
Pemberian Bermakna Pencegahan dan Pencegahan Bermakna Pemberian. Materi sufistik ini berhasil disampaikan Ustaz Muhammad Arfan Mu’ammar sehingga mudah dipahami oleh jemaah Masjid At-Taqwa Menganti Gresik. Kisah dan contoh menjadi kuncinya.
Tagar.co – Kajian bertema berat tentang sufistik “Belajar Memahami Kehendak Allah” berhasil disampaikan Muhammad Arfan Mu’ammar dengan cara sederhana di Masjid At-Taqwa, Menganti, Gresik, Ahad (5/1/25). Di antaranya karena dosen Pascarsarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menjelaskan dengan kisah dan contoh.
Misalnya saat di Pengajian Ahad Pagi itu dia menjelaskan topik Pemberian Bermakna Pencegahan dan Pencegahan Bermakna Pemberian. Kisah dan contoh yang dia ungkapkan membuat materi jadi mudah diterima. Seperti saat di awal pengajian, dia mengisahkan tentang raja yang kehilangan jari.
“Sering Allah itu memberi tapi pemberiannya itu bermakna pencegahan dan sering Allah itu mencegah tapi pencegahannya itu bermakna pemberian,” ujarnya.
Menurut Arfan, dari topik itu ada dua hal yang bisa dipelajari. Pertama pemberian dan pencegahan Allah itu silih berganti. Kadang kita diberi kadang kita dicegah. “Jangan berharap kita itu mudah terus atau susah terus. Kadang mudah, kadang susah. Itu sudah rumus,” katanya.
Sebab, kalau hidup itu enak terus lama-lama tidak enak juga. Dia pun memberi contoh makan daging yang dianggap enak. Tapi kalau tiap hari makan daging, jadinya tidak enak juga, bosan. Demikian juga tidur sebagai kenikmatan. Tapi kalau seharian tidur, badan jadi tidak enak. “Maka imtilak (cobaan) dan ikram (kemuliaan) itu silih berganti,” ujarnya.
Ustaz Arfan menjelaskan seringkali sesuatu itu baru terasa berharga jika sesuatu itu hilang atau lepas dari diri kita. Misalnya perjumpaan terasa nikmat setelah lama berpisah.
Orang yang selalu bergelimang dalam kekayaan maka dia tidak bisa merasakan nikmatnya kekayaan itu karena tidak bisa membandingkan dengan keadaaan saat miskin. Atau sebaliknya seseorang bisa merasakan tidak enaknya jadi orang miskin karena pernah kaya.
“Maka kenikmatan itu setelah kesusahan. Seperti pepatah berakit-rakit dahulu berenang kemudian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,” kata dia.
Oleh karena itu, kata Arfan, kita perlu sekali-kali sakit. Sebab dengan sakit, kita bisa merasakan jika sehat itu nikmat sehingga bisa mensyukurinya.

Pencegahan Bermakna Pemberian
Kedua, kadang-kadang pemberian itu sama dengan pencegahan dan kadang-kadang pencegahan itu sama dengan pemberian. Misalnya seorang kandidat yang gagal dalam pencalonan DPR. Sepertinya Allah mencegah kita jadi anggota DPR. Tapi di balik itu sebenarnya Allah sedang memberikan suatu kebaikan pada kita. Dia tahu jika kita ini punya sifat korup saat punya jabatan dan kesempatan, maka Allah mencegah kita menjadi anggota DPR.
Arfan lalu berkisah tentang seorang nenek yang duduk kursi yang ada di trotoar. Tak jauh dari posisinya ada seorang remaja yang bermain game dengan mengunakan headset. Saat tongkat sang nenek jatuh dari trotoar, dia bermaksud meminta tolong pada remaja tersebut.
Tapi karena pakai headset maka dia tak mendengarnya. Terpaksa dengan susah payah sang nenek bangkit dari duduknya untuk mengambil tongkat itu. Saat dia turun ke trotoar, tiba-tiba ada kursi yang jatuh dari gedung yang berada di dekat trotoar itu. Kursi itu jatuh tepat di kursi yang tadi diduduki sang nenek. Tapi dia selamat karena sedang turun ke trotoar mengambil tongkat.
“Berarti Allah menyelamatkan nenek itu dengan cara yang tidak disukainya (meminta tolong pada remaja untuk mengambil tongkat tapi dia tidak menolongnya),” kata Arfan.
Baca berita terkait: Berkah Tersembunyi dari Kisah Sufistik Raja yang Terpotong Jarinya
Ustaz Arfan juga berkisah tentang gagalnya sebuah keluarga naik sebuah pesawat dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Changi, Singapura. Mereka gagal terang karena merasa tidak mendapat pemberitahuan jika jadwal penerbangan diajukan.
Kegagalan keberangkatan itu membuat keluarga ini marah dan tidak terima, bahkan mengajukan klaim. Tapi apa yang terjadi? Ternyata pesawat yang gagal mereka tumpangi itu hilang.
Dari penelusuran Tagar.co, kejadian yang dimaksud adalah jatuhnya pesawat Air Asia di perairan Selat Karimata pada tanggal 28 Desember 2014. Lokasi jatuhnya pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 tersebut berada di dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Sebanyak 162 orang yang terdiri dari dua pilot, empat awak kabin, dan 156 orang meninggal dunia.
“Allah menyelamatkan satu keluarga ini dengan cara yang tidak disukai,” kata Arfan.

Kunci Iklhas
Menurut dia, kalau kita paham dengan maksud dan tujuan Allah mencegah kita, maka tidak akan pernah membuat kita marah atau ngersulo. Di sinilah, menurut Arfan, pentingnya bersikap ikhlas dalam semua yang ditakdirkan oleh Allah. Sebab, hanya orang yang ikhlas (mukhlis) yang tidak bisa diganggu oleh setan (Al-Hijr 41).
Ustaz Arfan menerangkan, ikhlas dan sabar terhadap ujian yang diberikan Allah bisa jadi jalan menuju Surga-Nya. “Aku gak duwe opo-opo. Gak duwe apalan. Gak duwe ilmu. Gak iso sodakoh. Aku mek duwe sabar. Aku mek duwe ikhlas. Mugo-mugi ikhlasku, sabarku dari ujian dari Jenengan itu, Engkau berkenan memasukkan aku ke dalam Surga,” kata dalam bahasa Jawa.
Maksudnya, “Saya tidak punya apa-apa. Hafalan Al-Quran tidak punya. Ilmu juga tidak punya. Tidak bisa bersedekah. Saya hanya punya sabar dan ikhlas. Semoga sabar dan ikhlasku dari ujian-Mu membuat Engkau berkenan memasukkan saya ke Surga.”
Mengutip surat Al-Fajar 15-16, Arfan menjelaskan ada dua tipe orang saat Allah memberi imtilak atau ikram. Pertama, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’.”
Kedua, “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.”
Menurut Ustaz Arfan, orang-orang Mukmin itu menakjubkan. Kenapa? Karena ketika mendapat musibah dia sabar sehingga mendapatkan pahala. Dan apabila mendapat nikmat dia bersyukur sehingga dapat pahala.
“Maka orang mukmin itu diuji ataupun tidak diuji sama-sama bisa dapat pahala,” katanya. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












