
Refleksi 23 Tahun Lazismu telah mencatat pertumbuhan besar, terutama dalam penghimpunan dana zakat, infak, sedekah, hingga program kemanusiaan.
Tagar.co – Tidak perlu gemerlap perayaan untuk menandai tonggak sejarah. Jumat (4/7/2025) sore pukul 16.00 WIB, jajaran pengurus dan eksekutif Lazismu Lumajang berkumpul di kantor Jalan Diponegoro No. 64 Jogoyudan.
Dalam suasana sederhana namun hangat, mereka merenungi perjalanan panjang lembaga ini yang sekarang telah menginjak usia ke-23 tahun.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Lumajang, Drs. Djatto, MM, membuka refleksi 23 tahun Lazismu dengan perumpamaan yang mengena.
”Kalau ini manusia, usia 23 berarti sudah selesai kuliah. Sudah waktunya berpikir matang dan bertindak dewasa,” ucapnya dengan nada tenang.
Ia mengingatkan, keberadaan Lazismu tidak lepas dari kepercayaan publik dan rahmat Allah Swt. Menjaga keduanya, kata Djatto, bukan sekadar tugas administratif, tetapi panggilan moral.
“Yang harus terus kita jaga adalah amanah. Jangan sampai kepercayaan itu pudar karena kita lengah,” ujarnya.
Sepanjang 23 tahun, Lazismu telah mencatat pertumbuhan besar, terutama dalam penghimpunan dana zakat, infak, sedekah, hingga program kemanusiaan.
Pada momentum Ramadan dan Iduladha, peningkatan itu terasa jelas. Tapi bagi Djatto, angka bukan ukuran satu-satunya.
Yang lebih penting adalah bagaimana lembaga terus menjaga kedekatan dengan para donatur.
“Donatur itu harus kita dekati dengan komunikasi yang baik. Mereka perlu tahu ke mana dananya disalurkan, dan apa dampaknya bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya inovasi dalam metode penghimpunan dan penyaluran. “Kita tidak bisa bertahan dengan cara-cara lama. Dunia terus berubah, dan kita harus adaptif.”

Dalam forum itu, Suharyo AP, Wakil Ketua Badan Pengurus yang juga Penasihat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, menyampaikan pandangan tajam.
Ia menyebut, meskipun ini milad Lazismu ke-23 tahun, secara kualitas capaian dan pengakuan, Lazismu layaknya lembaga yang telah tiga dekade berkiprah.
“Kita sekarang sudah menjadi rujukan, tidak hanya di wilayah Tapal Kuda, tapi juga dilirik secara nasional. Ini menunjukkan bahwa kerja kita selama ini ada hasilnya,” tutur Suharyo.
Namun ia juga memberi peringatan. Kepercayaan, menurutnya, adalah aset yang mudah rapuh bila tidak dirawat.
Untuk itu, ia mendorong penguatan sistem tata kelola yang transparan dan akuntabel. Audit harus dilakukan secara berkala dan, bila perlu, dipublikasikan kepada publik agar semakin terbuka dan dipercaya.
Ia juga menyoroti pentingnya memberi ruang lebih besar kepada generasi muda. “Ini zamannya anak-anak muda. Maka, biarkan mereka tampil aktif, dan kita yang tua mendampingi serta mengingatkan jika ada kekeliruan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Lazismu Lumajang, Said Romdhon, menegaskan bahwa peningkatan capaian lembaga dari tahun ke tahun menjadi indikator kuat bahwa kerja-kerja kelembagaan telah menunjukkan arah yang positif.
“Kepercayaan masyarakat terus meningkat. Ini menjadi sinyal bahwa kita berada di jalur yang benar,” ujarnya.
Ia menjelaskan di tahun 2025 ini, Lazismu Lumajang menargetkan penghimpunan sebesar Rp2,4 miliar. “Insya Allah, tinggal kurang Rp700 juta lagi. Kami harap teman-teman eksekutif bisa bersama-sama mengejar sisa target itu,” kata Said.
Namun, ia juga menekankan bahwa target tersebut tidak akan tercapai hanya dengan semangat internal semata.
“Cita-cita itu tidak akan sampai tanpa dukungan dari para donatur, mitra, dan seluruh stakeholder. Karena itu, mari kita bergandeng tangan. Kita bersama adalah jembatan kebaikan untuk kebermanfaatan umat,” tutupnya.
Acara refleksi berlangsung singkat namun sarat makna. Tidak ada seremonial berlebihan. Hanya pertemuan sederhana, tapi cukup untuk menghidupkan kembali semangat kolektif yang selama ini menjadi napas gerakan Lazismu.
Sebagai penanda rasa syukur atas usia ke-23 tahun, kegiatan ditutup dengan pemotongan tumpeng. Ini simbol kebersamaan dan harapan agar langkah ke depan semakin diberkahi.
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












