
Dari rumah hingga ruang publik, Siti Khadijah menghadirkan teladan bahwa perempuan beriman dapat menjadi pilar keluarga sekaligus penggerak peradaban.
Oleh Kemas Adil Mastjik Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jawa Timur
Tagar.co – Pada suatu hari Rasulullah Saw. menyebut-nyebut Khadijah sedemikian rupa sehingga Aisyah merasa iri dan cemburu.
Dikatakan oleh Aisyah, “Dia seorang wanita tua bangka. Bukankah Allah telah memberikan penggantinya kepada Anda seorang wanita muda yang lebih baik?”
Ketika itu Muhammad Saw. tampak gusar, lalu berkata:
“Tidak! Demi Allah! Allah tidak memberi penggantinya kepadaku seorang wanita yang lebih baik daripada Khadijah! Ia beriman kepadaku di saat semua orang masih mengingkari kerasulanku. Ia mempercayai kebenaran risalahku di saat semua orang masih mendustakan diriku.
Ia membantuku dengan harta kekayaannya di saat belum ada seorang pun yang bersedia membantuku. Melalui dia Allah mengaruniaku beberapa orang anak, sedang dari wanita-wanita yang lain (istri-istri beliau yang lain) tidak!” (Al-Hamid Al-Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Muhammad Saw., 1990, hlm. 246)
At-Tahirah
Di tengah masyarakat Quraisy yang kental dengan budaya patriarki dan ketimpangan gender, muncul sosok perempuan luar biasa bernama Siti Khadijah binti Khuwailid. Ia bukan sekadar istri pertama Nabi Muhammad Saw., melainkan figur perempuan dengan kedudukan sangat tinggi dan terhormat di tengah kaumnya.
Kedudukan itu lahir dari perpaduan nasab mulia, kemandirian ekonomi, serta integritas pribadi yang kokoh—sebuah teladan yang relevan sepanjang zaman.
Siti Khadijah berasal dari Bani Asad, salah satu kabilah terpandang Quraisy. Ayahnya, Khuwailid bin Asad, dikenal sebagai tokoh terhormat Makkah. Dalam masyarakat yang sangat menilai garis keturunan, nasab ini memberikan legitimasi sosial yang kuat.
Namun kemuliaan Khadijah tidak berhenti pada nasab. Ia memantapkan martabatnya dengan akhlak dan reputasi moral yang tinggi sehingga dijuluki At-Tahirah—perempuan yang suci dan terjaga kehormatannya.
Lebih dari itu, Siti Khadijah adalah perempuan yang mandiri secara ekonomi. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses yang mengelola perdagangan lintas wilayah hingga ke Syam dan Yaman. Para lelaki Quraisy bekerja membawa barang dagangannya, termasuk Nabi Muhammad Saw. sebelum masa kenabian.
Fakta ini menunjukkan bahwa di tengah struktur sosial yang membatasi perempuan, Khadijah mampu tampil sebagai aktor ekonomi yang berpengaruh tanpa kehilangan kehormatan dan adab.
Integritas pribadi Siti Khadijah tampak jelas dalam pilihan hidupnya. Ia menolak banyak lamaran pembesar Quraisy dan memilih Nabi Muhammad Saw. karena kejujuran dan kemuliaan akhlak, bukan semata-mata karena status atau harta. Pilihan ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki hak menentukan masa depannya berdasarkan nilai, bukan tekanan sosial.
Penopang Iman
Ketika wahyu pertama turun dan Nabi pulang dalam keadaan gemetar, Siti Khadijah tampil sebagai penopang iman dan ketenangan. Terkait hal itu, ucapannya yang masyhur menjadi bukti kecerdasan spiritual dan ketajaman nurani seorang istri sekaligus mukminah:
“Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu orang yang tertimpa musibah.” (Bukhari)
Al-Qur’an menegaskan kemuliaan manusia tanpa membedakan jenis kelamin: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)
Ayat ini sejalan dengan keteladanan Siti Khadijah bahwa kemuliaan perempuan terletak pada takwa, kontribusi, dan akhlak, bukan semata peran domestik atau publik.
Rasulullah Saw. sendiri memberikan penghormatan luar biasa kepada Khadijah. Beliau Saw. bersabda: “Sebaik-baik wanita di dunia adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.” (Bukhari dan Muslim)
Cahaya Dakwah
Bagi perempuan Muslim masa kini, Siti Khadijah adalah model ideal yang utuh: beriman, cerdas, mandiri, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial tanpa tercerabut dari nilai-nilai Islam.
Ia membuktikan bahwa perempuan dapat berkiprah di ruang publik, mengelola ekonomi, mendukung dakwah, dan tetap menjadi pilar keluarga.
Di era modern, ketika perempuan sering dihadapkan pada dikotomi antara karier dan nilai agama, teladan Siti Khadijah mengajarkan keseimbangan. Islam tidak mematikan potensi perempuan, melainkan mengarahkannya agar bernilai ibadah dan maslahat.
Meneladani Siti Khadijah berarti menghadirkan perempuan yang berdaya sekaligus bertakwa, kuat dalam prinsip, dan lembut dalam akhlak.
Dari rumah hingga ruang publik, dari keluarga hingga masyarakat, perempuan Muslim dipanggil untuk menjadi cahaya—sebagaimana Khadijah menjadi cahaya pertama dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw.
Semoga lahir kembali “Khadijah-Khadijah” masa kini yang menguatkan umat dengan iman, ilmu, dan keteladanan. Wallahualam. (#)
Penyuntuing Mohammad Nurfatoni












