
Tak lagi takut berbicara di depan umum! Para guru Bahasa Inggris Muhammadiyah Sidoarjo mengikuti pelatihan English Public Speaking di Umsida, belajar teknik berbicara yang efektif, mengatasi grogi, dan tampil lebih percaya diri. Seperti apa keseruannya?
Tagar.Co – Ruang 704 di Gedung GBK 3 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tampak lebih semarak dari biasanya pada Sabtu pagi, 8 Februari 2025. Antusiasme memenuhi ruangan, saat 25 guru Bahasa Inggris dari berbagai sekolah Muhammadiyah di Sidoarjo berkumpul untuk mengikuti pelatihan English Public Speaking.
Di depan kelas, Dian Rahma Santoso, dosen Bahasa Inggris Umsida yang menjadi pemateri utama, membuka sesi dengan pertanyaan yang menggugah.
Baca juga: Guru SMP Meka Wokshop Membuat Soal dengan Pendekatan Deep Learning dan Bantuan AI
“Apa yang paling menakutkan dalam berbicara di depan umum?” tanyanya sambil tersenyum. Berbagai jawaban pun bermunculan: takut lupa materi, grogi, hingga khawatir terlihat kurang meyakinkan.
“Tenang, semua pembicara hebat juga pernah merasa seperti itu,” ujar Dian, menenangkan para peserta.
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini memang dirancang untuk membantu para guru mengatasi ketakutan tersebut. Lebih dari sekadar teori, pelatihan ini mengajak peserta untuk langsung praktik, membangun kepercayaan diri, dan menyampaikan gagasan dengan lebih efektif.
Mengasah Teknik Berbicara di Depan Umum
Setelah sesi pembukaan, para peserta diajak memahami teknik dasar dalam berbicara di depan umum. Dian menjelaskan bahwa selain isi pidato yang kuat, cara menyampaikannya juga sangat berpengaruh.
“Seorang pembicara yang baik tidak hanya sekadar berbicara, tapi juga mampu menghidupkan pesannya,” jelasnya.
Ia kemudian mendemonstrasikan bagaimana intonasi suara, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh dapat memperkuat pesan yang disampaikan. Dengan penuh semangat, para guru menirukan teknik yang diajarkan, terkadang diselingi gelak tawa saat ada yang masih terlihat kaku.
Tak hanya itu, peserta juga diberikan tantangan untuk berbicara secara spontan. Mereka diminta untuk berbicara tanpa banyak berpikir, mengalirkan ide dengan lancar tanpa terjebak dalam kebiasaan mengulang-ulang kata atau berhenti terlalu lama.
“Jangan takut salah! Kalau kalian menunggu sampai sempurna, kalian justru akan kehilangan momen,” ujar Dian, memotivasi.
Berbagi Kisah, Berlatih Kepercayaan Diri
Suasana semakin menarik ketika sesi one-minute speech dimulai. Para guru diberi waktu satu menit untuk berbagi pengalaman mengajar mereka.
Ada yang menceritakan tantangan dalam menghadapi siswa yang kurang percaya diri berbahasa Inggris, ada pula yang berbagi strategi kreatif untuk membuat kelas lebih interaktif. Salah satu peserta, Rahma, seorang guru SMP Muhammadiyah, bercerita bagaimana ia menggunakan permainan peran untuk membuat siswanya lebih berani berbicara dalam bahasa Inggris.
“Awalnya mereka malu-malu, tapi begitu melihat teman-temannya antusias, mereka jadi lebih percaya diri,” katanya dengan mata berbinar.
Momen ini menjadi kesempatan berharga bagi para guru, bukan hanya untuk berbagi kisah, tetapi juga untuk mempraktikkan teknik berbicara yang telah mereka pelajari. Dukungan dan tepuk tangan dari sesama peserta membuat mereka semakin bersemangat.
Lebih dari Sekadar Pelatihan
Saat sesi pelatihan berakhir, para peserta masih tampak enggan beranjak. Beberapa saling bertukar pengalaman, sementara yang lain mendekati Dian untuk bertanya lebih lanjut.
“Saya merasa lebih percaya diri setelah pelatihan ini. Ternyata, berbicara di depan umum tidak seseram yang saya bayangkan,” ujar salah satu peserta dengan senyum lebar.
Pelatihan English Public Speaking ini bukan sekadar sesi belajar berbicara, tetapi juga menjadi ruang bagi para guru untuk saling mendukung dan menginspirasi. Dengan bekal keterampilan baru, mereka tidak hanya siap berbicara di depan kelas dengan lebih percaya diri, tetapi juga membawa energi baru dalam pengajaran mereka. (#)
Jurnalis Aniwati Penyunting Muhammad Nurfatoni











