
Siswa kelas VII A SMP MBS Limpung mempraktikkan metode tutor sebaya untuk mengubah kesan belajar Bahasa Arab yang kaku menjadi aktivitas seru, interaktif, sekaligus melatih rasa percaya diri.
Tagar.co — Siapa bilang mempelajari Bahasa Arab identik dengan suasana kaku dan pusing? Di SMP MBS Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, stigma tersebut luntur seketika.
Selasa pagi, 11 Februari 2026, suasana kelas VII A putra tampak berbeda dari biasanya. Jarum jam menunjukkan pukul 08.10 WIB ketika para siswa mulai mengambil alih peran di depan kelas. Mereka tidak lagi duduk manis mendengarkan ceramah, melainkan berdiri tegak layaknya seorang guru dalam sesi Peer Teaching atau pembelajaran tutor sebaya.
Widiyanti, guru pengampu mata pelajaran Bahasa Arab, merancang skenario unik ini hingga pukul 09.30 WIB. Ia sengaja mengubah ruang kelas menjadi panggung terbuka bagi para siswa untuk unjuk gigi.
Alih-alih guru yang mendominasi pembicaraan, para siswa justru saling menjelaskan materi kepada rekan sejawatnya. Metode ini terbukti ampuh memecah kebuntuan yang seringkali menghantui siswa saat berhadapan dengan bahasa asing.
Penggunaan bahasa yang lebih santai antar-teman membuat materi yang semula dianggap berat menjadi lebih ringan. Ibu Wid, sapaan akrab sang guru, menyadari frekuensi komunikasi remaja memiliki gelombang yang sama.
“Saat seorang siswa menjelaskan kepada temannya, hambatan psikologis seperti rasa takut salah atau sungkan cenderung menghilang. Hal ini menciptakan alur transfer ilmu yang lebih mengalir dan natural di dalam kelas,” terang Wid.

Latih Keberanian dan Kepercayaan Diri
Pelaksanaan tutor sebaya ini berlangsung penuh gelak tawa namun tetap esensial. Para siswa kelas VII A putra menunjukkan antusiasme tinggi tanpa noda ketegangan. Mereka saling melempar pertanyaan dan terlibat diskusi hangat dengan gaya khas remaja yang dinamis. Aktivitas ini bukan sekadar simulasi mengajar, melainkan latihan nyata untuk membangun tanggung jawab dan pemahaman materi secara mendalam.
Menariknya, kegiatan ini menjadi ajang efektif untuk mengasah kepercayaan diri. Berbicara di depan publik merupakan soft skill krusial yang SMP MBS Limpung tanamkan sejak dini. Dengan menjadi “guru” bagi teman sendiri, kata Wid, siswa belajar mengorganisasi pikiran dan menyampaikan argumen secara sistematis.
“Suasana kelas yang hidup menunjukkan, proses belajar-mengajar bisa menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan dan jauh dari kesan membosankan,” imbuhnya.
Setelahnya, Wid mengungkapkan rasa bangganya terhadap keberanian para santri tersebut. Ia melihat potensi besar yang tersembunyi di balik seragam sekolah mereka.
“Awalnya saya kira anak-anak bakal malu-malu, eh ternyata malah rebutan mau maju! Senang sekali melihat mereka seantusias itu,” ujar Wid dengan nada bangga saat mengamati dinamika kelas yang ia ampu.
Membangun Karakter lewat Bahasa Arab
Bagi Wid, target utama metode ini bukan hanya sekadar nilai di atas kertas. Ia ingin menanamkan pola pikir bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang asyik dan tidak menjadi beban pikiran. “Lewat tutor sebaya ini, saya ingin anak-anak merasa kalau Bahasa Arab itu asyik, bukan beban,” ungkapnya.
“Selain itu, saya ingin mereka belajar percaya diri. Ternyata kalau mereka yang menjelaskan ke temannya sendiri, bahasanya jadi lebih masuk dan suasananya jadi makin hidup,” tambahnya.
Fenomena di kelas VII A ini membuktikan, pendidikan di SMP MBS Limpung melampaui batas-batas menghafal isi buku teks. Sekolah ini menitikberatkan pada pembangunan karakter dan keberanian tampil di depan umum. Melalui interaksi aktif, siswa belajar menghargai pendapat orang lain sekaligus berani mempertahankan pemikirannya di depan publik. (#)
Jurnalis Laela Mauludiyana Penyunting Sayyidah Nuriyah












