Feature

Seorang Ayah dan Ratusan Pengorbanan yang Diam-Diam

44
×

Seorang Ayah dan Ratusan Pengorbanan yang Diam-Diam

Sebarkan artikel ini
Penulis, dan anggota keluarganya
Buwono El Ardi bersama istri dan tiga anaknya (Tagar.co/Istimewa)

Di lereng Gunung Mayang, seorang ayah menjalani hidup dengan ketabahan yang tak pernah pudar. Dari kehilangan masa kecil hingga perjuangan membesarkan tiga anak, kisah hidup Buwono El Ardi menjadi cermin cinta yang bekerja dalam senyap.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian Akademi Dakwah Indonesia Jatim

Tagar.co — Di sebuah rumah sederhana di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, setiap tanggal 12 Desember selalu menyimpan getaran hangat bagi keluarga kecil Buwono El Ardi.

Setiap tahunnya, hari ulang tahun pria kelahiran 1972 itu bukan hanya sekadar penanda bertambah usia, tetapi juga ruang hening untuk kembali mengenang perjalanan panjang seorang ayah yang membesarkan anak-anaknya dengan kesungguhan yang nyaris tanpa keluh.

Nama Buwono El Ardi sendiri bukan sekadar rangkaian huruf. Ia adalah doa dan harapan. “Buwono”, dari bahasa Jawa, bermakna dunia dan jagat raya. “El”, dari kata sandang Arab, memberi nuansa keagungan. “Ardi”, dari bahasa Arab yang berarti bumi, tempat pijak tempat belajar rendah hati.

Baca juga: Jejak Panjang Salon Rosana Ponorogo: Dari Duka Menjadi Warisan Berkah

Nama itu diberikan oleh ayahnya, Samin, seorang prajurit yang menaruhkan cinta tanah air dalam pilihan nama putranya.

Baca Juga:  Mudik Penuh Kejutan: Bus Oleng, Hujan Menghadang, dan Rumah yang Menunggu

Namun hidupnya tidak pernah berjalan mulus. Dalam usianya yang baru dua tahun, ia kehilangan sang ayah di Lampung, sebelum sempat mengenal wajahnya. Masa kecilnya berpindah-pindah: dari Lampung kembali ke Wuluhan, tinggal bersama ibu, ayah tiri, dan dua adiknya.

Mobilitas itu membuatnya harus berpindah sekolah sejak SD. Hingga ia memohon izin untuk mondok di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Dukuh Dempok, di bawah asuhan K.H. Ahmad Amar Syarif. Di sana ia belajar, menamatkan pendidikan, lalu mengabdi dua tahun sambil menemani adiknya sebagai santri kalong.

Selepas itu, ia merantau ke Jakarta. Bekerja apa saja yang bisa dikerjakan, ia membangun hidup dari titik nol. Hingga takdir mempertemukannya dengan Rachmawati—perempuan yang kemudian menjadi istrinya—melalui proses ta’aruf singkat, hanya sebulan dengan tiga kali pertemuan.

Mereka menikah, membangun rumah tangga, lalu dikaruniai tiga anak: Aisar Faiz; Sadidatul Azka, penulis kisah ini; dan si bungsu Sahla El Nafi’a.

Saat anak-anak tumbuh, Buwono memilih kembali ke Jember dan bertahan sebagai pekebun di lahan kecil di Gunung Mayang, Mandigu, Suco, Mumbulsari. Ia menanam apa saja: cabai puyang—andalan untuk ramuan penghangat badan—berbagai jenis pisang, alpukat, durian, pepaya, jeruk, kopi, hingga aneka rempah.

Baca Juga:  Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman
Buwono El Ardi bersama penulis (Tagar.co/Istimewa)

Dari kebun sederhana itulah ia menafkahi keluarga. Hujan maupun panas, sehat maupun sakit, ia tetap berangkat. Pernah dalam masa sulit, ia berbisik lirih, “Allah tidak akan membiarkan kita kelaparan.”

Harapannya sederhana: melihat anak-anak tumbuh lebih baik darinya. Ada kalanya ia keras, tetapi bagi keluarga, itu adalah bentuk penjagaan. Suatu hari, ketika penulis ingin berhenti kuliah karena sakit panjang, sebuah kalimat darinya menahan langkah itu.

Dalam perjalanan berboncengan, ia berkata, “Kalau Aka berhenti kuliah, nanti semangat Ayah bekerja untuk siapa?” Kalimat yang terdengar ringan, tapi justru paling membekas dan membuat sang anak bertahan.

Komunikasi menjadi tali yang tidak pernah putus. Setiap malam, penulis menelepon kedua orang tuanya: meminta doa, berbagi kabar, menambal rindu. Bagi Buwono, seluruh usahanya tertuju pada keluarga. Ia bersyukur dua anaknya kini menempuh jalan dakwah.

Pernah pula terjadi perdebatan kecil antara ayah dan anak ketika penulis ingin belajar hukum. “Bukan tentang gelar sarjananya, tapi bagaimana caranya ilmu yang didapatkan bukan hanya bermanfaat untuk dirimu sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain,” katanya, membujuk agar penulis masuk jurusan dakwah.

Baca Juga:  Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo

Pilihan itu kemudian mempertemukan penulis dengan dosen bernama M. Anwar Djaelani, yang mengenalkannya pada dunia jurnalistik hingga tulisan panjang ini lahir.

Hari ini, 12 Desember 2025, penulis menuliskan kisah ini sebagai hadiah ulang tahun untuk ayahnya: sebuah wujud cinta yang dibalut kenangan, syukur, dan harapan.

Ia menulis, “Saya berharap ia senantiasa diberi kesehatan, usia yang telah dilaluinya menjadi keberkahan, senyumnya tetap merekah, serta diberi kekuatan dan kelapangan dalam setiap perjalanan yang tidak mudah. Semoga Allah memudahkan langkah-langkahnya ke depan.”

Dan di akhir tulisan, ia menyampaikan pesan yang paling jujur: “Putrimu yang keras kepala ini tengah berusaha untuk menjadi putri yang salihah dan kelak dapat membuatmu bangga. Aku mencintaimu.”

Human interest bukan hanya tentang tokoh yang luar biasa, tetapi tentang orang biasa yang menjalani hidup dengan keteguhan yang luar biasa. Dalam kisah Buwono El Ardi, itulah yang tampak: seorang ayah yang tidak pernah berhenti berjuang, dan seorang anak perempuan yang selalu pulang padanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni