Feature

Mengelola Ramadan dengan Pancausaha: Tausiah Inspiratif Seorang Dokter

33
×

Mengelola Ramadan dengan Pancausaha: Tausiah Inspiratif Seorang Dokter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi orang berpuasa (freepik.com premium)

Hari pertama Ramadan, dr. H.M. Dady Dharmadi mengajarkan Pancausaha Puasa—lima langkah agar ibadah semakin bermakna. Dari niat hingga sedekah, inilah kunci meraih pahala dan keberkahan!

Tagar.co – Ketika azan Subuh berkumandang, menandakan waktu sahur telah berakhir, saya bersama putra saya, Sultan Ahmad Ateem (7), melangkahkan kaki menuju Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (1/3/25).

Seperti halnya di banyak masjid lain, hari pertama Ramadan ini menghadirkan pemandangan penuh semangat: masjid dipadati jemaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Setelah memimpin salat berjemaah, dr. H.M. Dady Dharmadi—aktivis Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Semarang—melangkah ke mimbar. Dalam pembukaan tausiahnya, ia mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme jemaah dan berharap semangat ini tetap bertahan bahkan setelah Ramadan usai.

Dengan bahasa yang sederhana dan menyejukkan, dia membandingkan ibadah Ramadan dengan konsep pertanian, yakni Pancausaha Tani. Seperti halnya dalam dunia pertanian, puasa juga memiliki lima usaha utama yang harus diperhatikan, yang beliau sebut sebagai Pancausaha Puasa.

Lima Usaha dalam Berpuasa

1. Niat yang Tulus dan Ikhlas

Baca Juga:  Ramadan Ceria di KB-TK IT Handayani: Latihan Salat Idulfitri hingga Aksi Berbagi

Sebagaimana dalam pertanian diperlukan bibit unggul, dalam puasa hal pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan niat yang tulus ikhlas. “Niat berpuasa harus semata-mata karena Allah Swt.,” katanya.

2. Makan Sahur

Layaknya pengolahan tanah yang baik dalam pertanian, makan sahur menjadi bagian penting dari puasa. Selain menjaga stamina agar dapat berpuasa dengan baik, sahur juga mengandung keberkahan. Oleh karena itu, dia mengimbau jemaah agar tidak melewatkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air.

3. Memperbanyak Amalan Kebaikan:

“Dalam pertanian, pemupukan yang tepat sangat penting agar hasil panen optimal. Begitu pula dalam berpuasa, setiap amalan dicatat dan dilipatgandakan pahalanya,” jelasnya. Namun, dia mengingatkan agar jangan sampai puasa hanya menghasilkan pahala tidur. Sebaliknya, manfaatkan Ramadan dengan memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur’an dan melakukan amal kebaikan.

4. Menahan Diri dari Perbuatan yang Tidak Baik

Seperti pengendalian hama dalam pertanian, berpuasa juga mengharuskan seseorang untuk menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak pahala. Salah satu yang beliau tekankan adalah menghindari gibah (menggunjing). Beliau berpesan kepada jemaah, terutama ibu-ibu, agar tidak mengomentari kebiasaan orang lain yang baru mulai rajin ke masjid atau berbagi makanan di bulan Ramadan. Fokuslah pada ibadah masing-masing.

Baca Juga:  Melawan Rasa Takut di Telaga Sarangan

5. Rajin Bersedekah

Dalam pertanian, irigasi dan pengairan sangat penting untuk menjaga kesuburan tanaman. “Begitu pula dalam Ramadan, ibadah harus disertai dengan amalan tambahan seperti bersedekah kepada yang membutuhkan,” katanya.

Di akhir tausiahnya, dr. HM. Dady Dharmadi berharap agar ibadah puasa yang dijalankan membawa pahala yang luar biasa, tidak hanya pahala utama dari puasa itu sendiri, tetapi juga bonus-bonus kebaikan yang menyertainya. Insyaallah. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni