Feature

Menulis di Tengah Ujian: Memetik Optimisme dari Haji 2025

58
×

Menulis di Tengah Ujian: Memetik Optimisme dari Haji 2025

Sebarkan artikel ini
Penulis dan istri, Anandyah RC

Tulisan ini tidaklah lahir dari sekadar pengalaman, melainkan dari keberanian melihat cahaya di balik kekacauan.

Catatan dari Tanah Suci (Seri 11); Oleh Firman Arifin, Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Tahun ini, Haji 2025 bukanlah perjalanan ibadah yang mulus. Banyak dari kami menghadapi sistem baru, jadwal yang kacau, syarikah yang tumpang tindih, bahkan kehilangan jatah tenda di Arafah.

Jika haji adalah perjalanan batin, maka tahun ini ia adalah ujian kelulusan tingkat akhir, dengan soal-soal kehidupan yang jawabannya bukan di mulut, melainkan di hati.

Baca juga: Nafar Awal dan Nafar Sani: Dua Waktu, Satu Tujuan

Saya menyaksikan langsung kawan-kawan jamaah menangis karena kelelahan menunggu bus yang tak kunjung datang. Ada yang terpisah dari rombongan, ada yang berjalan dengan kaki palsu, tertatih menaklukkan jumrah, dan ada yang hanya mampu berdoa di pinggir tenda, tak sanggup lagi bergerak.

Namun, justru dari situlah saya mulai menulis.

Realitas Tidak Bisa Dipoles, tetapi Bisa Ditanami Hikmah

Sebagai penulis, saya tidak ingin menjadi juru bicara basa-basi yang memoles kenyataan. Tapi saya juga bukan tukang kritik yang hanya menyebar pesimisme. Maka saya memilih satu posisi: penanam harapan di ladang kenyataan.

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Saya tahu, jamaah kecewa. Tapi bukankah di balik kekecewaan itu ada pelajaran tentang sabar?

Saya tahu, sistem berantakan. Tapi bukankah itu melatih kita menguatkan koordinasi dan komunikasi antarsesama jamaah?

Seperti rangkaian listrik paralel, saat satu sumber lumpuh, yang lain bisa menopang. Maka saya melihat para jamaah saling membantu, saling mengantar makanan, saling mendoakan. Haji 2025 ini, jika dilihat dengan lensa kebersamaan, justru menyala terang.

Ketika Tenda dan Hotel Jadi Rebutan: Ujian Moral Lebih Berat dari Fisik

Salah satu momen paling menyentuh sekaligus menyedihkan adalah ketika saya mendengar—dan mengalami sendiri—tenda kami diserobot rombongan lain. Bahkan ada hotel yang bukan haknya, tetapi diambil alih oleh jemaah yang “merasa berhak” karena lelah atau kecewa pada pengaturan.

Akibatnya, ada jemaah yang akhirnya terlempar, tidur di tempat seadanya. Saya tertegun. Bukan hanya karena sistemnya kacau, tetapi karena kita diuji pada titik terdalam. Apakah kita akan menyelamatkan diri dengan menyakiti yang lain?

Saat itu, saya bertanya pada diri sendiri: Apakah kita mau melakukan hal yang sama? Apakah kita akan menempati tenda orang lain hanya karena tenda kita tidak tersedia?

Itu seperti sandal kita hilang di masjid, lalu kita dengan santainya mengambil sandal orang lain. Mungkin terasa “wajar”, toh kita juga kehilangan. Tapi di situlah batasnya. Antara orang yang marah karena haknya hilang dan yang berubah menjadi zalim karena mengambil hak orang lain.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Menulis untuk Membaca Hikmah Tersembunyi

Dalam dunia teknik, kami mengenal istilah troubleshooting. Ketika sistem error, bukan berarti sistem itu gagal. Bisa jadi hanya satu komponen yang longgar atau tidak cocok. Maka, solusinya bukan membuang semua, melainkan memahami titik lemahnya lalu menguatkannya kembali.

Menulis bagi saya adalah proses troubleshooting rohani. Saya menulis bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena saya ingin mengurai simpul masalah, mencari logika langit di balik keruwetan bumi.

Saya menulis bukan untuk mengaburkan fakta, tetapi menyulam makna dari reruntuhan ekspektasi.

Optimisme Itu Bukan Buta, tapi Cerdas Memilih Sudut Pandang

Saya dan istri: Sekloter, sesyarikah, sehotel. Sering bersama, sesekali terpisah. Bahkan kamar berdampingan di nomor 1026 dan 1028.

Kami bersama dalam susah dan senang. Tapi saat diuji, kami saling mengingatkan, “Kita bukan sedang berlibur. Kita sedang dipanggil Allah untuk diuji dan disembuhkan.”

Ketika Arafah tidak sesuai harapan, saya berkata kepada hati saya, “Mungkin inilah Arafah sejati. Bukan kemewahan, tapi kehampaan yang menelanjangi ego.”

Baca Juga:  PENS Tuan Rumah ToT “Teaching Methodology and Gender”, Dorong Pembelajaran Inklusif

Ketika jumrah penuh debu dan peluh, saya berkata kepada kaki saya, “Ayo jalan terus. Ini bukan sekadar batu, ini simbol perlawanan terhadap bisikan setan.”

Haji 2025: Bukan Gagal, tapi Sukses Menyadarkan

Jadi, jika ada yang bertanya, “Bagaimana Haji 2025 menurutmu?”

Saya akan jawab: “Ini bukan haji yang sempurna, tetapi inilah haji yang menyempurnakan kesadaran.”

Bukan karena semua fasilitas terpenuhi, tapi karena semua keluh disalurkan jadi doa. Bukan karena semua tenda nyaman, tapi karena semua hati dipaksa kembali pada Tuhan.

Menulis tentang ini adalah cara saya menjaga agar haji ini tak sekadar jadi memori foto, tetapi menjadi energi perubahan.

Karena saya percaya, ujian terbesar bukan saat di tenda Mina, melainkan ketika pulang dan membawa makna dari sana.

Dan tentu saja, kita tidak boleh berhenti di doa dan tulisan. Pemerintah melalui Kementerian Agama dan seluruh KBIH perlu duduk bersama, mencari solusi terbaik untuk tahun-tahun berikutnya. Karena error bukan untuk disimpan, tapi untuk diselesaikan. Bukan untuk ditutupi, tapi untuk ditransformasi menjadi perbaikan sistemik.

Dengan harapan dan ikhtiar bersama, haji bukan hanya menjadi ibadah, tapi momentum perbaikan umat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni