
Seminar inspiratif tentang kelelahan mental pada ibu menggema di aula SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik. Ketua Ikwam mengupas gejala, penyebab, dan cara mengatasinya agar ibu tidak mudah stres.
Tagar.co – Suasana Averroes Hall SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) pada Selasa (16/9) terasa istimewa. Riuh canda dan obrolan hangat terdengar dari para ibu muda yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Ikatan Wali Murid (Ikwam) dan Koordinator Kelas (Korlas) alias Formilas. Mereka berkumpul untuk mengikuti Seminar Perempuan Inspiratif bertema “Mengenali Gejala Burnout Kelelahan Mental pada Ibu”.
Doa oleh Syaiful Rizal, S.Pd., dan tilawatil Qur’an oleh Hafiz dari kelas VI Cello mengawali pertemuan pagi itu. Selanjutnya, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Rizka Navila Safitri, S.Pd., Gr., memberikan sambutan. Begitu pula Ketua Ikwam periode 2025-2027, Nugraini Pratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Sebelum memulai pemaparan, wanita yang akrab dengan sapaan Aini tersebut, mengajak para peserta untuk menyaksikan video pendek dan mengenali diri sendiri. “Menurut Aristoteles, sebaik-baik manusia adalah dia yang mengenali dirinya sendiri. Proses mengenali diri itu sangat panjang. Mulai dari kita lahir, segala peristiwa, juga trauma yang membentuk kita sampai hari ini,” jelasnya.
Aini menerangkan, pengalaman hidup berperan besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Hal itu terlihat dari cara seseorang mengelola emosi, menghadapi masalah, dan menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Ia menyebut kesadaran ini sebagai mindfulness.
“Mindfulness itu kesadaran terhadap apa yang kita rasakan. Kesadaran terhadap apa yang terjadi pada diri kita. Kadang kita tidak mindful. Badan kita di sini, tapi pikiran kita di tempat lain,” paparnya.
Mental Skill
Aini menegaskan pentingnya penguasaan teknik pengenalan diri. Keterampilan ini, menurutnya, menentukan apakah stres yang ibu rasakan masih dalam batas wajar dan apakah seseorang dapat menjadi sosok yang tangguh (tough) dalam menghadapi segala situasi.
“Proses pengenalan diri ini memerlukan mental skill, dan keterampilan ini tidak bisa kita dapatkan secara instan. Proses ini membutuhkan waktu dan dapat menentukan seperti apa kepribadian kita dan apakah kita mengalami gangguan pada mental kita,” tuturnya.
Ia menjelaskan, ibu menjadi sosok yang rentan terhadap stres karena rutin menghadapi tuntutan dan peran ganda. Seperti menjadi manajer keuangan, koki, dokter, dan sebagainya. Tuntutan untuk selalu mampu pun, kata Aini, sering kali mendorong ibu melebihi batas kemampuannya, sehingga rentan mengalami stres.
“Tidak ada wonder wowmom atau super wowmom. Yang ada hanya bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengetahui kapasitas kita sehingga semua dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak perlu mengikuti standar orang lain hanya untuk terlihat pantas, apalagi sempurna,” kata Aini.

Perbedaan Stres Biasa dan Burnout
Menurut Aini, setiap ibu memiliki karakter berbeda. Ada beberapa yang memiliki trauma atau pengalaman buruk yang dapat memengaruhi kondisi mental atau psikologis, hingga menyebabkan kelelahan ekstrem atau burnout.
Lebih lanjut, Aini menjelaskan, burnout adalah keadaan kelelahan mental akibat tuntutan yang terlalu banyak secara terus-menerus. Ia juga membedakan burnout dengan stres “biasa”.
Stres “biasa” dapat teratasi dengan waktu me time seperti pergi ke salon atau menonton film. Sementara itu, burnout tidak bisa teratasi hanya melalui kegiatan refreshing saja, melainkan membutuhkan proses healing.
