Feature

Merah Putih Membara di SD Mumtas: Pawai, Lomba, dan Persatuan Warga Sidoyoso

26
×

Merah Putih Membara di SD Mumtas: Pawai, Lomba, dan Persatuan Warga Sidoyoso

Sebarkan artikel ini
Warna merah dan putih menyala di sepanjang Jalan Sidoyoso-Granting meramaikan suasana pawai kemerdekaan HUT Ke-80 RI di SD Mumtas Sidoyoso Surabaya (Tagar.co/M. Khoirul Anam)

Suasana Sidoyoso–Granting memerah-putih saat SD Muhammadiyah 10 Surabaya menggelar pawai dan lomba HUT ke-80 RI. Dentuman drumben, tawa siswa, dan nostalgia warga berpadu merayakan kemerdekaan dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Tagar.co – Matahari pagi bersinar hangat di langit Sidoyoso, Jumat, 15 Agustus 2025. Jalanan menuju Granting mendadak dipenuhi warna merah putih. SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) menggelar pawai kemerdekaan untuk memperingati HUT Ke-80 Republik Indonesia, mengundang senyum dan sorak warga yang berdiri di sepanjang jalan.

Dengan busana bernuansa merah putih dan kostum pejuang, para guru, karyawan, serta siswa kelas 1 hingga 6 berbaris rapi menyusuri kampung. Di depan barisan, dentuman drumben Bahana Surya menggelorakan langkah, membuat warga bergegas keluar rumah untuk menyaksikan.

Baca juga: Qinara dan Alif: Kilau Hafiz Cilik dari SD Mumtas di Panggung Jawa Timur

Anak-anak kecil melambaikan tangan, sementara para orang tua tak henti mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen.

Tahun ini, SD Mumtas mengusung tema besar kemerdekaan: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Perayaan dimulai sejak Senin, 11 Agustus 2025, lewat beragam lomba yang berlangsung empat hari. Puncaknya ditutup dengan upacara bendera dan pembagian hadiah.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan Ramadan, Ikwam SD Mumtas Kunjungi SLB Karya Bakti

Selama 11–14 Agustus, halaman sekolah tak pernah sepi. Sorak-sorai terdengar saat siswa mengikuti lomba sesuai jenjang: Fase A (kelas 1–2), Fase B (kelas 3–4), dan Fase C (kelas 5–6).

Lomba ketangkasan seperti meniup gelas, estafet air, estafet pimpong, puzzle, memasukkan sedotan ke botol, hingga castle cup memacu adrenalin sekaligus kekompakan.

Seru dan lucu, lomba memasukkan sedotan ke botol dengan mengunakan hidung, diikuti kelas fase C di halaman Masjid Jenderal A. Yani Sidoyoso (Tagar.co/M. Khoirul Anam)

Tak kalah menantang, lomba akademik seperti menyusun huruf, Siapa Juara Yes or No, dan menjemur bilangan menguji kecepatan berpikir. Sementara itu, nuansa khidmat terasa di lomba kaligrafi dan Best of the Best Tahfidz Qur’an, membuktikan bahwa semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan dalam kecintaan pada agama.

Kepala Urusan Kesiswaan, Zainun Ni’mah, S.Ag., menegaskan bahwa kegiatan ini tak sekadar soal siapa yang juara.

“Kami ingin menumbuhkan sportivitas, kerja sama, kreativitas, dan rasa percaya diri anak. Mereka belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara guru, siswa, dan warga sekitar,” ujarnya.

Siswa kelas 3 SD Mumtas Sidoyoso Surabaya berfoto bersama setelah pawai kemerdekaan si sepanjang jalan Sidoyoso-Granting (Tagar.co/Husni)

Pawai keliling kampung Sidoyoso–Granting menjadi simbol nyata persatuan. Langkah kaki yang seirama, nyanyian lagu perjuangan, dan warna merah putih yang mendominasi membuat suasana seakan membawa kembali potongan sejarah.

Baca Juga:  SD Mumtas Hadirkan Keceriaan Ramadan di Panti Muhammadiyah Semampir

Bagi warga, ini bukan sekadar agenda sekolah, melainkan perayaan bersama. Anak-anak memetik pelajaran tentang arti perjuangan, para orang tua bernostalgia pada 17 Agustus di masa kecil, dan semua hati dipenuhi rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Di bawah langit biru yang cerah, SD Mumtas menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya angka di kalender, melainkan semangat yang diwariskan, dirayakan, dan dijaga bersama.

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni