Feature

Setelah Idulfitri Berdarah: Bagaimana Sikap Kita atas Kekejaman Israel

29
×

Setelah Idulfitri Berdarah: Bagaimana Sikap Kita atas Kekejaman Israel

Sebarkan artikel ini
Warga Palestina salat Idulfitri 1446 di Gaza, di tengah serangan brutal Israel. (Foto Reuters/Mahmoud Issa via CNN Indonesia)

Israel kembali menyerang Palestina saat Idulfitri. Dunia terdiam, hati nurani menjerit. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Saatnya bersikap: bantu, bersuara, dan boikot demi kemanusiaan.

Oleh M. Anwar Djaelani; Aktif menulis masalah dakwah dan kemasyarakatan sejak 1996

Tagar.co – “Israel Serang Gaza Saat Idulfitri, Puluhan Orang Tewas” (https://news.detik.com, 31 Maret 2025). “Israel Lancarkan Serangan Udara ke Sekolah di Gaza, 25 Orang Tewas” (https://news.detik.com, 4 April 2025).

Demikianlah, dua berita terakhir yang menggambarkan kekejaman Israel. Tepat pada Hari Raya Idulfitri 2025, mereka membombardir Gaza, Palestina. Belum genap sepekan berlalu, masih dalam suasana Idulfitri, mereka kembali bertindak secara barbar tanpa rasa kemanusiaan.

Baca juga: Syawal dan Enam Puasa Sunah Sepanjang Tahun

Untuk melengkapi gambaran wajah brutal penjajah Israel, berikut dua contoh lain. Pada 5 April 2023, muncul berita berjudul: “Polisi Israel Serbu Al-Aqsa, Lempar Bom dan Gas Air Mata di Ruang Salat”. Di hari yang sama, media lain memberitakan: “Turki Kecam Aksi Brutal Polisi Israel Serbu Masjidilaqsa”.

Baca Juga:  Diplomasi dalam Badai

Rangkaian berita itu mewakili suasana mencekam yang terus berulang di Palestina. Dulu dan kini, teror terus terjadi di Masjidilaqsa, Gaza, Rafah, dan wilayah Palestina lainnya.

Dunia pun kerap menyaksikan kekejian Israel terhadap warga Palestina. Apa sikap kita? Sudah semestinya, kita prihatin, menyesalkan, dan mengutuk tindakan brutal Israel.

Segenap warga dunia yang memiliki hati nurani pasti sesak dadanya menyaksikan kebiadaban Israel. Pilu hati mereka melihat penderitaan warga Palestina. Perih jiwa mereka menyaksikan teror Israel di Masjidilaqsa. Luka batin mereka semakin dalam saat menyaksikan kekejaman Israel di bulan Ramadan, bahkan hingga Idulfitri.

Kita syok dan tercengang melihat foto dan video yang memperlihatkan tindakan di luar perikemanusiaan dari penjajah Israel. Mereka tak memilih waktu—misalnya, pernah memukuli jemaah Masjid Al-Aqsa saat salat Subuh.

Suara Saudara

Sikap Indonesia, bagaimana? Sikap kita seharusnya sejalan dengan pemikiran para pendiri bangsa. Perhatikan dua kutipan berikut ini:

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel,” ujar Sukarno.

Baca Juga:  Politik Luar Negeri Bebas Aktif Mulai Bau Penindas

“Memang seharusnya umat Islam Indonesia mempersatukan pula suaranya berkenaan dengan Palestina dan membuahkan daya-upaya jika ada yang dapat dilakukan untuk membuktikan persatuan hatinya dan pengakuannya akan pertalian dengan umat Islam tiap-tiap bangsa Islam di seluruh dunia,” kata Agus Salim.

Sikap Kita

Israel menyebut dirinya sebagai “Negara Yahudi” (The Jewish State). Hal ini karena mereka sering mendasarkan eksistensinya pada klaim Bibel dan sejarah, sebagaimana dicatat Adian Husaini (2002:4).

Sepanjang sejarah, kaum Yahudi kerap melampaui batas. Mengapa? Antara lain karena ajaran mereka menyatakan bahwa kaum Yahudi adalah bangsa pilihan dan paling istimewa di dunia. Mereka menolak pendapat pihak lain, meskipun benar.

Mereka arogan dan selalu ingin menang sendiri. Karena itu, Israel senantiasa bertindak melampaui batas.

Sejarah telah mencatat bagaimana Yahudi-Israel membuat masalah di Palestina dan sekitarnya. Seruan, kecaman, dan tekanan dunia tak mereka hiraukan. Bahkan, kaum Yahudi itu gemar berbuat dosa. Dalam hal ini, kita diingatkan oleh ayat berikut:

“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan itu.” (Al-Māidah [5]: 62)

Baca Juga:  Geopolitik dan Tawanan Perang: Ujian Al-Aqsa dan Standar Ganda Dunia

Boikot, Boikot!

Kini, dalam duka, kita harus senantiasa membantu saudara-saudara kita di Palestina. Bantulah dengan segala kemampuan: harta, jiwa, tenaga, doa, dan lainnya.

Langkah sederhana yang bisa kita ambil adalah membantu dengan harta. Salah satu caranya adalah tidak membeli produk-produk yang—langsung atau tidak langsung—menguntungkan Israel. Jadikan langkah ini sebagai gerakan yang berkelanjutan.

Boikot dan boikot! (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni