Feature

Wisudawan Terbaik STKIP Muhammadiyah Lumajang Ini Kuliah Dibiayai Suster Katolik

60
×

Wisudawan Terbaik STKIP Muhammadiyah Lumajang Ini Kuliah Dibiayai Suster Katolik

Sebarkan artikel ini
Ayu Lestari bersama ayahnya, Suster M. Ambrosia, A.K. (kiri) dan Ketua STKIP Muhammadiyah Lumajang Eny Nur Wahyuni (kanan). (Tagar.co/Istimewa)

Wisudawan terbaik STKIP Muhammadiyah Lumajang ini sejak SMA hingga kuliah dibiayai Suster M. Ambrosia, A.K. dari Kongregasi Tarekat Abdi Kristus Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Di tengah riuh rendah prosesi wisuda STKIP Muhammadiyah Lumajang, Sabtu (7/12/24), Ayu Lestari, gadis asal Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, berdiri dengan bangga di antara 21 wisudawan.

Senyum mengembang di wajahnya saat menerima penghargaan sebagai wisudawati terbaik. Namun, di balik prestasi gemilang dengan IPK 3,5 ini, tersimpan kisah perjuangan yang mengharukan, tentang keteguhan hati, kerja keras, dan keindahan toleransi beragama.

Ayu bukanlah gadis yang berasal dari keluarga berkecukupan. Ia kehilangan ibunya, Rame, di usia belia, saat masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sang ayah, Nursalam, seorang buruh tani, berjuang keras menghidupi Ayu dan kedua kakaknya.

Di tengah keterbatasan, seorang suster Katolik hadir bagai malaikat penolong. Suster M. Ambrosia, A.K. yang berasal dari Kongregasi Tarekat Abdi Kristus Semarang, Jawa Tengah. Uluran tangan sang suster membuka jalan bagi Ayu untuk melanjutkan pendidikan, dari SMA hingga meraih gelar sarjana.

Baca Juga:  Belajar ke SD Mumtaz, Berangkat Dini Hari Temui Hal Lucu

“Suster itu sangat berjasa dalam hidup saya,” ungkap Ayu dengan mata berkaca-kaca. “Beliau membiayai hidup dan sekolah saya.”

Uniknya, bantuan yang diterima Ayu dari sang suster menciptakan sebuah harmonisasi indah di tengah perbedaan keyakinan. Ayu, yang beragama Islam, menganggap bantuan tersebut bukan sekedar dukungan materi, melainkan wujud nyata toleransi beragama.

“Kami saling menghargai meski berbeda agama. Ini menunjukkan bahwa indahnya toleransi bisa tercipta dalam tindakan nyata,” tuturnya.

“Saya sejak SMA hidup di panti asuhan dan Suster Ambrosia yang menjadi wali saya. Maka sampai saya keluar dari panti (pada semester 5) pun suster tetap menjadi wali ayu dan membantu dalam hal membiayai kuliah.

Dia mengungkapkan, sebenarnya yang membiayai Ayu ketika semester 5 hingga wisuda juga ada nama  Bruder Thomas, MTB dari Kongregasi Maria Tak Bernoda.

“Tapi beliau tidak bisa hadir karena lumayan jauh dari Singkawang, Kalbar,” ujar aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan KNPI itu.

Perjuangan

Perjalanan Ayu menuntut ilmu pun tidak mudah. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan panjang dari Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember ke Lumajang yang memakan waktu sekita satu jam.

Baca Juga:  Belajar ke SD Mumtaz, Berangkat Dini Hari Temui Hal Lucu

Lelah tentu saja menghinggapi, namun tekad Ayu untuk menyelesaikan pendidikan dengan hasil terbaik tak pernah padam.

“Saya sangat bahagia dan terharu,” ucapnya. “Perjalanan ini tidak mudah, tetapi saya selalu percaya, kalau sudah memulai sesuatu, selesaikan sampai akhir, sekalipun sulit atau membosankan. Lakukanlah hal yang benar.”

Semangat pantang menyerah Ayu diakui oleh dosen dan rekan-rekannya. Ia menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain, terutama yang juga berjuang melawan keterbatasan.

“Ayu menunjukkan bahwa semangat, kerja keras, dan doa adalah kunci keberhasilan, meskipun banyak rintangan,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Lumajang Eny Nur Wahyuni, M.Psi. saat menyerahkan penghargaan kepada Ayu.

Ke depan Ayu berkeinginan melanjutkan kuliah S2. “Tapi jika tidak ada kesempatan, mungkin saya tetap menjadi guru,” kata guru SMPK Santo Lukas Kedungrejo, itu, Ahad (15/12/2024).

Kisah Ayu Lestari adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Ia berharap kisahnya dapat memotivasi banyak orang untuk tidak menyerah pada keadaan dan terus berjuang.

Baca Juga:  Belajar ke SD Mumtaz, Berangkat Dini Hari Temui Hal Lucu

“Hidup adalah perjalanan,” tutup Ayu penuh harapan. “Jangan pernah berhenti berjalan, meskipun jalannya sulit.” (#)

Jurnalis Umi Fauzia Yuniarsi Penyunting Mohammad Nurfatoni