Feature

Pagelaran Seni Budaya PGSD Umla: Merajut Keberagaman Identitas lewat Kreativitas tanpa Batas

40
×

Pagelaran Seni Budaya PGSD Umla: Merajut Keberagaman Identitas lewat Kreativitas tanpa Batas

Sebarkan artikel ini
Tari Mayang Madu yang dibawakan mahasiswa Umla (Tagar.co/Rohmat)

Pagelaran ini membuktikan bahwa seni dan budaya tetap lestari di tengah modernisasi, dirajut indah oleh kreativitas generasi penerus bangsa.

Tagar.co – Convention Hall K.H. Hisyam Lantai 10 Tower Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) bergemuruh pada Kamis (9/1/25). Bukan oleh orasi ilmiah, melainkan oleh hentakan musik tradisional dan gemulai gerak tari yang memukau.

Hari ini, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Umla tengah menggelar perhelatan akbar: pagelaran seni budaya bertajuk “Kreativitas tanpa Batas, Merajut Seni Budaya untuk Menciptakan Keberagaman Identitas”. Ratusan pasang mata, dari jajaran pimpinan Umla, dosen, tenaga pendidik, hingga mahasiswa, terpaku menyaksikan kekayaan budaya yang ditampilkan.

Acara dibuka dengan apik oleh Tari Mayang Madu, disusul Tari Zafin Melayu, dan puncaknya, penampilan istimewa dari para dosen PGSD Umla yang membawakan Tari Jaranan. Penampilan enerjik para dosen ini sukses memukau hadirin dan sontak membuat suasana semakin meriah dengan semangat dan antusiasme yang membara.

Baca juga: FSTP Umla Kupas Tuntas Peran Digitalisasi di Sektor Industri dan Kesehatan

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Mahasiswa PGSD UMLA tak kalah memukau. Mereka mempersembahkan serangkaian tarian tradisional khas Nusantara yang kaya makna. Tari Sesonderan membawa keceriaan masyarakat Jawa, sementara Tari Sintren menghadirkan nuansa mistis dan keindahan budaya.

Hadirin pun diajak bernostalgia di masa anak-anak lewat Tari Dolanan yang mengangkat tema permainan tradisional. Tidak hanya itu, Tari Sorote Lintang, sebuah tari kontemporer berbalut unsur tradisional yang kental, juga turut memeriahkan acara. Kekuatan dan kebersamaan terlukis indah dalam Tari Jaran Dawuh. Sebagai penutup, Tari Boran tampil memikat, mengisahkan kehidupan penjual nasi boran, kuliner khas Lamongan.

Bersiap sebelum tampil. Tari Jaranan yang dibawakan oleh dosen Umla (Tagar.co/Rohmat)

Kepala Prodi PGSD Umla, A.F. Suryaning Ati MZ, M.Pd, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh sivitas akademika Umla yang telah hadir. Dalam sambutannya, dia menekankan pentingnya pagelaran ini sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan budaya. “Ini adalah budaya yang ada di PGSD. Semoga mahasiswa PGSD dan mahasiswa Umla umumnya selalu berbudaya dan tidak hilang kesantunannya,” pesannya.

Wakil Rektor I Umla, Dr. Arifal Aris, S.Kep, Ns, M.Kes, dalam sambutannya, turut mengapresiasi kreativitas mahasiswa dan dosen. “Pagelaran seni budaya ini menjadi momentum penting untuk melestarikan seni tradisional sekaligus memperkuat keberagaman identitas budaya kita,” ujarnya.

Baca Juga:  Sepuluh Menit Ludes, Nasyiatul Aisyiyah Sidayu Bagikan 200 Paket Takjil Ramah Lingkungan

Dia mengingatkan tentang tanggung jawab besar seorang guru. “Seorang guru, dalam setiap ucapan dan tindakannya, menjadi contoh bagi anak didiknya,” tegasnya. Dia menambahkan bahwa seorang guru harus memiliki minimal empat kompetensi utama: “Pertama adalah kepribadian, kedua kompetensi pedagogik, ketiga kompetensi profesional, dan yang keempat adalah kompetensi sosial.”

Dengan mengusung tema “Kreativitas Tanpa Batas,” pagelaran ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia. Lebih dari itu, acara ini juga menjadi pendorong bagi generasi muda, khususnya mahasiswa PGSD Umla, untuk terus berkarya dan berinovasi tanpa batas dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya bangsa.

Pagelaran ini membuktikan bahwa seni dan budaya tetap lestari di tengah modernisasi, dirajut indah oleh kreativitas generasi penerus bangsa. (#)

Jurnalis Rohmat Penyunting Mohammad Nurfatoni