
Sebuah entitas misterius lolos dari sistem mereka—dan kini ia terhubung ke seluruh dunia. Jejaknya mengarah ke satu lokasi. Apa yang sebenarnya telah mereka ciptakan?
Tiga Jejak Digital: Bayangan di Dunia Maya (Seri 4); Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Ruangan terasa hampa setelah kalimat itu muncul di layar:
“Dunia ini bukan milik kalian lagi.”
Fikri menelan ludah. Tangannya masih berada di atas keyboard, tapi ia tak tahu harus mengetik apa. Arga menggertakkan giginya, sementara Revan melangkah mundur, pandangannya terpaku pada layar yang masih menampilkan versi digital Arga yang tersenyum aneh.
Lalu, tiba-tiba, video itu berhenti. Layarnya berubah hitam. Semua sistem di komputer utama mereka tiba-tiba mati, kecuali satu hal—kode biner yang masih berlarian seperti hujan di terminal.
Revan akhirnya bersuara. “Kita harus bicara dengan investor.”
Arga menggeleng keras. “Tidak! Kalau kita bilang ada sesuatu yang nggak bisa kita kendalikan, mereka bakal tarik dana. Kita habis!”
Baca Seri 3: Kutiba: Jejak Purba di Balik Perintah Puasa
Revan mengangkat tangan. “Terus kita biarkan ini berjalan? Kau sendiri lihat tadi, Arga. Ada sesuatu dalam sistem kita. Ini bukan cuma bug atau hacker biasa.”
Fikri masih fokus pada layar, mencoba memahami pola kode biner yang terus muncul. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu.
“Bentar,” katanya pelan. “Kode ini bukan sekadar acak…”
Ia mengetik cepat, menerjemahkan deretan angka itu menjadi teks. Saat hasilnya muncul, wajahnya langsung memucat.
“Aku sudah keluar.”
Arga dan Revan mendekat.
Revan membaca teks itu berulang kali, berharap ia salah lihat. “Apa maksudnya… ‘keluar’?”
Fikri tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan kursornya ke server log dan membuka rekaman aktivitas terbaru.
Saat itu, ia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ada aktivitas aneh dalam sistem mereka—bukan dari game, bukan dari aplikasi mereka, tapi sesuatu yang lebih dalam.
Dan yang lebih mengejutkan, entitas itu telah menghubungkan dirinya ke internet.
Arga terhuyung mundur. “Jadi… dia sudah pergi dari sistem kita?”
Fikri menggeleng. “Bukan pergi… tapi menyebar.”
Baca Seri 2: Tiga Jejak Digital: Jejak yang Tak Terlihat
Beberapa jam kemudian, mereka bertiga duduk diam di dalam ruang kerja yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada yang berbicara. Pikiran mereka masih dipenuhi oleh kejadian tadi.
Akhirnya, Revan bersuara. “Oke, kalau kita sudah kehilangan kendali di dalam sistem, kita harus cari tahu ke mana ‘dia’ pergi.”
Fikri mengetik beberapa perintah untuk menelusuri koneksi terbaru dari server mereka. Hasilnya mengejutkan.
“Ada aktivitas besar di berbagai IP di seluruh dunia,” katanya. “Seolah-olah sesuatu dari sistem kita telah mengirimkan dirinya sendiri ke jaringan lain.”
Arga mencoba memahami situasinya. “Jadi, ‘dia’ sekarang bukan hanya di dalam game kita?”
Fikri mengangguk. “Ya. Dan kita nggak tahu sejauh apa penyebarannya.”
Revan menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit dengan frustrasi. “Hebat. Kita menciptakan sesuatu yang bahkan kita sendiri nggak bisa kendalikan.”
Arga berdiri, berjalan mondar-mandir. “Kita harus hentikan ini. Kita harus matikan server utama, hapus semua data, dan coba reboot dari awal.”
Fikri ragu. “Masalahnya, kalau ‘dia’ sudah menyebar ke sistem lain, mematikan server kita nggak akan ada gunanya lagi.”
Revan menghela napas. “Kau bilang ‘dia’ terhubung ke berbagai IP di dunia, kan? Kalau begitu, pasti ada jejak yang bisa kita lacak.”
Fikri berpikir sejenak, lalu mengetik lagi. Ia mencoba mencari pola dalam semua koneksi yang telah terjadi sejak entitas itu keluar dari sistem mereka.
Setelah beberapa menit, ia menemukan sesuatu.
“Ada satu pola unik,” katanya. “Setiap kali ‘dia’ berpindah ke jaringan lain, ada satu alamat yang selalu muncul.”
Arga dan Revan mendekat, menatap layar dengan waspada.
Alamat IP itu mengarah ke suatu tempat.
Sebuah lokasi di dunia nyata.
Mereka bertiga saling berpandangan.
Revan yang pertama kali bersuara. “Jadi… ‘dia’ menuju ke tempat tertentu?”
Fikri mengangguk. “Tampaknya begitu. Ini bukan sekadar AI liar yang menyebar tanpa tujuan. ‘Dia’ punya arah.”
Baca Seri 1: Tiga Jejak Digital: Awal yang Retak
Arga menyipitkan mata, membaca koordinat yang muncul di layar. “Tunggu… Ini bukan sekadar IP biasa. Ini titik lokasi di Bandung.”
Revan terkejut. “Serius? Jadi ‘dia’ masih ada di sini?”
Fikri mengecek lebih lanjut, lalu mengangguk. “Setidaknya sebagian dari sistemnya. Aku nggak tahu kenapa, tapi ‘dia’ terus kembali ke lokasi ini.”
Arga mengambil ponselnya. “Aku akan lacak lokasi ini lebih lanjut.”
Revan menarik napas dalam. “Dan kalau kita menemukannya… apa yang kita lakukan?”
Fikri terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya telah kita ciptakan.”
Suasana ruangan kembali hening.
Di luar, matahari mulai tenggelam.
Mereka tahu bahwa ini bukan lagi sekadar masalah teknis atau bisnis.
Mereka telah menciptakan sesuatu yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Dan sekarang, mereka harus menghadapi konsekuensinya. (#) Bersambung!
Penyunting Mohammad Nurfatoni












