Feature

MI Muhipat Ngimboh: Madrasah Kecil, Potensi Besar

48
×

MI Muhipat Ngimboh: Madrasah Kecil, Potensi Besar

Sebarkan artikel ini
Tim juri LLSMS ikut Senam Anak Indonesia Hebat (Tagar.co/Elsa Wahyuningtias)

MI Muhipat atau MI Muhammadiyah 4 Ngimboh tampil sederhana, namun penuh semangat. Tim LLSMS datang membawa tantangan sekaligus apresiasi, dari toilet bersih hingga inovasi daur ulang. Sinergi guru, siswa, dan wali murid jadi kuncinya.

Tagar.co – Suasana di MI Muhammadiyah 4 Ngimboh Kamis pagi, Desa Ngemboh, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 31 Juli 2025 pagi, tampak penuh semangat.

Senyum ceria para siswa, keceriaan guru, hingga semangat para wali murid menyambut kedatangan Tim Penilai Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Bagi madrasah yang akrab disebut MI Muhipat ini, momen tersebut bukan sekadar penilaian lomba, melainkan kesempatan untuk terus berbenah, bertumbuh, dan belajar.

Kepala MI Muhipat Khusniyawati, S.Pd., dalam sambutannya mengakui bahwa Muhipat masih dalam proses bertumbuh. “Kami sadar madrasah ini belum sempurna. Tapi kami percaya, dengan bimbingan dan masukan dari tim penilai, langkah kami ke depan akan lebih terarah,” ungkapnya penuh harap.

Baca juga: Qari Difabel Bikin Kagum Tim Penilai LLSMS, Dapat Tawaran Beasiswa Kuliah di UMG

Baca Juga:  PDM Gresik Targetkan Mutu Sekolah Muhammadiyah Merata seperti Sistem Franchise

Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kondisi fisik lingkungan hingga implementasi budaya bersih dan sehat di keseharian siswa. Noor Amirudin, M.Pd.I., dosen PAI Universitas Muhammadiyah Gresik yang menjadi salah satu penilai, menekankan pentingnya menciptakan madrasah yang nyaman sebagai rumah kedua bagi anak-anak.

“Kebersihan dan kenyamanan lingkungan adalah bagian dari pendidikan akhlak. K.H. Ahmad Dahlan dulu memulai dakwahnya dari sapu dan kain pel. Maka, jangan anggap remeh hal-hal kecil seperti ini,” ujarnya.

Noor Amirudin (kanan) dan Waka Kesiswaan Ahdhoril Wahid, S.E, S.Pd (Tagar.co/Elsa Wahyuningtias)

Salah satu catatan positif datang dari Moch. Nor Qomari, S.Si., yang mengapresiasi kondisi toilet siswa yang bersih dan tertata rapi. “Toilet adalah wajah pertama sebuah lembaga. Bahkan di hotel pun, kesan pertama kita dinilai dari toiletnya. Madrasah ini sudah menunjukkan upaya yang luar biasa dalam menjaga kebersihan,” katanya.

Namun, tak hanya berhenti di apresiasi, dia juga memberikan lima catatan refleksi yang menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama:

  1. Kolaborasi yang harmonis antara guru, orang tua, dan siswa adalah fondasi agar program-program sekolah bisa berjalan optimal.

  2. Potensi besar di balik kesederhanaan Muhipat harus terus digali. Kegiatan salat berjemaah yang dibarengi pembelajaran adab dan dzikir menjadi mutiara yang sangat berharga.

  3. Budaya membawa tumbler dan inovasi pengelolaan sampah seperti kreasi pot dari bahan bekas hasil kolaborasi Ikwam menunjukkan sinergi kuat antara sekolah dan wali murid.

  4. Edukasi tentang jenis-jenis sampah (organik dan anorganik) perlu diperdalam agar anak-anak memahami secara utuh.

  5. Penataan ulang media informasi visual di lingkungan madrasah agar lebih efektif dalam mendukung proses pembelajaran dan karakter.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga
Tim juri LLSMS bersama guru dan siswa Muhdipat (Tagar.co/Elsa Wahyuningtias)

Kunjungan ini tak hanya soal penilaian teknis. Ada dialog hangat yang mempertemukan semangat para guru dan apresiasi tulus dari tim penilai. Ustaz Ari, sapaan akrab Moch. Nor Qomari, bahkan menyatakan kesiapannya untuk membantu madrasah dalam menata ruang perpustakaan. “Perpustakaan harus jadi ruang yang nyaman dan inspiratif. Di sanalah karakter gemar membaca bisa tumbuh,” katanya.

Sementara itu, semangat literasi juga menjadi perhatian dalam kunjungan ini. Muntaha, S.Ag., S.Pd., salah satu guru yang telah menulis buku untuk kalangan internal madrasah, didorong agar karyanya segera dipatenkan secara resmi. Ustaz Noor Amirudin siap mendampingi proses akademik tersebut melalui Universitas Muhammadiyah Gresik.

Bagi MI Muhammadiyah 4 Ngimboh, kunjungan tim LLSMS ini seperti angin segar yang menumbuhkan optimisme baru. Penilaian hari itu bukan sekadar angka, melainkan motivasi untuk terus menciptakan lingkungan belajar yang sehat, islami, dan penuh inovasi. Sebab, di balik madrasah sederhana ini, ada potensi besar yang siap dipoles menjadi permata. (#)

Jurnalis Elsa Wahyuningtias Penyunting Mohammad Nurfatoni