
Kualitas puasa Ramadan ternyata bertingkat—mulai dari sekadar menahan lapar hingga menjaga hati sepenuhnya sebagai ahli waris Al-Qur’an.
Gresik — Hogi Caesar Budianto, S.Pd., menjadi khatib salat Jumat di Masjid At-Taqwa Giri, Cabang Muhammadiyah Kebomas, Gresik, Jumat (27/2/2026). Dalam khotbahnya, guru tahfiz SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio) itu mengulas tiga kelompok ahli waris Al-Qur’an dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Baca juga: Istikamah: Kunci Menjaga Ibadah agar Tidak Musiman
Di hadapan jemaah, Hogi mengawali dengan membacakan Surah Al-Fatir 32 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diwariskan kepada hamba-hamba pilihan Allah. Dalam ayat tersebut disebutkan tiga golongan: yang menzalimi diri sendiri, yang pertengahan, dan yang lebih dahulu berbuat kebaikan.
Mantan guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) itu kemudian mengurai ciri masing-masing kelompok dalam konteks ibadah puasa.
Kelompok pertama adalah zalimulinafsih, yakni golongan terendah. Menurut Hogi, kelompok ini tetap menjalankan kewajiban, tetapi belum meninggalkan perbuatan haram.
“Puasa kelompok ini adalah puasa fisik yang hanya sebatas menahan lapar, dahaga, dan pemenuhan nafsu biologis secara lahir. Ini adalah tingkatan paling dasar,” tegas Hogi yang selalau berpakaian ala Timur Tengah—mengenakan jubah putih panjang dipadukan dengan shemagh alias keffiyeh kotak-kotak merah-putih yang menutup kepala.
Kelompok kedua adalah muktashid atau golongan pertengahan. Hogi menjelaskan, mereka telah beriman kepada Al-Qur’an serta berusaha menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan, meski belum konsisten mengerjakan amalan sunah atau masih melakukan sebagian perkara makruh.
Pada level ini, kualitas puasa sudah meningkat. “Puasa muktashid melangkah lebih jauh dari puasa awam, yakni mampu mengendalikan pancaindra dan anggota tubuh dari perbuatan dosa maupun hal sia-sia,” ujarnya.
Adapun kelompok ketiga adalah sabikunabilkhairat, yaitu golongan terdepan yang benar-benar menjadi pewaris Al-Qur’an.
Hogi—peraih juara kedua lomba imam tingkat Provinsi Jawa Timur pada Festival Anak Saleh Muhammadiyah (Fashmu) 2025 di Universitas Muhammadiyah Surabaya—menyebut kelompok ini sebagai ahlul Qur’an.
Mereka, lanjutnya, tidak hanya rajin membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain menunaikan yang wajib dan sunah, mereka juga menjauhi yang haram, makruh, bahkan sebagian perkara mubah.
Menurut Hogi, puasa pada level sabikunabilkhairat merupakan puncak kualitas ibadah.
“Pada tingkatan ini, seseorang bukan hanya menahan fisik dan menjaga diri, tetapi juga memelihara hati dari pikiran-pikiran selain Allah Swt.,” ujarnya. (#)
Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni






