
Istikamah menjadi kunci agar semangat ibadah tidak berhenti setelah Ramadan. Melalui kajian di Masjid At-Taqwa Giri, jemaah diajak menjaga konsistensi amal sepanjang waktu.
Tagar.co — Sekitar 500 jemaah memadati Masjid At-Taqwa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur, dalam kajian menjelang buka puasa, Kamis (26/2/2026).
Takmir menghadirkan Arie Musayyaf Al Afghany, M.Pd., yang mengajak jemaah menjaga istikamah sebagai kunci merawat kualitas keimanan, khususnya selepas Ramadan.
Baca juga: Puluhan Siswa SD Almadany Ramaikan Lomba Mewarnai Damar Kurung
Sejak awal, suasana kajian berlangsung khidmat. Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu membuka ceramah dengan hadis riwayat Muslim, Ahmad, Tirmidi, dan Ibnu Majah dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi.
Dalam hadis tersebut, seorang sahabat meminta satu nasihat ringkas kepada Rasulullah Saw. Nabi menjawab:
“Katakanlah, ‘Aku beriman,’ lalu beristikamahlah.”
Menurut Ustaz Arie, sapaan akrabnya, hadis ini merupakan wasiat yang sangat komprehensif. “Istikamah adalah meniti jalan yang lurus—agama yang lurus—tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Ia mencakup seluruh ketaatan lahir dan batin serta meninggalkan semua yang dilarang,” ujarnya.
Ukuran Istikamah
Ia menegaskan bahwa tolok ukur istikamah adalah kesesuaian dengan agama yang lurus, bukan penilaian manusia.
Seorang muslim harus menjalankan ketaatan sebagaimana diperintahkan—tanpa melampaui batas dan tanpa mengikuti hawa nafsu—meskipun orang lain menilai berlebihan atau justru kurang.
Ustaz Arie kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Hud 112:
“Maka beristikamahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Ia juga memberi padanan lokal bahwa dalam bahasa Jawa, istikamah dapat dimaknai sebagai jejek atau ajek, yakni teguh dan konsisten di jalan yang lurus.
Ramadan Jangan Sekadar Musiman
Dalam pemaparannya, Ustaz Arie mengingatkan agar Ramadan tidak hanya menjadi momentum musiman. Ia mendorong jemaah memperbanyak kuantitas sekaligus memperbaiki kualitas ibadah selama bulan suci.
“Ibarat Ramadan parade keimanan, tetapi begitu masuk Syawal justru berubah menjadi parade kemaksiatan,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak jemaah menjaga kesinambungan amal seperti tilawah Al-Qur’an, salat malam, dan sedekah. Menurutnya, keberhasilan Ramadan justru diukur dari konsistensi setelahnya.
Ia juga menekankan bahwa proses menuju istikamah memang tidak instan. “Ibadah itu awalnya harus dipaksa. Lama-lama akan terbiasa, dan akhirnya kita akan mencintainya,” ujarnya.
Cara Menjaga Istikamah
Agar tetap berada di jalur yang lurus, Ustaz Arie menawarkan beberapa langkah praktis.
Pertama, membiasakan diri aktif dalam aktivitas ibadah. Lingkaran ibadah, jelasnya, akan menjadi lingkungan yang menjaga konsistensi spiritual seseorang.
Kedua, memperbanyak menghadiri majelis ilmu. Ia mengibaratkan majelis ilmu seperti pengisi daya. “Ibarat smartphone, majelis ilmu adalah charger yang mengisi dayanya,” tuturnya.
Ketiga, mengistikamahkan lisan dengan zikir dan membaca Al-Qur’an. Ia menekankan bahwa istikamah akan terasa berat jika lisan tidak dilatih.
Ustaz Arie juga memberikan tips praktis mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sebulan menggunakan mushaf cetakan Madinah. Dengan membaca dua lembar setiap selesai salat fardu, seorang muslim dapat menamatkan satu juz dalam tiga hari dan khatam dalam satu bulan.
Peringatan Keras tentang Ramadan
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustaz Arie menyampaikan hadis riwayat Ibnu Khuzaimah yang disahihkan oleh Syekh Al-Albani. Hadis itu menceritakan momen ketika Nabi Saw. mengucapkan “amin” tiga kali saat naik mimbar, menandai doa Malaikat Jibril.
Di antara isi doa tersebut adalah kecelakaan bagi orang yang mendapati Ramadan tetapi tidak memperoleh ampunan Allah. Peringatan ini, menurutnya, menunjukkan betapa besar peluang sekaligus risiko di bulan suci.
Pentingnya Doa
Menutup kajian, ia mengingatkan bahwa istikamah bukan semata hasil usaha manusia, tetapi juga karunia Allah. Karena itu, setiap muslim perlu terus memohon keteguhan hati.
Ia mengutip doa yang paling sering dipanjatkan Nabi Saw.:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Ya Mukalibalkulub, tsabbit kalbi ‘ala dinik (Wahai Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Usai kajian, jemaah bersiap berbuka dengan air mineral dan kurma, lalu melaksanakan salat Magrib berjemaah.
Takmir Masjid At-Taqwa Giri menyiapkan sekitar 500 paket takjil. Untuk menjaga ketertiban, panitia membagikan kupon kepada jemaah saat memasuki masjid yang dapat ditukarkan ketika keluar. (#)
Jurnalis Mahfudz Efendi dan Eli Syarifah | Penyunting Mohammad Nurfaoni












