Feature

Rektor UM Surabaya Kaji Kesehatan Jiwa, Ratusan Jemaah Padati Kajian Ahad Pagi PCM Gresik

32
×

Rektor UM Surabaya Kaji Kesehatan Jiwa, Ratusan Jemaah Padati Kajian Ahad Pagi PCM Gresik

Sebarkan artikel ini
Ratusan jemaah ikuti Kajian Ahad Pagi PCM Gresik. Rektor UM Surabaya membahas kesehatan jiwa dalam Islam. Ada 9 penyakit hati yang merusak jiwa.
Rektor UM Surabaya Dr. Mundakir, M.Kep., FISQua tausiah pada Kajian Ahad Pagi PCM Gresik, Ahad (27/7/2025). (Tagar.co/Abizar Purnama)

Ratusan jemaah ikuti Kajian Ahad Pagi PCM Gresik. Rektor UM Surabaya membahas kesehatan jiwa dalam Islam. Ada 9 penyakit hati yang merusak jiwa.

Tagar.co – Lebih dari 250 jemaah memadati Masjid Taqwa Perguruan Muhammadiyah Gresik yang beralamat di Jalan KH Kholil 90 Gresik, Ahad (27/7/2025). Mereka antusias mengikuti Kajian Ahad Pagi Bulanan yang kali ini mengangkat tema “Kesehatan Jiwa dalam Islam”.

Hadir sebagai narasumber Dr. Mundakir S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua, Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya. Takmir Masjid Taqwa menyelenggarakannya bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik. Kajian ini menjadi ruang edukasi dan refleksi spiritual bagi masyarakat Gresik dan sekitarnya.

Dalam penyampaiannya, Mundakir menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa dengan menyeimbangkan dua dimensi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Yaitu hubungan vertikal dengan Allah (hablun-minallah) dan hubungan sosial-horizontal dengan sesama manusia (hablun-minannas).

Mundakir mengutip pemikiran Hasan Muhammad Asy-Syarkawi yang menyebutkan, penyakit jiwa tak hanya datang dari tekanan psikologis, namun juga dari akumulasi penyakit hati yang terbiarkan tumbuh tanpa sadar. Setidaknya, kata Mundakir, terdapat sembilan bentuk perilaku yang dapat merusak kesehatan jiwa.

Baca Juga:  Keseruan Game Jump Suit dan Take Me Out di Outbound Siswa Spemdalas
Ratusan jemaah ikuti Kajian Ahad Pagi PCM Gresik. Rektor UM Surabaya membahas kesehatan jiwa dalam Islam. Ada 9 penyakit hati yang merusak jiwa.
Lebih dari 250 jamaah memadati Masjid Taqwa Gresik saat Kajian Ahad Pagi (27/7/2025). (Tagar.co/Abizar Purnama)

9 Perilaku Rusak Kesehatan Jiwa

Pertama, riya’. Yakni kecenderungan pamer ibadah atau amal karena ingin mendapat pujian manusia. “Ini membuat amal kehilangan nilai di sisi Allah dan menjadikan jiwa penuh kepalsuan,” terangnya.

Kedua, amarah berlebihan. Kondisi ini terjadi ketika seseorang kehilangan kendali emosi. “Berpotensi menyakiti orang lain, bahkan diri sendiri,” imbuhnya.

Ketiga, lalai. Yakni abai terhadap akhirat dan tenggelam dalam urusan dunia tanpa kesadaran spiritual.

Keempat, cemas dan femas (fear and mental anxiety), yang semakin meningkat di masyarakat modern. “Berdasarkan data, prevalensi kecemasan naik dari 12% pada 2020 menjadi 16% pada 2024,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Mundakir, skala depresi juga naik tajam dari 6,3% pada tahun 2018 menjadi 17% pada 2024. Hal ini, menurutnya, menunjukkan lemahnya tawakal dan kurangnya keyakinan terhadap takdir Allah Swt.

Kelima, frustrasi dan putus asa. Yaitu sikap menyerah terhadap keadaan dan tidak lagi berharap kepada rahmat Allah. Ia menegaskan, dalam Islam hal ini termasuk dosa besar.

Keenam, tamak dan rakus. Yakni sifat tidak pernah merasa cukup, selalu ingin lebih, bahkan dengan cara melanggar etika dan agama.

Baca Juga:  Spirit Islam Berkemajuan: Dari Dakwah hingga Rudal

Ketujuh, teperdaya dan tertipu oleh dunia dan gaya hidup hedonistik. Inilah perilaku yang menjadikan kebahagiaan semu sebagai tujuan hidup. “Hal ini menciptakan keletihan jiwa karena standar kepuasan terus bergeser,” ungkapnya.

Kedelapan, takabur dan sombong. Yakni sikap merasa lebih dari orang lain, menutup diri dari nasihat, dan enggan menerima kebenaran.

Kesembilan, dengki, iri hati, dan hasad. Yakni tidak senang melihat orang lain mendapat kebahagiaan atau nikmat. Ini menyebabkan kegelisahan batin dan permusuhan sosial.

Setelahnya, Mundakir mengingatkan, semua penyakit jiwa tersebut berakar dari lemahnya hubungan spiritual dan sosial.

“Oleh karena itu, Islam menawarkan solusi menyeluruh dengan memperkuat hubungan hablun-minallah melalui ibadah yang ikhlas, dan hablun-minannas melalui sikap sosial yang tulus dan peduli,” ungkap pria kelahiran Lamongan tersebut. (#)

Jurnalis Abizar Purnama Penyunting Sayyidah Nuriyah