
Sekjen MUI Amirsyah Tambunan mengajak masyarakat perkuat pariwisata halal di Sumbar
Tagar.co – Di bawah langit Sumatra Barat (Sumbar) yang cerah, Kamis (12/12/24), Sekjen MUI Amirsyah Tambunan menggelar sebuah pertemuan yang penuh harapan.
Di sebuah ruangan di Maninjau, dengan pemandangan gunung yang menjulang dan danau yang tenang, ia bercerita tentang mimpi untuk memperkuat pariwisata halal.
“Bayangkan,” katanya dengan semangat, “Indonesia, khususnya Sumbar, bisa jadi surga bagi wisatawan yang mencari liburan sesuai syariah tapi tetap menyenangkan.”
Namun, ia juga tidak menutup mata pada kenyataan. “Tata kelola pariwisata di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. Faktor-faktor penghambat termasuk kreativitas sumber daya yang terbatas, infrastruktur yang belum representatif, dan seni budaya yang masih bersifat amatiran, menghambat daya tarik wisatawan.”
Tapi, di antara tantangan ini, ada cahaya harapan. “Kita punya alam yang luar biasa, pegunungan yang bisa membuat siapa saja mengucapkan ‘Masyaallah, Subhanallah’ seperti yang pernah dikatakan oleh wisatawan dari Arab Saudi.”
Baca juga: Gerakan Wakaf dengan Pendekatan KISS
Dengan kata-kata itu, ia menyambut para hadirin di acara Syukuran dan Peresmian Pusat Wisata Ramah Muslim milik keluarga A.R. Sutan Mansur.
Di sana, Buya Amirsyah, sapaannya, mendorong sebuah perubahan, “Mari kita edukasi masyarakat kita, buat mereka tahu betapa menariknya destinasi seperti Sungai Batang dan Maninjau.”
Ia menyoroti kerja sama dengan Bank Indonesia yang telah berhasil membangun ikon wisata seperti Museum Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, di tepi Danau Maninjau. Tempat ini bukan hanya museum, tapi juga simbol kebanggaan dan penghormatan.
Yose Rizal dari Yayasan A.R.Sutan Mansur dengan mata berbinar, berbagi mimpinya, “Ini bisa jadi giliran UMKM kita untuk bersinar dalam industri halal.”
Lukmanul Hakim, dengan nada tegas, menambahkan, “Ini juga penghormatan kami kepada Buya Hamka melalui wakaf produktif.”
Ahmad Rasyid (A.R.) Sutan Mansur, Ketua PP Muhammadiyah ke-6, juga memiliki hubungan keluarga dengan Buya Hamka, menambah kedalaman budaya dan sejarah dalam pariwisata ini.
Dr. Hariadi Darmawan, dari Politeknik Pariwisata Bandung, dengan keahliannya, mendukung visi ini, “Pariwisata yang ramah dan halal adalah masa depan.”
Data dari Dinas Pariwisata Sumbar menunjukkan potensi besar dengan 14.662 wisatawan yang sudah datang, dan dengan lebih dari 2 juta Muslim di sekitar, potensinya bisa sangat besar. Bahkan, rendang dari Sumbar mendapat HAKI di dunia, menjadi bukti kehebatan kuliner lokal.
Buya Amirsyah kemudian membagikan konsep wakaf produktif dengan Cash Wakaf Linked Deposito (CWLD). Dia menjelaskan bagaimana ini bisa menjadi pilar keberlanjutan ekonomi syariah di Sumbar.
Dedi Asmar dari Dinas Pariwisata Kabupaten Agam dan Deputi BI Parulian turut mendukung, melihat ini sebagai langkah awal menuju Indonesia sebagai pusat halal dunia pada 2025.
Kerja Sama dengan UMSB
Buya menegaskan, untuk memenuhi ketersediaan SDM petugas pariwisata dapat berkolaborasi dengan Fakuktas Pariwisata Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dengan visi menjadi Fakultas Pariwisata yang memiliki daya saing dengan mengedepankan kearifan lokal dalam pembinaan imtak dan pengembangan iptek.
Adapun misinya antara lain; pertama, mengoptimalkan penyelenggaraan pendidikan dengan mengedepankan prinsip kearifan lokal dalam meningkatkan mutu.
Kedua, meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaksanaan penelitian berbasis perkembangan ilmu pengetahuan dengan memperhatikan keragaman bentuk kearifan lokal dalam dunia kepariwisataan.
Pertemuan ini ditutup dengan pantun yang diucapkan Buya Amirsyah dengan senyum lebar:
“Jalan-jalan ke Maninjau, singgah sebentar di Sungai Batang, Lihatlah luas bukit terbentang, untuk wisata tumbuh berkembang.”
Dengan demikian, Sumatra Barat tidak hanya menjadi tujuan wisata, tapi juga pusat edukasi dan inspirasi wisata halal yang membanggakan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












