Feature

Penulis Hebat, Pembaca Hebat: Inspirasi Alumnus Smamsatu dari Guru Legendaris Pak Zimam

34
×

Penulis Hebat, Pembaca Hebat: Inspirasi Alumnus Smamsatu dari Guru Legendaris Pak Zimam

Sebarkan artikel ini
Yusuf Ali Putro saat menyamoaikan materi (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Dari kisah sederhana meminjam buku ke guru legendaris Muhammad Choiruz Zimam, Yusuf Ali Putro, alumnus SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, mengajarkan satu kunci: penulis hebat lahir dari pembaca hebat. Pesan ini kini diwariskan ke generasi baru anak-anak Smamsatu.

Tagar.co –Langit yang mendung tak menghalangi semangat para siswa untuk menghadiri Workshop Literasi “Antara Ilmiah dan Imajinasi” yang digelar di Aula lantai 2 Smamsatu, Senin, 26 Mei 2025. Tak hanya dihadiri siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) dengan seragam khas Aremu (suporter Smamsatu), acara ini juga menghadirkan para siswa SMP dari seluruh Gresik melalui kerja sama dengan Perpustakaan Teras Mentari.

Dengan tema “Mencari Gagasan, Menjadi Karya Hebat,” acara ini menghadirkan para narasumber inspiratif, termasuk Yusuf Ali Putro, alumni Smamsatu yang kini dikenal sebagai juri berbagai lomba menulis.

Dalam penyampaian materinya, Direktur Penerbit S1B L2&C itu berbicara dari hati ke hati, membagikan kisah masa sekolah yang penuh pelajaran hidup. “Saya dulu itu alumnus Smamsatu sini. Jadi anak SMP, kamu nggak salah nanti kalau mau masuk Smamsatu. Di Smamsatu ini pusat pendidikan yang paling bagus,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah. Ia mengenang masa-masa sebagai siswa kelas bahasa yang dibimbing langsung oleh guru-gurunya, seperti Husnul Khuluq dan Choirul Isak.

Baca Juga:  SMP Muhammadiyah 3 Jombang Sambut Hangat Kegiatan Upgrading IPM Smamsatu Gresik

Zada Kanza, Kartini Modern Smamsatu Gresik yang Menginspirasi lewat Tulisan

Meski secara akademik tak selalu gemilang, Yusuf aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. “Ketika di Smamsatu, saya dulu itu ketua IPM. Saya ikut ekskul sebanyak 10, pulang sekolah saya berbagi mulang (mengajar) di TPA Aisyiyah, sehingga kegiatan saya penuh,” kenangnya sambil tersenyum.

Yusuf pun mengenang sosok penting dalam perjalanan hidupnya, Pak Zimam, seorang guru legendaris bernama lengkap Muhammad Choiruz Zimam yang selalu datang ke kelas membawa tas penuh buku.

“Dulu ada namanya Pak Zimam. Saya ingat betul. Saat ini sudah pensiun di Smamsatu. Pak Zimam itu, saya ingat betul kenapa. Setiap ke kelas dia kayak penjual buku. Selalu bawa tas, isinya banyak buku. Selalu masuk ke kelas, kemudian mengatakan, ‘Anak-anak siapa pinjam buku?’” ungkapnya

Yusuf mengaku selalu meminjam buku Pak Zimam. “Pada saat itu mungkin bukunya tidak cocok untuk SMA. Kenapa? Isinya tentang politik, sosial, budaya. Bukunya aneh-aneh, tapi saya selalu pinjam setiap minggu,” ujar Yusuf.

Baca Juga:  Tiga Amalan yang Dicintai Allah Jadi Pesan Kajian Ramadan IPM Smamsatu
Ketua Umum Pimpinan Ranting IPM Smamsatu Syifa Nur membaca puisi (Tagar.co/Zada Kanza Makhfiya Mohammad)

Kebiasaan membaca buku lintas bidang itu membentuk wawasannya. “Saya dulu itu selalu ada di pustaka (perpustakaan). Kalau pustakawan dulu, selalu tahu saya selalu di pustaka. Di pustaka itu apa yang saya lakukan? Membaca buku, membaca buku, membaca buku,” ungkapnya.

Kini, meski lulusan bidang agama, penulis novel Negeri di Ujung Batas ini dipercaya menilai lomba-lomba sains di tingkat nasional. Banyak yang penasaran, “Pak, Sampean dulu lulusan ITS? Lulusan fisika, Pak? Tidak, Pak. Lulusan kampus mana? Saya lulusan UMM. Bidang studi apa? Agama, Pak. Saya itu lulusan agama tapi menilai bidang studi IPA-nya. Cocok apa enggak? Tidak cocok.”

Ia pun membocorkan rahasianya: “Kenapa saya kok bisa semua bidang studi? Jawabannya adalah saat di SMA Muhammadiyah 1, saya selalu membaca buku. Dan yang saya baca salah satunya bukunya Pak Zimam.”

Pesan pentingnya kepada para siswa sederhana tapi kuat: “Kamu nggak boleh putus asa. Kalau ingin jadi penulis yang baik, kuncinya adalah pembaca yang baik. Tidak mungkin bisa menulis baik kalau kamu tidak menjadi pembaca yang baik.”

Baca Juga:  Hari Kartini di Smamsatu: Dari Kebaya ke “Alur Kesadaran” Melawan Ketidakadilan

Yusuf juga membagikan tips sederhana: biasakan menulis dari hal-hal kecil. “Misalnya, ‘Pagi ini nanti ngapain?’ Coba mulai nanti, jawab satu alinea. Misalnya: ‘Aku sedang salat. Tadi sebelum salat, saya itu bangunnya tepat jam 4.30, kemudian saya lihat wajah itu jelek, maka saya mencuci wajah, eh tiba-tiba waktunya salat, aku pun wudu dulu.’ Jelaskan sampai satu alinea. Biasakan itu. Saya yakin temanmu besok nanti jawab lagi. Kunci penulis di situ sebetulnya,” urainya memberi contoh.

“Menulis itu mudah. Kita sebenarnya sudah jadi penulis hebat, cuma belum melatihnya,” kata Yusuf, disambut tepuk tangan semangat para siswa.

Dia lalu mempersilahkan Nabila Eka Agustin—yang dianggap sebagai murid menulisnya—untuk menyampaikan materi. Seorang mahasiswa semester IV di Universitas Airlangga dan telah berhasil meraih 35 penghargaan.  (#)

Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni