Feature

Tanda Amal Diterima: Antara Harap dan Cemas

704
×

Tanda Amal Diterima: Antara Harap dan Cemas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Seorang mukmin sejati selalu menjaga amalnya dengan harap dan takut. Bukan sekadar banyaknya ibadah, tetapi keikhlasan dan kesesuaian dengan sunnah yang menentukan diterimanya amal.

Telaah oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Di antara tanda seorang mukmin sejati adalah adanya rasa takut jika amal yang dikerjakan tidak diterima oleh Allah Subhanahuwataala. Kekhawatiran ini bukan karena mereka ragu akan rahmat Allah, tetapi karena mereka memahami bahwa diterimanya amal bukan hanya bergantung pada kuantitas, tetapi juga pada kualitas dan keikhlasan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu’minun: 60)

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Qur’an dengan Tartil: Menyentuh Hati dan Menenangkan Jiwa

Ketika ayat ini diturunkan, Ummul Mukminin Aisyah Radiyallahuanha bertanya kepada Rasulullah Salallahualaihiwasalam:

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri?”

Baca Juga:  Menjadi Hamba, Bukan Aktor: Makna Ikhlas dalam Ibadah

Maka Rasulullah menjawab:

“Tidak wahai Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan salat, dan bersedekah, tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (H.R. Tirmidzi No. 3175, dihasankan oleh Al-Albani)

Jangan Tertipu dengan Banyaknya Amal

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

“Bukanlah yang terpenting dari ibadah adalah banyaknya, tetapi kesempurnaan dalam menunaikannya dengan keikhlasan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah .”

Allah  berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sementara mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.'” (Al-Kahfi: 103-104)

Betapa banyak manusia yang mengira dirinya telah beramal saleh, tetapi di sisi Allah amalnya tertolak karena kurangnya keikhlasan atau tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Baca Juga:  Jangan Merasa Lebih Baik

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari No. 1, Muslim No. 1907)

Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan banyaknya ibadah, tetapi perhatikanlah kualitasnya.

Tanda Amal Diterima: Konsistensi dalam Kebaikan

Salah satu tanda bahwa amal diterima oleh Allah adalah keberlanjutan seseorang dalam melakukan amal kebaikan. Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.” (H.R. Bukhari No. 6464, Muslim No. 782)

Jika seseorang setelah melakukan suatu amal kebaikan terus berusaha menjaganya, maka itu adalah pertanda bahwa amalnya diterima. Sebaliknya, jika setelah beramal ia kembali kepada kemaksiatan, maka dikhawatirkan amalnya tidak diterima.

Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya setelah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.” (An-Nahl: 92)

Baca Juga:  Warisan Abadi: Salat dan Doa Seorang Ayah

Ini adalah perumpamaan bagi orang yang telah berbuat kebaikan, tetapi kemudian merusaknya dengan kembali kepada kemaksiatan.

Bagaimana Agar Amal Kita Diterima?

  • Niat yang Ikhlas
  • Sesuai dengan Sunnah
  • Menuntut Ilmu
  • Menjaga Konsistensi
  • Tidak Sombong dan Merasa Cukup

Teruslah Beramal

Seorang mukmin sejati selalu berada di antara harapan dan ketakutan. Harapan bahwa Allah akan menerima amalnya, tetapi juga ketakutan jika amalnya tertolak. Sikap ini akan menjadikan seseorang lebih rendah hati, lebih bersungguh-sungguh dalam beramal, dan lebih banyak meminta ampunan kepada Allah.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Maka marilah kita terus meningkatkan kualitas amal kita dengan ilmu, keikhlasan, dan kesungguhan, seraya berharap kepada Allah agar Dia menerima amal kita dan menjadikannya sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni