
Seseorang yang introvert seringkali dinilai sebagai seseorang yang tidak percaya diri dan pendiam. Sesungguhnya, pribadi introvert adalah pribadi yang mendapatkan energi, kenyamanan, dan ketenangan dalam suasana sunyi.
Tagar.co – Tanggal, 2 Januari 2025, dunia sedang memperingati Hari Introvert Sedunia. Pencetusnya Felicitas Heyne, seorang psikolog dan penulis asal Jerman.
Turut memperingati, Kepala Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) MGKB–sebelumnya terkenal dengan PLPK Smamio karena lokasinya berada di SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio)–Ika Famila Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog menegaskan bahwa introvert tidak selalu berkonotasi negatif.
Ika, sapaan akrabnya, menyadari, seseorang yang introvert seringkali mendapat penilaian sebagai seseorang yang tidak percaya diri dan pendiam. Padahal sesungguhnya berbeda.
“Pribadi introvert adalah pribadi yang mendapatkan energi, kenyamanan, dan ketenangan dalam suasana sunyi,” ujar lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis Universitas Surabaya ini.
Orang ekstrovert, lanjut Ika, lebih mudah bergaul, membaur, dan beradaptasi. Sehingga lebih mudah diterima dalam pergaulan sosial. Sebaliknya, orang introvert lebih nyaman berada di tempat yang sepi karena mereka butuh energi ekstra ketika berada di keramaian.
“Nah, karakter mereka yang seperti ini sering disalahartikan sebagai sikap antisosial,” imbuh Koordinator Bimbingan dan Konseling SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio) ini.
Untuk memperjelas kehidupan seorang karakter ini, Ika sepakat dengan kata Jhene Aiko. Penulis lagu dan penyanyi asal Amerika ini menilai dirinya sebagai introvert.
“I used to think I was introverted because I really liked being alone, but it turns out that I just like my peace, and I am very extroverted around people who bring me peace,” ujarnya.
Jadi, penekanannya bukan pada suka menyendiri, tapi suka suasana sunyi. Orang introvert juga bisa heboh dan ceria ketika berinteraksi dengan orang-orang yang membuat mereka nyaman.
Tak Ada yang Salah
Lalu, bagaimana cara agar mereka bisa berbaur dan menikmati keramaian yang ada? Kadang ada rasa pengin heboh, seru, dan ramai seperti orang ekstrovert. Tapi adakalanya susah memulainya.
Terkait ini, Ika menekankan, tidak ada yang salah dengan introvert. “Orang yang introvert nggak harus berubah menjadi ekstrovert. Karena pada dasarnya setiap orang pasti punya keunikan dan sumber energi serta kenyamanan yang berbeda-beda,” terangnya.
Lebih lanjut, kata Ika, orang dengan karakter ini memang membutuhkan waktu untuk adaptasi. Terutama ketika berada di lingkungan yang baru.
“Dia nggak harus memaksakan diri menjadi ekstrovert karena nanti justru semakin membuat tidak nyaman,” tutur ibu dua anak asli Malang ini.
Karena itulah, Ika berpesan, “Just be your self dan sadari bahwa diri kita adalah orang introvert yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman.”
Kesempatan Adaptasi
Di samping itu, orang introvert membutuhkan waktu untuk berani mengekspresikan diri dan memunculkan semua potensi terpendamnya.
Memahami karakteristik orang introvert salah satunya membutuhkan waktu tersebut, maka Ika menyarankan, beri waktu dan kesempatan pada diri untuk beradaptasi.
“Buat diri senyaman mungkin. Tingkatkan kemampuan komunikasi dengan orang lain,” pesan alumnus sekaligus mantan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Kemudian, cari circle atau lingkungan pertemanan yang membuatmu nyaman tanpa merasa harus lelah memaksakan diri menjadi ekstrovert atau memaksakan diri menjadi pribadi heboh,” tambahnya, Kamis (2/1/2025).
Selain itu, psikolog klinis tersebut menyarankan, “Sesekali, beri kesempatan pada diri untuk berada di tempat yang sepi dan tenang. Karena di momentum ini orang introvert akan merasa lebih rileks dan recharge energinya.”
Selamat Hari Introvert Sedunia! (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni











