Feature

UMM Kukuhkan Dua Guru Besar: Inovasi Pangan dan Agroforestri Jadi Fokus

32
×

UMM Kukuhkan Dua Guru Besar: Inovasi Pangan dan Agroforestri Jadi Fokus

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. (kanan) dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P.

Prof. Joko Triwanto dan Prof. Syarif Husen resmi menjadi guru besar UMM, membawa harapan peningkatan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani melalui teknologi dan agroforestri.

Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu, 29 November 2025, sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus.

Pengukuhan ini sekaligus menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura, yang berperan penting bagi ketahanan pangan.

Baca juga: UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Tegaskan Peran Kampus dalam Isu Ekologi, Kemanusiaan, dan Pendidikan Islam

Langkah tersebut sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM, yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P.

Produktivitas Kentang

Dalam pemaparannya, Prof. Syarif Husen menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan, produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton per hektar dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Kondisi ini terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut serta minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas

“UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar.

Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujar Prof. Syarif.

Lebih lanjut, ia menekankan kerja sama UMM dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan.

Prof. Syarif menilai, kerja kolaboratif semacam ini menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang.

Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. dalam pengukuhan Guru Besar UMM, Sabtu, (29/11/25)

Pemanfaatan Lahan

Sementara itu, Prof. Joko Triwanto menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Baca Juga:  Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Ia menyebut, model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan.

“Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujar Prof. Joko.

Dalam penjelasan lanjutnya, ia menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air.

Agroforestri, menurutnya, mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat.

Baca Juga:  Program Terpadu UMM: Lulus S1–S2 Cuma 5 Tahun

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan peran guru besar sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional.

“UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni