
SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik memberikan persembahan puisi dan bingkisan raksasa sebagai apresiasi atas dedikasi jajaran Majelis Dikdasmen PNF PCM GKB dalam menyejahterakan guru dan karyawan.
Tagar.co — Jarum jam menunjukkan pukul 08.40 WIB ketika agenda Pengarahan Majelis bagi guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) berakhir, Jumat (2/1/2025).
Suasana serius di aula sekolah ramah anak tersebut mendadak berubah. Usai menyambut hari pertama kerja setelah libur semester I, pihak sekolah menyiapkan persembahan spesial nan hangat untuk tiga jajaran majelis yang hadir.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB Gresik, Fiqih Risalah Ph.D., Sekretaris Kaswandi, serta Anggota Luthfi Arif M.Pd., dipersilakan berdiri di barisan depan. Marketing Mugeb, Nur Hakiki M.Pd., yang turut berdiri di depan membacakan puisi. Iringan musik instrumental mengalun lembut saat perempuan yang akrab dengan sapaan Kiky itu mulai membacakan baris-baris puisi yang ia susun sendiri.
“Saya di sini bukan untuk syahril Al-Qur’an apalagi berdendang. Saya di sini mewakili teman-teman untuk memberikan satu persembahan. Bukan tanpa alasan kami di sini datang, bukan karena sego sak pulukan apalagi hanya untuk bertemu panjenengan,” ucap Kiky dengan penuh penghayatan.
Kiky melanjutkan, guru dan karyawan memiliki tujuan mulia untuk mendidik generasi berakhlak bukan sekadar karena gaji, melainkan panggilan hati. Ia menegaskan, langkah tersebut mustahil terwujud tanpa dukungan jajaran majelis. Sebagai simbol rasa terima kasih, ia menyisipkan humor dalam baitnya.
“Kebaikan Bapak Majelis seperti Beng-Beng yang istimewa,” cetusnya.
Sesaat kemudian, Koordinator IT Mugeb, Indra Setiawan S.Pd., muncul membawa sebuah bungkus Beng-Beng berukuran raksasa. Ia menyerahkannya langsung kepada Fiqih Risalah. Sontak, tawa pecah dan tepuk tangan gemuruh memenuhi ruangan.

Salonpas untuk Sang Pemikir
Kiky tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan pembacaan puisi bak Beng-Beng dengan rima yang menggelitik namun sarat makna. Ia menggambarkan bagaimana perhatian majelis membuat dompet para staf tidak lagi “kekeringan”. Ia pun mengakui betapa berat beban pikiran para pengurus majelis dalam mengelola lembaga pendidikan.
“Manis cokelatnya tebal, bikin kita makin sejahtera. Baiknya berlapis empat kelezatan; sabar, baik, bijak, dan dermawan. Saya yakin memikirkan kami bukan perkara yang mudah, kadang bikin pusing dan otak mikir empat sekolah. Tapi tidak perlu khawatir, Salonpas solusinya,” tutur Kiky.
Seiring berakhirnya bait tersebut, Koordinator Sarpras Mugeb, M. Fani Hidayatullah M.Pd., keluar membawa sebungkus Salonpas raksasa. Ia menyerahkan bingkisan unik itu kepada Kaswandi. Aksi teatrikal ini kembali mengundang gelak tawa dari seluruh peserta yang hadir di aula.
Kiky menutup rangkaian puisinya dengan pesan agar para pimpinan tetap sehat demi menjalankan ibadah melalui pengabdian di dunia pendidikan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga stamina di tengah kesibukan yang padat.
“Kalau sudah, bolehlah lanjut memikirkan sekolah. Insyaallah berkah dan bernilai ibadah. Sebab tanpa majelis, langkah kami pasti tertunda. Selalu minum Tolak Angin agar sehatnya tidak bercanda. Orang pintar, minum Tolak Angin memang jargonnya,” seru Kiky dengan semangat.
Giliran petugas keamanan (Satpam) Mugeb, Eko, yang muncul membawa bungkus Tolak Angin raksasa untuk diserahkan kepada Luthfi Arif. Suasana semakin cair saat jajaran majelis menerima kado-kado simbolis yang tidak biasa tersebut.
Baca Juga: Menanam Adab dalam Pendidikan di Mugeb Primary School
Inovasi dari Panggilan Hati
Di penghujung acara, Luthfi Arif memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para guru dan karyawan. Ia terkesan dengan cara sekolah mengemas rasa terima kasih melalui sentuhan seni dan humor.
“Inovasi baru biasanya memang dimulai dari Mugeb,” puji Luthfi singkat sembari tersenyum melihat bingkisan raksasa di tangannya.
Ditemui usai acara, Kiky mengungkapkan, persiapan aksi ini tergolong sangat singkat. Ia mengaku menyusun teks puisi tersebut secara mendadak namun dengan riset perasaan yang mendalam terhadap apa yang rekan sejawatnya rasakan.
“Teksnya saya buat semalam. Ini sebenarnya ide dari Bu Fony (Kepala Mugeb Primary School),” ungkap Kiky.
Melalui persembahan ini, keluarga besar Mugeb berharap hubungan antara pelaksana di sekolah dan pengambil kebijakan di majelis tetap harmonis. Harapannya, jajaran majelis tetap “renyah” seperti Beng-Beng, selalu memberikan kehangatan seperti Salonpas, dan senantiasa hadir memberi solusi seperti Tolak Angin bagi kemajuan sekolah. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












