
Chairil Anwar hari ini hidup kembali di ruang publik. Baris sajaknya Aku mau hidup seribu tahun lagi kerap muncul di mural kota, poster demonstrasi mahasiswa, hingga unggahan media sosial.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.
Tagar.co – Chairil Anwar menyusun puisi sengaja untuk menggebuk, mengganggu, memecah kebiasaan, dan merobek kenyamanan bahasa.
Di zamannya, ia dianggap liar, tidak sopan, bahkan terlalu individualistis. Justru dari kegelisahan itu puisi Indonesia menemukan denyut baru yang kontemporer.
Hari ini, ketika hidup makin tertata secara administratif tetapi miskin makna, Chairil Anwar terasa kembali relevan.
Kehidupan Chairil jauh dari romantisasi seniman besar. Ia hidup berpindah-pindah, miskin, sering sakit, dan bergantung pada solidaritas kawan.
Ia keras kepala, sulit diatur, dan kerap berbenturan dengan lingkungannya. Hidupnya tidak rapi, tetapi puisinya jujur.
Dia menulis bukan dari menara gading, melainkan dari kamar sempit, tubuh lelah, dan batin yang menolak tunduk pada keadaan.
Perlawanan Diri
Sajak Aku adalah ledakan paling telanjang dari sikap hidup dia. Sejak baris pertama, ia menolak posisi sebagai korban.
Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
Baris ini bukan sekadar metafora, melainkan pengakuan sadar atas keterasingan. Dia tidak meminta tempat. Ia menciptakan ruangnya sendiri. Penegasan sikap itu mencapai puncaknya pada baris
Biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang
Ini bukan keberanian heroik yang dipamerkan, melainkan keberanian eksistensial. Keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri meski konsekuensinya berat.
Karena itulah Aku terus hidup lintas generasi. Dibaca ulang oleh mereka yang merasa terpinggirkan, tertekan, atau tidak menemukan tempat dalam sistem yang rapi tapi dingin.
Berbeda dengan Aku yang individual, sajak Karawang–Bekasi adalah suara kolektif. Chairil Anwar menanggalkan egonya dan berbicara atas nama mereka yang gugur.
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tidak ada glorifikasi perang. Yang hadir justru keheningan, kehilangan, dan amanah moral.
Chairil menutup sajak itu dengan peringatan halus namun keras:
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Sajak ini menempatkan kemerdekaan sebagai tanggung jawab etis. Ia menuntut kesinambungan nilai, bukan upacara.
Hidup Lagi
Menariknya, sosok Chairil Anwar hari ini hidup kembali di ruang publik. Baris Aku mau hidup seribu tahun lagi kerap muncul di mural kota, poster demonstrasi mahasiswa, hingga unggahan media sosial generasi muda yang berbicara tentang kecemasan hidup, tekanan kerja, dan ketidakpastian masa depan.
Dalam beberapa aksi mahasiswa pasca-reformasi, kutipan puisi itu dipakai bukan sebagai hiasan sastra, melainkan sebagai bahasa perlawanan.
Ia menjadi medium ekspresi bagi generasi yang merasa hidupnya dikontrol sistem, target, KPI, IPK, algoritma, tetapi kehilangan ruang untuk jujur pada diri sendiri.
Di ruang pendidikan, ironi juga terlihat. Sajak-sajaknya diajarkan sebagai teks ujian, bukan sebagai pengalaman hidup.
Siswa diminta menghafal majas, tetapi tidak diajak memahami mengapa seorang penyair berani menulis sekeras itu di usia muda, dalam kondisi miskin dan sakit.
Akibatnya, Chairil terasa jauh, padahal justru sangat dekat dengan kegelisahan generasi sekarang.
Fakta bahwa puisinya lebih hidup di jalanan dan media sosial ketimbang di kelas adalah kritik diam-diam terhadap cara kita memperlakukan sastra: dirapikan, disterilkan, lalu dijauhkan dari denyut hidupnya sendiri.
Chairil Anwar tidak pernah menawarkan ketenangan. Ia menawarkan keberanian.
Keberanian untuk gelisah, untuk tidak patuh secara buta, dan untuk mengakui luka tanpa basa-basi. Itulah sebabnya ia terus dibaca, dikutip, dan diperebutkan maknanya.
Selama masih ada manusia yang merasa terasing di tengah keramaian, selama hidup diukur lebih sering oleh angka daripada makna, sajak-sajak Chairil akan terus menemukan rumah baru.
Ia mengganggu karena memang harus mengganggu. Ia gelisah karena dunia tidak pernah benar-benar beres.
Justru karena itu, sinisme Chairil Anwar tetap diperlukan hari ini. Selama keresahan, gelisah, penindasan, dan ketidakadilan masih bercokol di bumi. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












