
Project Based Learning, ujian praktik siswa kelas XII Smamdela, melibatkan serangkaian tahap. Mulai dari perencanaan penelitian, eksperimen, evaluasi dalam bentuk laporan, hingga presentasi. Lima pelajaran terintegrasikan.
Tagar.co – Tahap akhir Project Based Learning (PjBL) telah siswa kelas XII SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) lalui. Dengan lugas dan percaya diri, siswa presentasi hasil penelitian secara mandiri.
Selain membawa produk hasil penelitian, siswa berbekal karya tulis ilmiah (KTI), poster, dan vlog sebagai produk utama mereka. Di hadapan mereka hadir guru terpilih dan seorang penguji profesional bersertifikat. Tim penguji siap melontarkan beragam pertanyaan kritis.
Penguji profesional terdiri dari Sri Wulandari (tata boga), Aisah Dian Kumala (tata rias), dan Junaedi Hidayatullah (teknik pengelasan). Menghadirkan mereka bagian dari upaya sekolah menjamin kualitas penilaian.
PjBL kali ini bertema “Generasi Sadar Lingkungan”. Ujian praktik selama tiga hari, Rabu-Jumat (15-17/1/2025), tersebut mengintegrasikan lima mata pelajaran. Yakni bahasa Indonesia, kimia, biologi, sosiologi, dan ekonomi.
Tahun ini, PJBL menjadi bagian dari program “Synfest” yang mencakup 3 kegiatan lainnya. Seperti “Belajar dari Tokoh”, “Praktik Ibadah”, dan “EduExpo”.
Siswa kelas vokasi juga mendapat ruang untuk mempresentasikan keterampilan mereka di bidang pengelasan, tata boga, dan tata rias.

Refleksi Tiap Tahap
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Yuyun Minarti, S.E. menekankan pentingnya refleksi dalam setiap tahap PjBL. “Kami selalu melakukan refleksi untuk mengidentifikasi kendala dan mencari solusi,” ungkapnya.
Ia lantas mengakui salah satu tantangan yang mereka hadapi. “Masih ada siswa yang kesulitan dalam teknik penyusunan laporan. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami untuk evaluasi ke depan,” ujarnya.
Sementara Koordinator Program Diana Ekowati, S.Si. menjelaskan, PJBL di Smamdela memiliki keunikan tersendiri. “Keunggulan kami, siswa menjalani pembimbingan bertahap. Dari perencanaan penelitian, eksperimen atau aksi, hingga evaluasi dalam bentuk laporan,” terangnya.
Diana meyakini, PjBL melatih nalar kritis, kejujuran, serta kemampuan siswa dalam berbicara di depan publik. “Kami ingin siswa tidak hanya memahami teori. Tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata,” tambahnya.

Apresiasi Efektivitas PjBL
Salah satu penguji, Uswatun Chasanah, S.Si., mengapresiasi efektivitas PjBL dalam mengukur kompetensi siswa di berbagai mata pelajaran. “Evaluasi dalam PJBL mencerminkan hasil kolaborasi beberapa mata pelajaran memungkinkan penilaian yang lebih komprehensif,” katanya.
Selain itu, menurutnya, penelitian yang mereka lakukan memberikan pengalaman konkret dalam menerapkan ilmu di masyarakat.
Ia menambahkan, program ini sangat bermanfaat bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. “PjBL membentuk kerangka berpikir yang logis dan terstruktur. Sehingga mereka lebih siap menghadapi tugas akademik yang melibatkan penelitian dan penyusunan karya ilmiah,” imbuhnya.
Dengan adanya PjBL dalam rangkaian Synfest, pihak sekolah berharap siswa lebih siap menghadapi tantangan akademik maupun profesional. “Kami ingin membekali siswa dengan keterampilan yang dapat mereka aplikasikan setelah lulus. Baik di perguruan tinggi maupun di masyarakat,” pungkas Uswatun Chasanah.
Asah Kreativitas
Senada dengannya, salah satu guru Mega Dwi Astutik, S.Pd., menilai PjBL membantu mengasah kreativitas dan kemandirian siswa. “Kami melihat banyak ide kreatif dari siswa,” ungkap Dwi.
Karena sifatnya individu, mereka tidak bisa bergantung pada teman. “Sehingga lebih bertanggung jawab terhadap karyanya sendiri,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya, PjBL Smamdela terbukti sebagai metode pembelajaran inovatif yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya teruji secara akademik, tetapi juga terdorong untuk berpikir kritis, berinovasi, dan mengembangkan keterampilan yang bermanfaat di dunia nyata. (#)
Jurnalis Liset Ayuni Penyunting Sayyidah Nuriyah












