
Ketupat di Bangkalan tak sekadar makanan. Di balik anyamannya, tersimpan kisah tentang perubahan zaman dan bagaimana sebuah tradisi tetap bertahan—meski dengan wajah berbeda.
Oleh: Abdul Rahem, aktivis Ikatan Apoteker Indonesia di Bangkalan
Tagar.co – Hari Raya Ketupat bagi masyarakat Bangkalan bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan momen yang sarat filosofi, mencerminkan nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial yang mereka anut.
Perayaan ini merupakan titik kulminasi dari serangkaian tradisi yang mengajarkan rasa syukur, kebersamaan, dan kesederhuanaan—nilai-nilai yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Madura, khususnya di Bangkalan.
Filosofi Itu
Pada dasarnya, ketupat itu sendiri mengandung makna yang sangat filosofis. Dibungkus dengan daun kelapa dan direbus dalam waktu tertentu, ketupat menjadi simbol kesederhanaan. Daun kelapa yang diambil langsung dari alam melambangkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan, sekaligus menyadarkan pentingnya menjaga alam.
Ketupat yang terbuat dari nasi ini bukan sekadar makanan, melainkan lambang kehidupan itu sendiri. Sebagaimana nasi menjadi sumber kehidupan, ketupat menjadi simbol rezeki yang harus disyukuri.
Baca juga: Kupatan: Tradisi Lebaran yang Sarat Makna
Selain itu, anyaman daun kelapa yang membentuk ketupat juga menyimpan filosofi mendalam. Anyaman yang saling terkait menggambarkan hubungan antarsesama. Sebagaimana daun kelapa dianyam dengan hati-hati hingga membentuk sebuah wadah, demikian pula kehidupan sosial masyarakat Bangkalan—mereka diajarkan untuk saling mengikat hubungan yang kuat, menjaga tali persaudaraan, dan mempererat silaturahmi antartetangga, keluarga, dan teman.
Di balik bentuknya yang sederhana, proses pembuatan ketupat mengandung makna yang tak ternilai. Membuat ketupat, yang dulunya merupakan kegiatan keluarga, mengajarkan tentang kesabaran dan kerja sama.
Setiap keluarga terlibat dalam proses ini, bukan hanya untuk membuat ketupat, tetapi juga untuk menanamkan nilai gotong royong dan kebersamaan kepada anak-anak. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap setiap langkah kehidupan—bahwa keberkahan dan kesuksesan tidak datang begitu saja, melainkan melalui usaha, kerja keras, dan kolaborasi.
Hari Raya Ketupat di Bangkalan lebih dari sekadar tradisi kuliner. Ia adalah manifestasi dari filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui ketupat, masyarakat Bangkalan mengajarkan pentingnya kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur, sekaligus mengingatkan bahwa dalam setiap langkah kehidupan, kita selalu membutuhkan orang lain, dan bahwa segala usaha perlu dilandasi kesabaran dan ketulusan hati.
Transisi Tradisi Membuat Ketupat di Bangkalan
Dahulu, setiap rumah tangga di Bangkalan memiliki tradisi membuat ketupat secara mandiri. Menjelang Hari Raya Ketupat, keluarga-keluarga menyiapkan bahan-bahan, termasuk bumbu untuk membuat ladheh—sejenis kuah berbahan kelapa dan rempah khas, dengan lauk daging sapi atau ayam.
Proses ini bukan hanya soal menyiapkan makanan, melainkan juga menjadi momen kebersamaan. Ibu-ibu, anak-anak, bahkan tetangga ikut terlibat, dari merangkai daun kelapa hingga merebus ketupat dengan penuh kesabaran. Tradisi ini telah mengakar kuat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Hari Raya Ketupat. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati ketupat buatan sendiri yang masih hangat, disajikan bersama kuah ladheh dan aneka lauk khas Madura.
Ada yang Berubah?
Namun, seiring waktu dan perkembangan kehidupan perkotaan, tradisi ini mulai mengalami perubahan. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran signifikan dalam cara masyarakat Bangkalan merayakan Hari Raya Ketupat. Proses pembuatan ketupat yang dulu melekat di setiap rumah, kini tak lagi menjadi kewajiban.
Dengan munculnya pasar-pasar tumpah yang menjual ketupat siap saji, banyak keluarga memilih membeli ketupat daripada membuatnya sendiri. Pasar tumpah yang hadir sejak usai salat Subuh di Hari Raya Ketupat kini menawarkan beragam ketupat dengan menu yang menggoda. Para pedagang lokal berlomba-lomba menawarkan ketupat dengan cita rasa khas dan tampilan modern, dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang menggugah selera.
Alhasil, tidak semua rumah tangga lagi membuat ketupat sendiri. Proses yang dulu melibatkan waktu dan tenaga kini tergantikan oleh kepraktisan membeli. Ini mengubah dinamika sosial perayaan Hari Raya Ketupat. Banyak keluarga yang dulu berkumpul di dapur kini lebih memilih menghabiskan waktu untuk bersantai bersama, menikmati hidangan yang telah tersedia, sambil saling berbagi cerita.
Tetap Hidup
Meski demikian, semangat kebersamaan itu tidak lantas hilang. Pasar tumpah justru menjadi ruang baru berkumpulnya masyarakat, menciptakan suasana meriah dan hangat. Orang-orang saling berbincang, memilih ketupat dengan cermat, dan berbagi cerita—tetap menjaga silaturahmi yang menjadi inti perayaan ini.
Perubahan ini mencerminkan transformasi cara masyarakat beradaptasi dengan kehidupan modern. Meski perayaannya kini lebih praktis, nilai-nilai kebersamaan dan semangat berbagi tetap lestari. Ketupat, baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli di pasar, tetap menjadi simbol syukur, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Yang terpenting, semangat Hari Raya Ketupat di Bangkalan tetap hidup. Nilai-nilai luhur dari perayaan ini masih terjaga. Setiap hidangan ketupat yang disantap bersama keluarga atau tetangga menggambarkan kedamaian dan rasa syukur atas rezeki yang diterima. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, mengingatkan akan pentingnya kebersamaan, saling berbagi, dan menjaga harmoni dalam kehidupan.
Di Kota Bangkalan, Hari Raya Ketupat bukan semata perayaan. Ia adalah cerminan perjalanan budaya Madura yang terus beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya. Dengan keterlibatan generasi demi generasi, tradisi ini akan terus hidup dan berkembang, membawa semangat baru yang menyatukan masyarakat di tengah arus perubahan zaman. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












