
Di SD tua tempatku mengajar, ada satu kursi yang tak boleh diduduki saat malam tiba. Awalnya aku kira hanya mitos— sampai tulisan kapur di papan tulis muncul sendiri.
Cerpen Oleh Abdul Rokhim Ashari
Tagar.co – Aku baru dua bulan mengajar di sekolah itu — sekolah dasar tua yang berdiri di tanah bekas asrama Belanda. Dari luar tampak biasa, tapi begitu masuk, aroma kayu tua dan kapur menguar dari dindingnya.
Ubin putih kusam terasa dingin di telapak kaki, dan setiap langkah memantulkan bunyi “klak-klok” yang memanjang di lorong. Di siang hari, sekolah itu ramai oleh suara tawa siswa. Tapi saat sore tiba dan halaman mulai kosong, suasananya pelan-pelan berubah… seperti ada mata yang mengintip dari balik jendela berdebu.
Baca cerpen lainya: Doa di Jalan Angker
Karena masih guru baru, aku sering pulang paling akhir demi mengejar administrasi. Kepala sekolah pernah berkata sambil menyerahkan kunci ruang guru,
“Kalau malam, jangan duduk di kursi dekat lemari arsip. Kursinya suka goyang sendiri.” Ia tertawa kecil, tapi ada sesuatu di balik tawanya — seperti orang yang sedang menyimpan sesuatu.
Awalnya, aku menganggap itu sekadar gurauan untuk pendatang baru. Sampai malam Jumat itu.
Sekitar pukul setengah delapan, hanya aku yang tersisa di ruang guru. Lampu neon berkedip pelan, seolah lelah menahan malam. Saat sedang mengetik laporan, suara kursi diseret terdengar dari sudut ruangan.
“Krukkk…”
Lirih, tapi jelas.
Aku menoleh. Tidak ada siapa pun. Semua kursi diam dan teratur seperti biasa.
Aku mencoba tenang. Mungkin tikus, pikirku. Tapi ruangan itu rapat tanpa celah angin. Hening terlalu sempurna.
Lalu aroma melati samar muncul, entah dari mana. Harumnya lembut, tapi ada guratan getir seperti bunga yang merayap menuju layu. Jantungku memukul-mukul dada. Dalam cerita orang tua, melati di malam hari jarang datang sendirian.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah pelan di koridor.
“Tok… tok… tok…”
Seperti langkah seorang anak kecil tanpa alas kaki. Aku menahan napas. Suara itu semakin dekat. Lalu berhenti tepat di depan ruang guru.
Pintu bergeser sedikit.
“Krietttt…”
Aku berdiri spontan. “H—halo? Siapa di sana?” Suaraku bergetar.
Tak ada jawaban.
Pintu berhenti bergerak, tapi aku tahu ada sesuatu di baliknya. Diam. Menunggu.
Beberapa detik kemudian, pintu menutup sendiri. “Klik.” Sunyi kembali menekan dari segala arah.
Aku memutuskan pulang saat itu juga. Ketika merapikan barang, mataku terpaku pada kursi di dekat lemari arsip — yang dilarang itu. Kursinya bergeser sedikit menghadap ke arahku. Seolah baru saja ditinggalkan seseorang.
Saat aku hendak mematikan lampu, sesuatu membuatku membeku. Di papan tulis, ada tulisan baru yang tak ada tadi sore:
“Sudah malam. Kenapa belum pulang?”
Huruf kapur putihnya bergetar tak beraturan.
Tenggorokanku kering. Aku buru-buru keluar, kunci hampir terjatuh dari tangan. Saat menoleh sekali lagi, aku melihat siluet seseorang duduk di kursi itu — samar, tapi jelas tubuhnya kecil dan rambutnya menjuntai menutupi bahu, jatuh sampai lantai.
Malam itu aku tak tidur. Dan sejak itu, aku tak pernah lembur lagi.
Namun rasa penasaran malah tumbuh. Siapa sosok itu sebenarnya?
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri bertanya pada Bu Rini, guru paling senior. Wajahnya langsung pucat.
Ia menatapku lama sebelum bergumam, “Kamu paling lama di ruang guru, ya? Pernah mencium bau melati?”
Aku mengangguk.
Bu Rini menarik napas dalam. “Itu kursi milik Bu Ratna. Dulu beliau guru telaten, tapi keras kepala. Suatu malam, dia wafat mendadak di ruang guru. Katanya sedang mengoreksi buku nilai.”
Aku tercekat. “Kenapa meninggal?”
“Katanya jantungnya kambuh. Tapi… ada yang bilang dia habis dimarahi kepala sekolah karena salah memasukkan nilai rapor. Sejak itu, setiap malam Jumat, selalu ada yang kembali duduk di kursi itu. Katanya, Bu Ratna belum selesai bekerja.”
Bulu kudukku berdiri.
Dua pekan kemudian, saat kegiatan kemah, aku berjaga malam bersama beberapa guru. Sekitar pukul dua pagi, aku ke ruang guru untuk mengambil buku panduan. Semua orang tidur di halaman belakang.
Begitu pintu kubuka, lampu neon sudah menyala. Padahal tadi sore aku sendiri yang mematikannya.
Dan di kursi itu—kursi Bu Ratna—ada bayangan seseorang duduk membungkuk. Tangan kirinya memegang buku tebal, tangan kanannya menulis pelan, menggores-gores seperti mengisi nilai.
Rambutnya panjang menutupi wajah. Bahunya naik-turun seperti sedang menahan napas.
Aku terpaku.
Sosok itu berhenti menulis. Rambutnya bergerak sedikit, lalu perlahan ia menoleh. Matanya kosong… memantulkan cahaya lampu seperti kaca retak. Senyum kaku menempel di bibirnya.
Suara lirih keluar dari mulutnya:
“Sudah malam… kenapa belum pulang?”
Itu suara yang sama.
Aku berlari sekuat tenaga tanpa menoleh. Malam itu, aku tidak kembali.
Esoknya aku izin tidak mengajar. Dan sejak hari itu, setiap kali lewat depan ruang guru, aku terus menunduk. Tapi dari sela jendela, kadang aku melihat kursi itu bergerak pelan. Kadang ada sebatang melati segar di atas meja… meski tak satu pun guru pernah menaruhnya.
Dan entah kenapa, setiap guru baru yang datang selalu mendapat peringatan yang sama:
“Kalau malam, jangan duduk di kursi dekat lemari arsip. Itu milik penghuni lama.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












