
Di sebuah klinik gigi, Sinta akhirnya mendapatkan kembali senyumnya. Namun dua minggu kemudian, ia mengetahui sesuatu tentang dokter yang menanganinya—dan tentang pantulan di cermin yang bukan lagi dirinya.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Aroma alkohol dan eugenol memenuhi hidung Sinta. Di hadapannya, senyum seorang model di poster menatapnya tajam. “Implan gigi diskon 8,9 juta per gigi.” Namun yang membuatnya tercekat bukan harga itu, melainkan kalimat kecil di bawahnya: Jagalah gigi sejak anak-anak dan bersyukurlah.
Ia tersenyum samar. Kata bersyukurlah seperti suara lama yang kembali memanggil dari masa kecilnya.
Ruang tunggu itu dingin dan hening. Suara bor gigi dari ruang sebelah terdengar seperti bisikan mesin masa lalu, memekakkan sekaligus mengingatkan. Sinta menggenggam erat tas cokelatnya. Nomor antrean di tangannya, A07, terasa berat—seolah bukan sekadar angka, tetapi giliran untuk menebus sesuatu yang tertinggal.
Baca juga: Di Balik Uang Duka yang Ditolak Rukmini
Dulu ia anak yang manis, tetapi tak pernah benar-benar mendengarkan ibunya.
“Jangan kebanyakan permen, Nduk,” begitu ibunya selalu berkata.
“Cuma satu, Bu,” jawabnya, padahal dua permen disembunyikan di saku rok.
Senyum putih ceria itu perlahan berubah menjadi getir. Ibunya meninggal ketika Sinta baru dua belas tahun. Setelah itu, tak ada lagi yang menegurnya ketika ia lupa sikat gigi sebelum tidur.
Ayahnya sibuk bekerja. Ia tumbuh menjadi gadis yang mandiri, keras kepala, dan terlalu sering menunda-nunda. Ketika giginya mulai rapuh, ia menertawakan diri sendiri di depan kaca.
“Nanti juga bisa ditambal,” katanya. Tapi waktu berjalan lebih cepat daripada penyesalan.
“Bu Sinta?”
Suara resepsionis memecah lamunannya. Ia berdiri dan masuk ke ruang dokter. Ruangan itu sangat terang, nyaris menyilaukan.
Dokter muda dengan wajah teduh menyapanya.
“Kita lanjut rencana implan, ya, Bu?”
Sinta mengangguk. “Iya, Dok. Jadi benar satu gigi 8,9 juta?”
“Betul, Bu,” jawab dokter itu sambil tersenyum. “Yang Ibu butuhkan bukan hanya gigi baru, tapi alasan untuk tersenyum lagi.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menenangkan.
Ketika alat logam berkilau mulai bekerja, kenangan lama kembali memotong pikirannya: dirinya di toko pakaian tempat ia dulu bekerja; tertawa dengan rekan-rekan tetapi selalu menutup mulut saat tersenyum; seorang pria yang sempat ia sukai tetapi tak pernah berani ia dekati lebih jauh; dan anaknya, Rafi, yang kini jarang pulang karena sibuk bekerja di luar kota.
Ia pernah menabung untuk memperbaiki giginya, tetapi tabungan itu habis untuk biaya kuliah Rafi.
“Gigi bisa ditambal nanti, Bu,” kata Rafi dulu.
Ia tidak menyesal. Begitulah ibu seharusnya: memberi, sampai tak tersisa.
Bor berhenti. Ruangan kembali sunyi.
“Sudah selesai tahap awalnya, Bu,” kata dokter itu lembut. “Silakan lihat.”
Cermin kecil berpindah ke tangan Sinta. Dua gigi depannya yang dulu ompong kini utuh kembali, putih bersih. Tapi yang membuat dadanya sesak bukan gigi itu, melainkan bayangan samar—seperti siluet ibunya—seolah duduk di belakangnya.
“Terima kasih, Dok.” Suaranya bergetar sedikit.
Dokter itu mengangguk tenang. “Senyum itu milik Ibu. Jangan hilangkan lagi.”
Sinta berjalan keluar dengan langkah pelan. Di ruang tunggu, seorang anak kecil menatapnya, memeluk ibunya erat.
“Gak sakit, ya, Bu?” tanya anak itu pelan.
Sinta membungkuk dan menatap langsung ke matanya. “Kalau berani sikat gigi tiap malam, kamu gak perlu sering ke sini,” katanya sambil tersenyum. Anak itu tertawa kecil.
Poster biru muda di dinding kembali menarik perhatiannya: Jagalah gigi sejak anak-anak dan bersyukurlah.
Untuk kali pertama setelah bertahun-tahun, Sinta benar-benar mengerti maknanya.
Dua pekan kemudian, Sinta datang lagi untuk kontrol. Tetapi suasana klinik terasa berbeda: lampu neon sedikit redup, dan resepsionisnya bukan yang dulu.
“Bu Sinta, ya?” tanya perempuan muda di meja depan. “Kami turut berduka atas kejadian pekan lalu…”
Sinta tertegun. “Kejadian apa, Mbak?”
“Dokter yang menangani Ibu… meninggal kecelakaan, Bu. Malam setelah Ibu pasang implan.”
Sinta membeku. “Dokter muda itu?”
“Iya, Bu. Tapi… ada yang aneh.” Resepsionis itu menurunkan suaranya. “Menurut laporan, kecelakaan terjadi sekitar pukul tujuh malam. Tapi sekitar jam delapan lewat, beliau masih sempat kirim pesan di grup klinik. Katanya: Selesai pasang implan terakhir hari ini. Wanita itu akhirnya bisa tersenyum lagi.”
Dunia serasa berhenti bergerak.
Sinta memegang pipinya, merasakan hangat yang tiba-tiba menyelinap. Ia membuka cermin kecil dari tasnya. Dua gigi barunya tampak sempurna, berkilau halus—seperti memantulkan cahaya yang bukan berasal dari lampu klinik.
Ia menatap poster biru di dinding. Entah mengapa, tulisan di bawahnya tampak berbeda:
Jagalah gigi sejak anak-anak dan bersyukurlah… sebelum terlambat.
Sinta menatapnya lama. Perlahan sebuah senyum muncul di bibirnya—senyum yang terasa lebih muda, lebih utuh. Ia ingin memastikan lagi. Ia menatap cermin.
Refleksi yang tersenyum padanya bukan dirinya.
Wajah itu lebih muda. Wajah ibunya.
Petugas kebersihan menemukan sebuah cermin kecil tergeletak di kursi tunggu klinik sore itu, tepat di bawah poster biru. Di permukaan cermin, masih terpantul senyum lembut seorang perempuan—entah pasien, entah kenangan—yang tak pernah lagi terlihat datang ke sana. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












