
Setiap malam 17 Agustus, warga berkumpul merayakan kemerdekaan dengan tasyakuran. Tapi di balik hidangan lezat, terselip tantangan: bagaimana menjaga semangat syukur tanpa menambah beban sampah bagi bumi?
Oleh Mochammad Nor Qomari, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik.
Tagar.co – Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan dengan suka cita. Sebelumnya, pada 16 Agustus malam, di berbagai sudut negeri, digelar tasyakuran sebagai wujud syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga momen refleksi: mengingat jerih payah pendiri bangsa dan mensyukuri nikmat kemerdekaan yang kita nikmati sejak 1945.
Baca juga: Lomba Kebersihan Lingkungan: Mengurangi atau Menambah Sampah?
Tasyakuran malam 17 Agustus menjadi agenda rutin warga, dari kota besar hingga pelosok desa. Biasanya, acara berlangsung di balai RT/RW, sepanjang jalan, atau lapangan desa—semuanya hasil swadaya dan gotong royong. Warga dari berbagai usia dan latar belakang berkumpul, saling sapa, dan berbagi cerita dalam suasana penuh keakraban.
Rangkaian acaranya lazim dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan teks Proklamasi dan Pancasila, lalu renungan kemerdekaan yang dibawakan tokoh masyarakat atau sesepuh. Doa bersama mengiringi harapan agar bangsa ini tetap jaya.
Setelah itu, suasana mencair lewat pentas seni lokal, pembagian doorprize, dan tentu saja, makan bersama. Di sinilah pertanyaan klasik muncul: mau pakai tumpengan atau kotakan?
Makan bersama dalam tasyakuran biasanya menyajikan hidangan khas penuh makna: nasi tumpeng, nasi kuning, urap, klepon merah putih, hingga bubur merah putih. Setiap daerah punya cara dan menu sendiri, sesuai kearifan lokal.
Cara penyajiannya pun beragam—tumpeng besar yang dikerubuti warga, liwetan dengan alas daun pisang, kotakan praktis, atau talaman di atas nampan. Semuanya biasanya hasil sumbangan sukarela warga, simbol nyata kebersamaan.
Namun, di balik kemeriahan ini, ada catatan penting yang jarang dibicarakan: sampah makanan. Menurut Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP), Indonesia menempati posisi kedelapan penyumbang sampah makanan terbesar di dunia—14,73 juta ton per tahun, atau 2,33 persen dari total global.
Artinya, rasa syukur sebaiknya tak berhenti di perut kenyang. Ia perlu diwujudkan dalam sikap bijak terhadap lingkungan. Ada empat langkah sederhana yang bisa diterapkan: Cegah, pilah, olah, kampanyekan.
Pertama, cegah timbulnya sampah dengan memilih menu yang tepat dan metode penyajian minim limbah. Kedua, pilah sampah organik dan anorganik selama dan setelah acara.
Ketiga, olah sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, atau makanan ternak, sementara sampah anorganik didaur ulang. Terakhir, kampanyekan keberhasilan pengelolaan ini di grup WhatsApp RT/RW atau media sosial, agar jadi teladan bagi warga lain.
Tasyakuran kemerdekaan seharusnya tak hanya menjadi simbol kebersamaan, tetapi juga ajang menunjukkan tanggung jawab sosial dan kepedulian lingkungan. Jadi, di peringatan ke-80 kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, mau tumpengan atau kotakan? Pilihan ada di tangan kita—asal tetap bijak dan minim sampah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












