Feature

Siswa Smamsatu Gresik Lolos IUP UGM, Perjalanan Rafa di Sekolah Inklusi

616
×

Siswa Smamsatu Gresik Lolos IUP UGM, Perjalanan Rafa di Sekolah Inklusi

Sebarkan artikel ini
Rafa Alvaro Wjunior bersama ibunda. Rafa merupakan ‘siswa spesial’ Smamsatu Gresik yang berhasil tembus UGM jalur IUP prodi Statistika (tagar.co/ M. Ali Safa’at)

Siswa Smamsatu Gresik, Rafa Alvaro Wjunior, berhasil menembus UGM melalui jalur International Undergraduate Program (IUP). Di balik capaian itu, ada perjalanan panjang di sekolah inklusi, dukungan keluarga, serta ketekunan yang mengantarnya menuju masa depan.

Tagar.co – Sore itu, Kamis (12/3/2026), suasana tenang menyelimuti rumah Rafa Alvaro Wjunior. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka. Tidak ada teriakan panjang atau selebrasi berlebihan. Rafa hanya mengucap singkat, “Yes, saya bisa.”

Kalimat itu pelan, nyaris datar. Namun bagi keluarganya, itulah gema kemenangan yang sesungguhnya. Di layar laptopnya, terpampang hasil yang ditunggu. Ia dinyatakan lolos Program Studi Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur International Undergraduate Program (IUP).

“Rafa memang tidak ekspresif. Tapi kalimatnya sudah cukup menunjukkan bahwa dia sangat senang,” tutur Fiadus Zaqiyah, ibundanya.

Baca juga: 21 Siswa Smamsatu Gresik Lolos SNBP 2026, Tembus PTN dan Jurusan Bergengsi

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar pengumuman. Bagi Rafa, itu adalah puncak dari perjalanan panjang tentang proses, kesabaran, dan keyakinan yang dirawat perlahan.

Rafa besar dalam lingkungan keluarga yang memberikan ruang tumbuh yang baik. Namun, hal itu tidak menjadikannya bergantung. Justru sebaliknya, ia dibentuk untuk mandiri, terstruktur, dan terbiasa mempersiapkan segala sesuatu dengan matang.

Ia bukan tipe anak yang menonjol dalam keramaian. Dunia sosial bukan ruang yang selalu mudah baginya. Komunikasinya bahkan lebih hidup saat menggunakan Bahasa Inggris. Namun di balik itu, ia menyimpan ketelitian, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam belajar.

“Rafa itu anak yang tangguh. Mau berproses dan belajar,” jelas Fiadus, Kamis sore (2/4/26).

Selama tiga tahun di SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, Rafa tumbuh dalam lingkungan yang tidak sekadar menerima, tetapi juga memahami. Sebagai sekolah inklusi, Smamsatu Gresik tidak melihat keterbatasan sebagai penghalang, melainkan sebagai pintu untuk menemukan potensi yang bisa digali dan dikembangkan.

Baca Juga:  Bonding Day: Smamsatu Gresik dan KISAS Malaysia Perkuat Jejaring Pendidikan Serumpun

“Smamsatu bukan hanya melihat kekurangan anak berkebutuhan khusus, tapi juga potensi yang bisa digali dan dikembangkan,” lanjut Fiadus.

Bagi keluarga Rafa, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi ruang kolaborasi—ruang di mana orang tua dan guru berjalan beriringan, saling membuka diri, dan menyatukan langkah demi masa depan anak.

“Apa yang bisa saya lakukan sebagai orang tua dan bagaimana sekolah berupaya, semuanya terintegrasi dengan baik,” ujarnya.

Ucapan terima kasih pun tak bisa ia sembunyikan. Dengan suara bergetar, ia menyebut Smamsatu sebagai sekolah terbaik yang menghadirkan pelayanan prima, terutama bagi anak berkebutuhan khusus, melalui guru BK dan GPK yang kompeten serta program yang solutif.

Rafa Alvaro Wjunior bersama Atik Anjarwati, S.Psi. yang merupakan Guru Pembimbing Khusus (GPK) Rafa selama 3 tahun di Smamsatu Gresik (tagar.co/ M. Ali Safa’at)

Namun, cerita ini tidak hanya tentang sekolah. Jika Fiadus melihat kekuatan pada sistem inklusi Smamsatu, Atik Anjarwati, S.Psi., Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang mendampingi Rafa sejak kelas X, justru melihat fondasi kuat dari rumah.

“Orang tua Rafa punya parenting yang sangat baik. Itu yang membentuk Rafa sampai bisa seperti sekarang,” ungkapnya.

Perjalanan menuju UGM tidak selalu mudah. Di awal kelas X, Rafa masih kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dunia sosial belum menjadi ruang yang nyaman baginya. Namun, waktu bekerja pelan.

