinar bukan sekadar karena masuk surga, tetapi karena diperkenankan memandang Rabb yang selama di dunia hanya mereka imani dengan penuh kerinduan.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan kabar agung ini dalam hadis sahih. Beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

Baca Juga:  Ujian Kesetiaan di Tengah Kenyamanan Rumah Tangga

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rab kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan kepastian yang menenteramkan hati orang beriman bahwa ru’yatullah adalah hakikat yang nyata, bukan sekadar kiasan.

Mengapa melihat Allah disebut lebih nikmat daripada seluruh isi surga? Karena seluruh kenikmatan surga bersifat makhluk, sedangkan memandang Allah adalah perjumpaan dengan Sang Khaliq. Hati manusia pada fitrahnya selalu merindukan sumber segala keindahan.

Ketika tirai itu disingkap, seluruh kenikmatan lain seakan menjadi kecil. Para ulama menggambarkan bahwa pada saat itu penghuni surga sejenak melupakan kenikmatan lain karena tenggelam dalam kebahagiaan rohani yang tak terlukiskan.

Namun kenikmatan tertinggi ini tidak diberikan tanpa jalan. Ia adalah buah dari tauhid yang bersih, ibadah yang ikhlas, serta kesabaran menjaga iman di tengah godaan dunia.

Orang yang lalai dari Allah di dunia dikhawatirkan akan terhalang dari melihat-Nya di akhirat. Allah berfirman tentang orang-orang kafir:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

Baca Juga:  Daftar Lengkap 24 Titik Lokasi Salat Idulfitri 1447 Muhammadiyah Kabupaten Semarang

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Al-Mutafffin: 15)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kedekatan dengan Allah harus diperjuangkan sejak di dunia.

Karena itu, para salaf sangat menjaga amal hati. Mereka tidak hanya mengejar banyaknya ibadah lahir, tetapi juga kejernihan niat, kelembutan hati, dan kejujuran dalam berdoa.

Mereka menangis dalam munajat malam bukan semata karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena rindu kepada Allah. Kerinduan inilah yang kelak dibalas dengan perjumpaan paling membahagiakan.

Semoga Allah menanamkan dalam hati kita kerinduan yang sama, membersihkan tauhid kita dari segala noda, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang diberi anugerah melihat wajah-Nya Yang Maha Mulia.

Itulah nikmat tertinggi—kenikmatan yang ketika ia datang, seluruh kenikmatan surga seisinya terasa belum sebanding. Amin ya Rabbalalamin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…