
Ketegasan suara Rasuna Said—dari podium, pena, hingga ruang kelas—menjadikannya simbol keberanian perempuan Indonesia. Jejak hidupnya menyingkap bagaimana pendidikan, politik, dan jurnalistik bersatu menjadi senjata perlawanan.
Oleh M. Anwar Djaelani
Tagar.co – Rahmah El Yunusiyah baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025. Di momen itu, banyak orang spontan teringat kepada Rasuna Said—sesama murid Haji Abdul Karim Amrullah dan salah satu perempuan paling vokal dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyah, Syekhah Pertama dari Al-Azhar
Siapakah Rasuna Said? Hal yang mudah diingat—terutama oleh warga Jakarta—adalah bahwa namanya diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Ibu Kota. Jalan itu merupakan pusat bisnis dan bagian dari Segitiga Emas Jakarta atau Poros Sudirman–Thamrin–Kuningan.
Pandai dan Berani
Rasuna Said memiliki jejak yang mengesankan. Pada masa awal mempelajari agama, ia berguru kepada Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Pada 1930, ia mendirikan Pesantren Muslimin Indonesia (Permi) di Bukittinggi. Perjuangannya pada masa pergerakan kemerdekaan dapat dikenali melalui jalur pendidikan, politik, dan jurnalistik.
Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatra Barat pada 15 September 1910. Ayahnya bernama Muhammad Said, seorang saudagar Minangkabau dan aktivis pergerakan.
Pendidikan Rasuna Said diawali dengan belajar di sekolah dasar. Lalu, ia melanjutkan ke Pesantren Ar-Rasyidiyah. Di pesantren itu, ia adalah satu-satunya santri perempuan. Setelah itu, ia meneruskan ke Diniyah School Putri di Padang Panjang, tempat ia bertemu dengan Rahmah El Yunusiyah.
Secara umum, Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang berkemauan keras dan memiliki pengetahuan luas.
Dalam pelajaran agama, ia pernah berguru kepada Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (dikenal pula sebagai Haji Rasul) yang menekankan pentingnya pembaruan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir. Pelajaran itu banyak memengaruhi pandangan dan sikap Rasuna Said.
Rasuna Said sangat memerhatikan kemajuan dan pendidikan kaum perempuan. Ia sempat mengajar di Diniyah School Putri di Padang Panjang. Namun, pada 1930 ia berhenti mengajar. Saat itu ia berpikir bahwa kemajuan perempuan tak cukup hanya melalui pendidikan sekolah, tetapi juga harus diperjuangkan lewat jalur politik.
Kala itu Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik ke dalam kurikulum Diniyah School Putri, tetapi gagasan tersebut ditolak.
Rasuna Said lalu bergabung dengan Sumatera Thawalib. Kemudian ia mendirikan Pesantren Muslimin Indonesia (Permi) di Bukittinggi pada 1930. Ia juga mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI. Setelah itu, ia mendirikan Sekolah Thawalib di Padang serta memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi.
Pidato Panas
Sebagai perempuan terpelajar, Rasuna Said aktif berjuang di ranah politik. Ia pernah bergabung dengan Syarikat Rakyat sebagai sekretaris cabang. Rasuna Said dikenal sangat mahir berpidato. Isi pidatonya banyak mengecam ketidakadilan pemerintahan Belanda.
Terkait “pidato panas”, Rasuna Said tercatat sebagai perempuan pertama yang terkena hukuman speek delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa “siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda”. Saat itu Rasuna Said ditangkap bersama Rasimah Ismail, kawan seperjuangannya. Ia dipenjara pada 1932 di Semarang. Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said melanjutkan pendidikan di Islamic College pimpinan K.H. Muhtar Yahya dan Dr. Kusuma Atmaja.
Kekuatan tulisan juga diyakini Rasuna Said sebagai media perjuangan yang penting. Pada 1935, ia memilih memanfaatkan jurnalistik sebagai alat perjuangan. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Raya.
Pada perkembangannya, Rasuna Said dikenal dengan tulisan-tulisan yang tajam. Majalah Raya dikenal radikal dan menjadi salah satu tonggak perlawanan di Sumatera Barat.
Dalam perjalanannya, polisi rahasia Belanda mempersempit ruang gerak Rasuna Said dan rekan-rekannya. Ironisnya, tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan tindakan kolonial justru tak dapat berbuat apa-apa. Rasuna Said sangat kecewa dan memilih pindah ke Medan.
Pada 1937, di Medan, Rasuna Said mendirikan sekolah khusus perempuan bernama “Perguruan Putri”. Untuk menyebarluaskan gagasan-gagasannya, ia menerbitkan media pekanan Menara Poetri (baca: Menara Putri). Media ini membahas peranan perempuan dan keislaman, dengan fokus membangkitkan kesadaran pergerakan antikolonialisme, terutama bagi khalayak perempuan.
Di Menara Poetri, Rasuna Said mengasuh rubrik “Pojok”. Tulisan-tulisannya tajam, mengena, dan lantang menyuarakan sikap antikolonial.
Sebuah media di Surabaya, Penyebar Semangat, pernah menulis tentang Menara Poetri:
“Di Medan ada sebuah media bernama Menara Poetri. Isinya dimaksudkan untuk jagat keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional.”
Namun Menara Poetri tidak berumur panjang. Sebagian besar pelanggannya tidak membayar biaya langganan. Setelah itu, Rasuna Said memilih pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat.
Pahlawan Nasional
Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said ikut mendirikan organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Sayang, organisasi itu kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Ia juga pernah duduk di Dewan Perwakilan Sumatera mewakili Sumatera Barat.
Rasuna Said pernah diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat–Republik Indonesia Serikat (DPR–RIS). Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Dalam perjalanan hidupnya, ada fragmen menarik. Pada 18 Maret 1958, digelar Rapat Akbar di Bandung. Pada kesempatan itu, Rasuna Said mendapat kehormatan sebagai tokoh pejuang yang diundang dan didaulat menyampaikan orasi pembuka. Ketika tiba giliran Soekarno berpidato di depan lautan massa, tanpa ragu ia memuji perjuangan Rasuna Said.
Rasuna Said wafat pada 2 November 1965 di Jakarta. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1974. Seperti telah disebutkan di atas, untuk mengenang perjuangannya, nama Rasuna Said diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












