Feature

Word Cafe Nasyiatul Aisyiyah, Ruang Meramu Gagasan Aksi Sosial

41
×

Word Cafe Nasyiatul Aisyiyah, Ruang Meramu Gagasan Aksi Sosial

Sebarkan artikel ini
Kader Muda NA merumuskan program aksi sosial lewat Word Cafe di Darul Arqam NA II. Mereka menghasilkan ide teologis hingga program ekonomi sirkular.
Kelompok 2 berdiskusi dengan gayeng di bawah langit senja. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kader Muda NA merumuskan program aksi sosial lewat Word Cafe di Darul Arqam NA II. Mereka menghasilkan ide teologis hingga program ekonomi sirkular.

Tagar.co — Para peserta Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) II PDNA Gresik berbondong-bondong menuju lantai 4 SMAM 1 Gresik (Smamsatu). Mereka naik tangga dari lantai 2, tempat menyimak materi sebelumnya, Sabtu (18/10/2025).

Setelah seharian belajar di dalam ruangan, Aula Matahari, akhirnya mereka beraktivitas di teras kantin. Di bawah langit senja yang jingga bercampur kekuningan, berbonus semilir angin sore dan lansekap pemandangan kota Gresik, para peserta semangat mendiskusikan beberapa isu yang tersedia.

Masing-masing kelompok menuju meja yang sudah tersedia selembar kertas bertuliskan isu. Setelah berhasil menyumbang beberapa ide untuk isu tersebut selama lima menit, kelompok tersebut berpindah ke meja lain.

Di setiap meja, satu anggota kelompok bertugas sebagai pemandu yang tinggal dan tidak ikut berkeliling. Pemandu bertugas mendampingi kelompok lainnya yang berkunjung di meja tersebut. Begitulah suasana Word Cafe di tengah DANA II hari pertama.

Baca Juga:  Ujian Sabar di Balik Cantiknya Tumpeng Meriah Penuh Garnish
Kader Muda NA merumuskan program aksi sosial lewat Word Cafe di Darul Arqam NA II. Mereka menghasilkan ide teologis hingga program ekonomi sirkular.
Kelompok 1 masih antusias berdiskusi meski kelompok lainnya sudah banyak yang meninggalkan lokasi. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ramu Resep Aksi Nyata

Setiap meja, para kader berdiskusi dengan gayeng. Salah satunya di meja 3. Di sana, pertanyaan yang tertera adalah: “Bentuk kegiatan apa yang bisa dilakukan NA untuk menjawab persoalan sosial di masyarakat (kemiskinan, pendidikan, kesehatan, digital, dll)?

Dzum Ma’isyatin Sahliyah dari PCNA Gresik, peserta yang tinggal sebagai pemandu di meja tersebut, mencatat dan mengarahkan diskusi. Dari kelompok 3, muncul ide yang merujuk pada prinsip dasar gerakan.

“Berpedoman pada teologi Al-Maun bahwa kita tidak hanya hablumminallah tapi juga hablumminannnas, Muhammadiyah langsung mengimplementasikan nyata dalam bentuk sekolah, rumah sakit, media tvmu, suara Muhammadiyah dan lain-lain,” demikian tulisnya merangkum ide perwakilan kelompok 3.

Setelah kedatangan kelompok 3, meja tersebut kedatangan kelompok 2. Sambil menggendong anaknya yang memegang balon biru, Faizatul Masruhah dari Departemen Dakwah PCNA Wringinanom menyampaikan pendapat. Dia mengusulkan program Berbenah: berbagi bersama Nasyiah, tiap Jumat untuk anak yatim, fakir miskin, dan janda tua.

Faizatul juga mengusulkan agar Nasyiah mengadakan pelatihan yang mendukung pendidikan di sekolah.  Peserta lain dari PCNA Balongpanggang, Dwi Rahmawati, turut menyumbangkan idenya, yaitu pelatihan artificial intelligence (AI).

Baca Juga:  Keputrian Spemdalas, Siswa Diajak Menjadi Muslimah Mandiri dan Bertanggung Jawab

Baca Juga: Jadi Generasi Sandwich, Peserta DANA II Gresik Diajak Memikirkan Transformasi Gerakan Sosial

Lahirkan Wawasan Baru

Melihat antusiasme peserta yang terus berkeliling ke hampir semua meja, master of trainer (MoT), Nur Aini Azizah dari PWNA Jatim, memberikan penegasan. “Tidak harus mengunjungi semua meja. Kalau sudah mengunjungi dua meja, sudah boleh turun ke lantai 3,” katanya.

Mendengar instruksi itu, kelompok 1 yang terlanjur mengunjungi meja 3 pun melanjutkan diskusi mereka. Nur Laila, anggota kelompok 1, menyarankan program galang donasi seragam dan alat tulis untuk yang membutuhkan.

Adapun peserta dari PCNA Sidayu, Norma Ismayucha, menyarankan pembuatan ekonomi sirkular terhadap masyarakat miskin. “Misal Bank Sampah untuk tambahan uang,” usul Norma.

Usai kegiatan, Intan Dina Fitri M.Pd. dari PCNA Dukun menyampaikan kesannya. Dia mengungkapkan, kegiatan Word Cafe tersebut telah membuka wawasan baru.

“Yang paling menarik adalah bagaimana setiap meja punya perspektif berbeda, tapi ketika digabung, muncul gambaran besar yang utuh. Jadi, interaktif juga antaranggota kelompok. Diskusinya jadi hidup,” tutup Intan.

Baca Juga:  Dari Jepara ke Mugeb: Api Kartini yang Tak Pernah Padam

Setelah sesi word cafe ini, peserta bersih diri dan persiapan salat Magrib berjemaah. Sebelum lanjut ke materi terakhir, mereka juga menikmati makan malam soto ayam. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni