
Banyak orang mengejar harta demi ketenteraman, namun justru berakhir dengan kegelisahan. Islam mengajarkan bahwa ketenteraman sejati lahir dari keyakinan dan usaha mencari rezeki halal.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Ketenteraman hati adalah dambaan setiap manusia. Banyak orang mencarinya dengan harta, jabatan, atau kesenangan dunia, namun tak jarang justru berujung pada kegelisahan.
Dalam Islam, salah satu kunci ketenteraman adalah mengusahakan rezeki yang halal, sebagaimana nasihat para ulama, di antaranya Ibnul Qayim rahimahullah, yang mengingatkan bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah dan jalan terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan cara yang diridai-Nya.
Allah telah menetapkan bahwa setiap makhluk akan memperoleh rezekinya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Hud: 6)
Ayat ini memberi jaminan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang halal dan tidak menyibukkan pikiran dengan kekhawatiran berlebihan tentang masa depan. Ibnul Qayyim rahimahullah menasihatkan agar fokus kepada perintah Allah, bukan kepada rezeki yang sudah dijamin.
Baca juga: Sebelum Kain Kafan Selesai Dijahit
Beliau memberi perumpamaan yang indah. Saat masih janin, manusia hanya mendapat rezeki dari satu jalan, yaitu pusar, berupa darah dari ibunya. Ketika lahir, jalan itu terputus, tetapi Allah membuka dua jalan rezeki baru, yaitu air susu ibu yang lebih lezat dan bermanfaat.
Setelah masa menyusui selesai, dua jalan rezeki itu terputus, namun Allah membuka empat jalan rezeki baru: dua makanan (dari hewan dan tumbuhan) dan dua minuman (air dan susu serta yang sejenisnya).
Hikmah ini menunjukkan bahwa ketika Allah menutup satu pintu rezeki, Dia pasti membuka pintu lain yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (At-Talak: 2–3)
Rezeki yang halal bukan hanya berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi juga sumber pendapatan, cara bertransaksi, dan pengelolaan harta. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (H.R. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa segala yang kita persembahkan kepada Allah, termasuk usaha dan harta, harus bersih dari yang haram. Harta yang halal membawa keberkahan dan ketenteraman, sementara yang haram akan mengundang keresahan meskipun secara lahiriah tampak banyak.
Banyak orang terjebak dalam ambisi mengejar harta hingga rela menghalalkan segala cara. Padahal, Nabi ﷺ telah mengingatkan:
لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا
“Tidak akan mati seseorang hingga ia menyempurnakan rezekinya.” (H.R. Ibnu Hibban)
Artinya, tidak perlu mengambil yang haram karena yang halal pasti cukup untuk kita sesuai takaran yang Allah tetapkan. Jika satu pintu rezeki tertutup, Allah akan membukakan pintu lain yang mungkin lebih bermanfaat, bahkan jika kita tidak menyadarinya saat itu.
Ketenteraman jiwa hadir ketika kita yakin bahwa rezeki tidak pernah tertukar. Keyakinan ini melahirkan rasa syukur dan sabar, dua sifat yang menjadi pilar ketenangan hati. Syukur membuat kita melihat nikmat yang ada, sabar membuat kita tegar menghadapi kekurangan.
Bagi seorang mukmin, rezeki terbaik bukanlah yang paling banyak, tetapi yang paling berkah. Keberkahan itu datang dari kehalalan cara memperolehnya, keikhlasan dalam menggunakannya, dan kerelaan berbagi kepada yang membutuhkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَكَانَ عِيشُهُ كَفَافًا، وَقَنِعَ بِهِ
“Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang ada padanya.” (H.R. Tirmidzi)
Inilah rahasia ketenteraman yang sejati. Ia bukan berasal dari besarnya harta, tetapi dari keyakinan bahwa rezeki kita datang dari Allah dengan cara yang diridai-Nya, dan bahwa setiap pintu yang tertutup adalah jalan menuju pintu lain yang lebih baik.
Seorang mukmin sejati akan memandang setiap perubahan rezeki dengan husnuzan kepada Allah. Jika satu pintu rezeki tertutup, ia yakin Allah sedang menyiapkan rezeki yang lebih baik. Jika rezekinya berkurang, ia percaya bahwa itu adalah cara Allah membersihkan hatinya dari ketergantungan kepada dunia.
Ketika kematian tiba, semua jalan rezeki dunia akan terputus. Namun, bagi hamba yang beruntung, Allah akan membukakan delapan pintu surga dan mempersilakan masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Inilah rezeki yang kekal, jauh lebih berharga daripada segala yang kita kejar di dunia.
Maka, mari kita usahakan rezeki yang halal dengan penuh keyakinan, sabar, dan syukur. Karena di sanalah letak ketenteraman hati, keberkahan hidup, dan pintu menuju surga. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












