Feature

Saat Menulis Menjadi Terapi Atasi Stres

23
×

Saat Menulis Menjadi Terapi Atasi Stres

Sebarkan artikel ini
Bedah Buku
Penulis Buku The New Me, Sinta Yudisia Wisudanti, M.Psi., Psikolog menyampaikan materi dalam Bedah Buku di CAC, Spemdalas, Jumat (28/11/25) (Tagar.co/Ichwan Arif)

Ketika stres, menulis bisa menjadi jalan pelarian untuk menghasilkan karya. Ketika bisa divisualisasikan melalui tulisan, impian bisa lebih mudah dicapai. Perlu dicoba!

Tagar.co – Cara mewujudkan impian menjadi bahasan menarik dalam Bedah Buku The New Me: Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar di ruang CAC, SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jumat (28/11/2025).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Perpustakaan Taman Ilmu Spemdalas ini mengundang perwakilan dari perpustakaan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Perpustakaan Rumah Pelangi, dan perpustakaan SD Muhammadiyah Manyar.

Hadir pula dua perwakilan dari tiga sekolah dalam naungan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan pendidikan Non-Formal (Dikdasmen dan PNF) PCM GKB, yaitu SD Muhammadiyah 1 GKB, SD Muhammadiyah 2 GKB, dan SMA Muhammadiyah 10 GKB.

Penulis buku The New Me, Sinta Yudisia Wisudanti, M.Psi., Psikolog menjelaskan dengan gamblang proses kreatif yang dilaluinya dalam kurun waktu penulisan  buku yang berhasil menjadi pemenang pertama Lomba Menulis Buku Nonfiksi Indiva Publishing tahun 2020 ini.

“Saya dibesarkan pada masa yang sangat membahagiakan karena saat itu adalah era keemasan buku. Banyak orang yang nongkrong di perpustakaan hingga larut malam. Kecintaan terhadap buku inilah yang melatarikecintaan saya terhadap dunia tulis menulis,” jelasnya.

Baca Juga:  Tutor Sebaya, Jalan Asyik Menaklukkan Pelajaran Bahasa Arab

Ditambahkan Sinta bahwa menulis adalah terapi. Semakin stres, semakin banyak tulisan yang dihasilkan.

“Saat studi S2, saya semakin produktif. Menulis adalah pelarian ketika kita sedang dalam kondisi yang down. The New Me ini dilahirkan pada masa Covid. Membahas tantangan dan perubahan yang terjadi dalam era krisis, baik secara pribadi maupun sosial,” jelasnya.

Kondisi krisis, imbuhnya, akan menyadarkan tentang konsep diri. Ketika kita mampu untuk menerima kondisi, mekanisme otak akan mendorong kemampuan coping (upaya psikologis dan perilaku untuk mengatasi stres, ketegangan, atau masalah yang dinilai membebani).

Bentuknya bisa dengan mengelola stres, menjalankan ajaran agama, menerima diri sendiri, menikmati film dan humor, sampai dengan meminta bantuan orang lain.

Sinta kemudian bertanya kepada salah satu peserta bedah buku, “Apa yang akan Kakak lakukan jika mendapat uang 1 miliar?”

“Saya akan membeli rumah,” sontak peserta yang ditanya.

Dia menjelaskan kemampuan kita memvisualisasikan adalah cara yang tepat untuk meraih Impian. Otak, jelasnya, adalah organ yang menyukai dengan hal-hal yang meledak. Secara otomatis, otak memiliki kemampuan untuk memikirkan hal negatif.

Baca Juga:  Penguatan Sistem, SDM, dan Budaya Kunci Kokohnya Muhammadiyah

Dengan demikian, tekannya, hal-hal positif perlu divisualisasikan dengan sejelas-jelasnya. “Saya punya pengalaman ketika kita belum siap dengan sesuatu yang besar, hal itu tidak akan kita raih. Sebaliknya, beberapa impian saya terkabul ketika saya telah memvisualisasikan impian saya dalam tulisan dan gambar. Satu per satu impian tersebut akan terwujud,” terangnya. (#)

Jurnalis Fitri Wulandari. Penyunting Ichwan Arif.