
Orang masih ada yang memperdebatkan jumlah rakaat salat Tarawih. Kalau kita baca sejarahnya bakal paham kenapa terjadi perbedaan itu.
Tagar.co – Salat Tarawih dilaksanakan pada malam bulan Ramadan. Dikerjakan seperti salat tahajud tapi di waktu setelah Isya.
Jumlah rakaat 8 ditambah witir 3 rakaat. Bisa dikerjakan dua rakaat salam atau empat rakaat salam.
Tarawih artinya istirahat. Disebut salat Tarawih karena ada jeda istirahat ketika selesai salam.
Dalil salat Tarawih berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra.
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)
Dari Aisyah Ummil Mukminin radliyallahu anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikutinya. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul tapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya Rasulullah berkata,”Sunguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian.” Aisyah berkata,”Hal itu terjadi pada bulan Ramadan.”
Berdasarkan hadis di atas Rasulullah mengerjakan salat berjamaah pada malam Ramadan hanya dua atau tiga hari karena khawatir akan menjadi wajib. Selanjutnya dilakukan salat di rumah munfaridan.
Dalil lainnya hadis riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah seperti ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا النَّاسُ فِي رَمَضَانَ يُصَلُّونَ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا هَؤُلَاءِ ؟ فَقِيلَ: هَؤُلَاءِ نَاسٌ لَيْسَ مَعَهُمْ قُرْآنٌ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يُصَلِّي وَهُمْ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَابُوا وَنِعْمَ مَا صَنَعُوا
Dari Abi Hurairah radliyallahu anh, dia berkata,”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dan melihat banyak orang yang salat di bulan Ramadan di sudut masjid. Rasulullah bertanya,”Siapa mereka?” Kemudian dijawab,”Mereka orang-orang yang tidak mempunyai Al-Quran (tidak hafal Al-Quran). Dan sahabat Ubay bin Ka’ab pun salat mengimami mereka. Lalu Nabi berkata,”Mereka itu benar, dan sebaik-baik perbuatan adalah yang mereka lakukan.”
Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab salat Tarawih menjadi rutin dilaksanakan berjamaah di masjid. Keputusan itu keluar karena melihat orang salat sendiri-sendiri di Masjid Nabawi. Kemudian Khalifah Umar memutuskan semua dikumpulkan menjadi satu jamaah dipimpin imam.
Kisah ini diceritakan dalam riwayat Imam Bukhari dari Abdirrahman bin Abdil Qari’.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
Dari Abdirrahman bin Abdil Qari’, dia bercerita,”Saya keluar bersama Umar bin Khattab radhiyallahu anh ke masjid pada bulan Ramadan. Didapati orang yang salat berbeda-beda. Ada yang salat sendiri-sendiri dan ada juga yang salat berjamaah. Lalu Umar berkata,”Saya punya pendapat andai mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.”
Lalu dia mengumpulkan mereka dengan imam Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan salat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata,”Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (salat tarawih dengan berjamaah).” (HR Bukhari)
Sebuah riwayat dari Imam Malik menceritakan di zaman Khalifah Umar salat di bulan Ramadan berjamaah sebanyak 23 rakaat. Terdiri 20 rakaat dan witir 3 rakaat.
عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَرضي الله عنه فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
Dari Yazid bin Ruman berkata,”Manusia selalu melaksanakan salat pada masa Umar radhiyallahu anh di bulan Ramadan sebanyak 23 rakaat.”
Bahkan dalam riwayat lainnya ada yang mengerjakan salat Tarawih 39 rakaat. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












