
Musyda Foskam Kabupaten Gresik digelar di SD Muhammadiyah 1 Menganti. Usai menyampaikan laporan pertanggungjawaban, sang ketua membacakan esai pendiri Komunitas Padhang Makhsyar.
Tagar.co – Musyawarah Daerah Forum Silaturahmi dan Komunikasi (Musyda Foskam) Kepala Sekolah SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik dibuka oleh Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) Kabupaten Gresik, M. Fadloli Aziz, Selasa (10/12/2024).
Kegiatan ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah 1 Menganti, dengan tema Memperkuat Kolaborasi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Muhammadiyah yang Unggul dan Mencerahkan.
Semua sekolah dan madrasah mulai Gresik selatan, Gresik tengah, dan Gresik utara, hadir dalam kegiatan ini.
Hadir mendampingi Aziz, Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF DM Gresik Nurul Wafiyah.
Ketua Foskam SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik periode 2021-2024, Moch. Nor Qomari menyampaikan laporan pertanggungjawaban masa kepemimpinannya.
Dia didampingi Kholiq Idris (wakil ketua), Teguh Abdillah (sekretaris), dan Assidiq Wibowo (bendahara 1).
Dengan sikap santai dan penuh humor, dia menyampaikan laporannya. Banyak kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tiga tahun. Baik yang berkaitan dengan sekolah/madrasah, guru, maupun siswa.
Setelah laporan Musyda Foskam dibacakan dan diterima forum, Qomari, panggilan membacakan 5 bait puisi yang di tulis oleh Nurbani Yusuf, Komunitas Padhang Makhsyar.
“Sebelum saya akhiri, untuk menggugah semangat kita bersama saya akan membaca puisinya Nurbani Yusuf,” ungkapnya.
Puisi atau esai lengkapnya sebagai berikut.
Saya Memang Dibesarkan Muhammadiyah
Maturnuwun Muhammadiyah
Tanpa Muhammadiyah saya bukan siapa-siapa. Sebaliknya dengan Muhammadiyah saya banyak mendapatkan.
Akidah dan ibadah saya diluruskan dibersihkan dari tahayul, bid’ah dan khurafat.
Memahami dan mengamalkan agama sesuai Al-Qur’an dan Sunah makbulah saya dapatkan di sini—berpikir maju, pelajaran suka memberi, dan beramal juga ada di sini. Banyak teman, saudara, bahkan pekerjaan dan masih banyak lagi. semua saya dapatkan .. terima kasih Muhammadiyah.
****
Jika Antum bertanya pada saya: Apakah saya telah membesarkan Muhammadiyah atau dibesarkan Muhammadiyah? Tegas saya jawab: Saya dibesarkan Muhammadiyah!
Saya bukan Pak A.R. Fachruddin Ketua Pimpinan Pusat empat periode yang tetap ngontrak rumah hingga akhir periode, yang sederhana yang zuhud yang wara’ meski kalau mau pasti bisa.
Saya bukan Kiai Roemani ulama NU yang wakafkan tanah berhektar dan bangunan buat rumah sakit. Saya bukan H. Moh. Bisri yang mewakafkan 50 hektar tanah buat Muhammadiyah.
Saya bukan Abdul Malik Fadjar yang bikin Universitas Islam terbaik buat Muhammadiyah. Dan bukan pula seperti para pembesar Muhammadiyah lainnya yang tak saya sebut satu-satu.
Jujur saya belum melakukan apapun untuk Muhammadiyah. Malu jika saya berani berkata bahwa saya telah membesarkan Muhammadiyah. Realitasnya saya belum melakukan apa-apa untuk perserikatan besar ini.
***
Saya tak bisa menjawab ketika pertanyaan tentang: Apa yang sudah saya lakukan untuk membesarkan Muhammadiyah? Apakah wakaf dua masjid dan satu musala kecil di pinggir kali layak disebut membesarkan Muhammadiyah.
Apakah wakaf tanah seluas 800 meter dan rencana bikin tajdid center bisa disebut membesarkan Muhammadiyah?
Apakah urunan anggota seribu perak setiap bulan yang sering saya bayar telat layak disebut membesarkan Muhammadiyah.
Apakah menjadi pimpinan ranting selama empat periode disebut membesarkan, karena saya tak mampu mencetak kader.
Jemaah saya kian susut, masjid saya sepi pengunjung, bahkan kewafatan 9 anggota jemaah ranting sebulan ini, tidak dibarengi dengan jemaah baru,
Sebagai ketua ranting saya gagal, sebagai ketua takmir juga sama: gagal.
Di Muhammadiyah mungkin saya adalah beban. Saya hanya bisa bersyukur telah dibesarkan. Terima kasih Muhammadiyah!
**
Terima kasih Muhammadiyah telah memberi banyak, beragama sesuai Al-Qur’an dan As-sunah, selamat dari tahayul, bidah dan khurafat. Di Muhammadiyah saya bisa paham tentang sunah dan bid’ah,
Terima kasih Muhammadiyah, saya banyak mendapat pelajaran tentang berorganisasi yang baik, beramal dengan iklas, berani berkurban, dan berfastabikul khairat.
Terima kasih Muhammadiyah saya dipertemukan dengan orang-orang baik, ahli amal yang iklas, pemikir cenerlang, ulama sederhana, saudara yang setia dan temen seperjuangan yang menyenangkan.
Terima kasih Muhammadiyah: saya belajar menghargai yang berbeda, toleran dengan yang tidak sepemahaman, dengannya saya belajar mencintai dan menyayangi
*
Lebih dari itu semua aku dapatkan dua anak imut yang menyenangkan dan istri cantik, suka bekerja keras, menyerahkan sebagian waktunya untuk berkhidmat dan rela menyerahkan separuh uang belanjanya untuk Muhammadiyah.
Terima kasih Muhammadiyah saya mendapat sangat banyak— hidupku adalah hasil doa-doa yang di ijabah dari jamaah, temen saudara seperjuangan di Muhammadiyah.
Itulah expolsure. Itulah keberkahan yang nyata. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