Di kelas XI, perubahan mulai terlihat. Sedikit demi sedikit, ia membuka diri. Hingga di kelas XII, perubahan itu menjadi nyata: lebih siap, lebih matang, lebih percaya diri, dan lebih mampu mendengar pendapat orang lain.

“Saya menyaksikan sendiri perkembangan emosionalnya. Setiap tahun selalu berkembang lebih positif,” kata Atik.

Baca Juga:  Safari Ramadan Smamsatu di Spensagres: Tutor Sebaya Tebar Energi Ramadan

Ia tidak hanya mendampingi, tetapi juga menyiapkan Rafa menghadapi dunia yang lebih luas, yakni kehidupan kampus.

“Saya bilang, nanti kamu pulang kuliah tidak langsung ketemu orang tua. Kamu harus hidup dengan dirimu sendiri,” ceritanya.

Rafa tidak hanya mendengar. Ia bersiap. Diam-diam, ia mulai belajar menyiapkan makanannya sendiri. Hal kecil, tetapi penuh makna—sebuah tanda bahwa ia sedang menapaki kemandirian.

Di balik proses seleksi yang dijalani Rafa, ada cerita lain yang tak kalah penting. Saat mengikuti rangkaian tes IUP di bulan Ramadan, Rafa juga tengah menghadapi ujian akhir kelas XII.

Namun, pihak sekolah memberikan kelonggaran dengan menjadwalkan ulang ujian tersebut. Kebijakan ini menjadi bentuk dukungan nyata sekolah dalam mengakomodasi kebutuhan dan potensi peserta didiknya.

Selama dua hari, Rafa mengikuti seleksi. Hari pertama diisi dengan tes Bahasa Inggris, skolastik, dan matematika, yang berlangsung hingga sore hari dalam kondisi berpuasa.

Malam itu, sekitar pukul 23.00, hasil diumumkan secara daring. Ia dinyatakan lolos ke tahap berikutnya dan berhak mengikuti tes hari kedua, yakni wawancara.

Di tahap inilah kepercayaan diri Rafa justru tumbuh.

“Saya lebih yakin saat dia menghadapi tes interview. Dia mempersiapkan dengan sangat matang,” ujar ibunya.

Benar saja. Keluar dari ruang wawancara, Rafa tersenyum. Senyum yang sederhana, tetapi penuh arti—sesuatu yang tidak terlihat pada hari pertama seleksi.

Pilihan pada program studi Statistika juga bukan keputusan yang tiba-tiba. Sempat terlintas untuk mengambil jurusan Bahasa Inggris, mengingat kemampuannya yang menonjol di bidang tersebut. Namun, pertimbangan masa depan berbicara lain.

Dengan kemampuan dalam matematika dan pengolahan data, serta mempertimbangkan karakter dirinya, Statistika menjadi pilihan yang lebih relevan.

Baca Juga:  Siswa Smamsatu Gresik Tebar 400 Takjil, Hangatkan Ramadan bersama Masyarakat

“Rafa kan sulit dengan hal-hal berbau sosial, jadi kami juga memikirkan pekerjaan ke depan yang lebih cocok. Kalau statistika, dia akan lebih banyak menghadap komputer untuk mengolah data sains,” jelas Fiadus.

Pilihan itu semakin mantap ketika melihat UGM sebagai kampus yang akomodatif. Bahkan sejak proses pendaftaran, tersedia ruang bagi calon mahasiswa berkebutuhan khusus untuk menyampaikan kebutuhannya melalui formulir.

Hal kecil, namun memberi rasa aman yang besar.

“Sebenarnya, kami tidak hanya mendaftar di UGM. Namun, formulir pendaftaran UGM terasa spesial karena ada pertanyaan terkait penyandang kebutuhan khusus dari calon mahasiswa,” papar Fiadus.

Kini, satu fase telah terlewati. Namun perjalanan baru sudah menanti di Yogyakarta.

Ada rasa bangga, tentu. Namun ada pula keikhlasan yang harus tumbuh—terutama bagi orang tua yang harus melepas.

“Sebagai orang tua, saya harus merelakan Rafa hidup mandiri di sana. Tapi dia pernah berkata bahwa dia tahu, saat kuliah nanti, dia harus keluar dari rumah ini dan menyelesaikan semua urusannya sendiri,” kata Fiadus.

Meski begitu, ada sedikit ketenangan. Kakak Rafa yang kini menempuh studi di kampus yang sama akan menjadi jembatan awal sebelum Rafa benar-benar berdiri sendiri.

Kisah Rafa adalah tentang perjalanan bagaimana lingkungan yang tepat, dukungan keluarga, dan kemauan untuk berproses mampu mengantarkan seseorang melampaui batas yang sering kali disangka mustahil.

Dan pada akhirnya, kemenangan itu memang tidak selalu terdengar lantang.

Kadang, ia hanya hadir dalam satu kalimat sederhana:
“yes, saya bisa.” (#)

Jurnalis Terry Angria Putri Perdana Penyunting Mohammad Nurfatoni