Opini

Nafar Awal dan Nafar Sani: Dua Waktu, Satu Tujuan

41
×

Nafar Awal dan Nafar Sani: Dua Waktu, Satu Tujuan

Sebarkan artikel ini
Menata niat, menguatkan langkah. Jamaah Nurul Hayat bersiap melempar jumrah di hari kedua Tasyrik (Tagar.co/Firman Arifin)

Setelah Arafah dan Muzdalifah, Mina mempertemukan jemaah pada sebuah persimpangan spiritual: nafar awal atau nafar sani. Dua pilihan waktu, satu ujian kedewasaan jiwa. Naskah ini mengajak kita merenungkan: dalam hidup pun, kapan kita harus pergi, dan kapan kita patut bertahan?

Catatan dari Tanah Suci (Seri 10); Oleh Firman Arifin Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya

Tagar.co – Setelah rangkaian utama ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, tibalah kita pada salah satu titik persimpangan bernama nafar.

Inilah saat ketika Allah memberi pilihan—bukan untuk membedakan siapa yang lebih utama, melainkan siapa yang paling sadar akan arah langkahnya. Pilihan ini bukan soal siapa lebih dulu pulang, tetapi siapa yang paling siap kembali dengan hati yang utuh.

Baca juga: Filter Spiritual di Lembah Jumrah: Mengusir Setan dari Dalam

Apa Itu Nafar?

Secara bahasa, nafar berarti “kelompok yang pergi”. Dalam konteks ibadah haji, nafar merujuk pada waktu keluarnya jemaah dari Mina setelah melontar jumrah pada hari-hari tasyrik.

Ada dua jenis nafar: nafar awal dan nafar sani.

  • Nafar awal dilakukan saat jemaah meninggalkan Mina pada 12 Zulhijah, setelah melontar tiga jumrah.
  • Nafar sani dilakukan dengan bertahan satu hari lebih lama, hingga 13 Zulhijah, lalu kembali melontar jumrah sebelum meninggalkan Mina.
Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Keduanya dibenarkan oleh syariat. Allah Swt. menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 203, bahwa siapa pun yang mempercepat atau mengakhirkan, tidak ada dosa baginya—selama disertai dengan ketakwaan.

Bertahan atau Pergi?

Di lapangan, setiap jemaah memiliki pertimbangan yang berbeda. Ada yang berkata, “Pak, saya pilih nafar awal karena badan ini sudah tidak kuat tidur di tenda.”

Yang lain berujar, “Saya ingin sani. Mungkin ini haji terakhir saya. Saya ingin lebih lama bermunajat di Mina.”

Keduanya tidak salah. Keduanya bisa benar. Namun, nilai spiritual dari pilihan itu bergantung pada niat yang melandasinya: apakah karena ingin cepat selesai, atau karena merasa cukup dan siap pulang dengan hati yang bersih?

Hikmah Nafar dalam Hidup

Dalam kehidupan, kita kerap dihadapkan pada pilihan serupa. Kapan harus menyelesaikan sesuatu? Kapan harus bertahan sedikit lebih lama?

Seorang pemimpin perlu tahu kapan mengundurkan diri dan kapan bertahan untuk menyelesaikan amanah. Seorang mahasiswa perlu tahu kapan menuntaskan studi dan kapan memperpanjang masa belajar untuk memperdalam pemahaman. Seorang pebisnis perlu tahu kapan melakukan ekspansi dan kapan saatnya konsolidasi.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Nafar mengajarkan bahwa keputusan terbaik lahir dari ketenangan jiwa dan kejernihan niat.

Pendekatan Teknik: Shutdown atau Extend?

Dalam dunia teknik dan sistem, kita mengenal dua fase: shutdown dan extend. Sebuah server bisa dimatikan setelah semua proses stabil dan data aman. Namun, operasionalnya bisa diperpanjang jika masih ada proses penting yang harus diselesaikan.

Begitu pula dengan ibadah dan jiwa kita. Jika jiwa sudah mantap, tidak mengapa memilih nafar awal. Namun jika masih ingin menata niat, memperbanyak zikir, atau merenungi lebih dalam, maka bertahan dengan nafar sani adalah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Yang penting bukan pada lamanya waktu, tetapi bagaimana hati bekerja selama waktu itu.

Saat Hati Menjadi Kompas

Tidak ada piala bagi mereka yang lebih cepat meninggalkan Mina. Tak ada pula medali untuk mereka yang bertahan lebih lama. Yang dinilai adalah: apa yang kita bawa pulang dari Mina?

Apakah hanya sisa makanan tenda dan cerita antre toilet? Atau hati yang lebih sabar, ego yang lebih terkendali, dan jiwa yang lebih mengenal Rabb-nya?

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Suatu malam, saya dan istri sedang menikmati makan malam di lobi Hotel 1021. Di seberang kami, tampak sepasang suami istri tengah “jidal”. Wajah tegang, suara meninggi. Pemandangan yang terasa kontras setelah ibadah agung di tanah suci.

Jika engkau pergi setelah menyelesaikan yang seharusnya, itulah nafar awal yang bijak. Jika engkau bertahan demi memperkuat komitmen, itulah nafar sani yang berkah.

Karena haji bukan soal kecepatan, melainkan soal kedalaman. Dan Mina bukan tempat mewah, tapi tempat melepas dunia.

Pergi atau bertahan—asal karena Allah—maka keduanya insyaallah mabrur. Yang penting: kaki boleh bergerak, tapi hati tetap tertambat di langit.

Semoga Armuzna yang kita jalani bukan sekadar rangkaian ritual yang dilewati, tetapi sungguh-sungguh membentuk akhlak dan kendali diri setelahnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…