
Tagar.co – Prof. Thohir Luth, Wakil Ketua PWM Jatim, hadir dalam acara Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) PDM Kota Surabaya di The Millenium Building SD Muhammadiyah 4 Pucang, Ahad (1/3/2026).
Dia menyampaikan ceramah ideologi Muhammadiyah. Dalam satu bagian ceramahnya dia bercerita ingin meniru amalan yang pernah dilakukan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
”Kiai Ahmad Dahlan itu suka memberikan baju kepada orang lain yang menginginkannya,” katanya.
Lalu dia bercerita, suatu hari Kiai Ahmad Dahlan kedatangan tamu. Ketika tamu itu perlu baju untuk ganti, Kiai Dahlan membawanya masuk ke dalam untuk diperlihatkan baju di lemari.
Kiai Dahlan menyilakan tamunya untuk memilih baju mana yang disenanginya. Tamu itu memilih baju paling bagus, Kiai Dahlan malah senang memberikan.
”Saya ingin meniru perbuatan itu untuk mengukur keikhlasan hati ini,” cerita Prof Thohir Luth yang guru besar emiritus Universitas Brawijaya Malang ini.
Ketika ada tamu dia persilakan untuk memilih baju yang ada di lemari. Tamu itu memilih baju yang paling disenangi Thohir Luth.
”Ternyata saya gagal meniru keikhlasan Kiai Ahmad Dahlan sebab dalam hati ini masih ada ganjalan berkata mbok milih baju yang lain saja jangan yang itu,” tutur Thohir Luth yang memancing tawa peserta Rapimda.
Lantas dia menyampaikan berjihad dalam Muhammadiyah itu perlu keikhlasan seperti dicontohkan pendirinya, KH Ahmad Dahlan.
Kemudian dia mengutip pesan Ahmad Dahlan dalam bahasa Jawa. ”Dadi wong Muhammadiyah ojo kesel anggonmu nyambut gawe nang Muhammadiyah,” katanya dengan logat Flores yang membuat hadirin tersenyum.
Artinya, menjadi aktivis Muhammadiyah jangan mudah lelah ketika bekerja di Muhammadiyah.
Dia mengatakan ini adalah pesan Kiai Dahlan untuk menjadi mujahid.
”Mujahid itu kalau meninggal bukan husnul khatimah. Itu kelasnya TK. Mujahid kalau meninggal diberi derajat mulia,” tandasnya.
Dia menegaskan, berjuang di Muhammadiyah itu sesungguhnya beribadah dan berjihad fi sabilillah. Sebab tujuannya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Jihad di Muhammadiyah ini, sambung dia, ada yang memandang sebelah mata karena dinilai sering berbeda dalam penentuan Ramadan dan jumlah rakaat salat tarawih.
”Ada yang bilang Muhammadiyah gak suka tarawih 23 rakaat, ternyata sekarang tarawihnya bertambah menjadi 13 rakaat. Ternyata sekarang Makkah dan Madinah tarawih ikut Muhammadiyah 13 rakaat,” tandasnya yang membuat hadirin tertawa meriah.
Mamulo… Mamulo…
Masih menjelaskan keikhlasan dalam berjihad, Thohir berkata,”Sebagai guru besar penghasilan saya Rp 38 juta per bulan. Setelah pensiun tinggal Rp 5 juta. Ya disyukuri alhamdulillah tidak bekerja masih menerima gaji,” ujarnya.
Kemudian dia bercerita seorang temannya yang juga pensiun guru besar mengeluh dengan uang pensiun Rp 5 juta itu tidak cukup. Padahal dia masih diminta mengajar di perguruan tinggi swasta. Ketika perguruan tinggi membuat aturan penghasilannya itu sebesar 2,5 persen dipotong untuk membayar zakat banyak yang keberatan.
”Ternyata mengeluh dan keberatan itu merasa gajinya tidak cukup karena masih ada cicilan kredit mobil anaknya belum lunas,” ujarnya yang lagi-lagi membuat tawa hadirin pecah.
”Kalau hidup seperti ini ya bagaimana lagi… mamulo…mamulo…,” katanya lagi meniru istilah dan aksen Surabaya. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