“Jadi, Ibu-Ibu, proses healing ini tidak bisa hanya dengan berwisata, berbelanja, atau menyaksikan drama Korea. Kegiatan itu namanya refreshing. Sementara, kalau healing itu prosesnya dengan melakukan prosedur terapi,” jelasnya.
Aini kemudian menjabarkan definisi burnout menurut Freudenberger. Tandanya, emotional exhaustion atau kelelahan emosional. Ia juga menekankan, ekspektasi orang lain tidak menentukan diri seseorang, melainkan diri sendiri yang harus mampu menghadapi berbagai hal.
Berpikir positif dan berprasangka baik pada Allah SWT adalah salah satu cara mengelola emosi. Selain itu, Aini memaparkan berbagai faktor yang memicu burnout syndrome. Di antaranya jenis kelamin (perempuan lebih rentan), pendidikan, dukungan sosial, lama bekerja, tipe kepribadian (perfeksionis atau tidak), dan status pernikahan.
Menurut Aini, tanda ibu membutuhkan istirahat adalah sering berada di titik puncak kesabaran. Jika hal ini terjadi, ibu dapat merencanakan waktu berdua bersama pasangan.
“Tidak harus bepergian jauh, berdiskusi berdua di atas tempat tidur (pillow talk) dengan pasangan bisa menjadi salah satu cara melepaskan stres,” terangnya.
Mengatasi Burnout dengan Hormon Positif
“Kalau malam, suami boro-boro pillow talk, paling juga scroll handphone. Bila situasinya seperti itu, mungkin cara penyampaiannya bisa diperhalus lagi supaya suami tidak berpikir istri akan mengomel,” imbuh Aini.
Ciri lain yang menunjukkan ibu membutuhkan istirahat adalah mulai mengabaikan kebutuhan pribadi, baik emosional maupun fisik, serta mengalami masalah tidur. Selanjutnya, ada dua tanda burnout lain, yaitu cynicism and detachment serta decreased sense of accomplishment.
“Cynicism adalah suatu titik di mana kita mulai memiliki pemikiran negatif terhadap orang lain yang muncul akibat kelelahan dan akhirnya berdampak pada kinerja kita,” ungkapnya.
“Decreased sense of accomplishment adalah penurunan kualitas hidup kita. Kualitas tidur, kualitas makan, dan kualitas kita bergaul dengan orang lain jadi berkurang,” imbuh Aini.
Menurut Aini, ketiga hal ini akan sangat berbahaya jika terjadi secara bersamaan tanpa penanganan. Kondisi ini dapat membakar diri seseorang dan berkembang menjadi depresi.
Gejala fisik dan perilaku yang perlu ibu waspadai ialah mudah sakit lambung, psikosomatis, mudah panik dan cemas, nyeri tulang, meningkatnya tekanan darah, mudah menangis tanpa sebab, sulit konsentrasi, produktivitas menurun, suka mengasingkan diri, merasa tidak ingin ada yang mengganggu, dan perubahan pola makan dan tidur.
Aini juga menyampaikan cara mengatasi situasi tersebut. Yakni dengan mengaktifkan hormon positif seperti dopamin, endorfin, oksitosin, dan serotonin yang berkaitan erat dengan suasana hati dan emosi.
Untuk mengaktifkan hormon-hormon tersebut, Aini mempraktikkan salah satu cara, yaitu butterfly hug. “Salah satu cara mengaktifkan hormon tersebut adalah dengan melakukan butterfly hug. Kita bisa membentuk kedua telapak tangan kita seperti sayap, lalu tempelkan di dada. Pejamkan mata dan berikan afirmasi positif kepada diri, seperti mengucapkan rasa terima kasih atas apa yang kita lakukan,” jelasnya.
Seminar berakhir dengan sesi terapi relaksasi agar para bunda peserta seminar dapat merasa lebih segar dan mencapai fase mindfulness. (#)
Jurnalis Septemdira Intan Sari Suprobowati Penyunting Sayyidah Nuriyah












