
Jayapura menyimpan keindahan luar biasa, dari Danau Sentani yang menawan hingga Pantai Holtekamp yang eksotis. Jelajahi pesonanya, nikmati budaya uniknya, dan rasakan pengalaman tak terlupakan di Papua!
Oleh Akhmad Saikhu, ASN di Kemenkes dan tinggal di Madiun
Tagar.co – Telah lama saya ingin mengunjungi Bumi Cenderawasih, Papua. Akhirnya, kesempatan itu datang saat saya mendapat penugasan untuk mengikuti Rapat Kerja Rencana Aksi Kegiatan 2015–2019 Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua.
Pertemuan ini diadakan di Hotel Sahid Papua pada 18–20 Mei 2014. Meskipun perjalanan ini terjadi cukup lama, kenangannya masih terasa begitu membekas hingga kini.
Keindahan Danau Sentani
Perjalanan menuju Papua dari Jakarta memakan waktu cukup panjang. Namun, pemandangan indah Danau Sentani dari udara sebelum mendarat di Bandara Sentani benar-benar menjadi kejutan tersendiri. Danau ini langsung masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi setelah tugas resmi selesai.
Danau Sentani, dengan segala pesonanya, tidak hanya menawarkan panorama alam yang memikat tetapi juga menyimpan kekayaan budaya dan potensi wisata yang belum sepenuhnya tergali.
Baca juga: Wisata Taman Langit di Bukit Bengkaung NTB: Keindahan Malam yang Memukau
Terletak di bawah lereng Pegunungan Cyclops, danau ini bukan sekadar hamparan air biru yang memantulkan cahaya matahari, melainkan juga sebuah ekosistem yang kaya dan dinamis. Keanekaragaman hayati di danau ini, termasuk ikan-ikan endemik seperti ikan gabus Sentani, menjadi bukti betapa alam telah menghadiahkan kekayaan luar biasa kepada wilayah ini.
Selain panorama alamnya yang memukau, Danau Sentani juga merupakan pusat budaya yang penting. Pulau Asei, salah satu dari 22 pulau di danau ini, terkenal dengan kerajinan tangan khas Papua.
Noken, tas anyaman tradisional yang telah diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia, menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan. Selain itu, suvenir dari kulit kayu dengan motif khas Papua, batik tulis Papua, dan kaus bermotif etnik juga bisa ditemukan di sini.
Berbagai hasil kerajinan ini tidak hanya bisa menjadi buah tangan, tetapi juga membawa cerita menarik tentang kekayaan budaya masyarakat Sentani. Selain kenangan indah, saya pun membawa pulang beberapa cendera mata berupa batik Papua serta oleh-oleh seperti roti abon gulung yang lezat.

Bukit Teletubbies dan Tugu MacArthur
Salah satu daya tarik utama di sekitar Danau Sentani adalah Bukit Teletubbies, yang menyuguhkan pemandangan hijau nan asri. Saya mengunjungi bukit ini pada siang hari, meskipun pemandangan alam akan terlihat lebih indah saat matahari terbenam. Golden hour di Danau Sentani adalah momen magis ketika langit berubah warna menjadi jingga keemasan, memantul di permukaan danau yang tenang.
Bukit Teletubbies adalah tempat sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan alam. Dengan hamparan rumput hijau yang luas, bukit ini memberikan suasana menenangkan bagi siapa saja yang datang. Selain menjadi lokasi ideal untuk berswafoto, tempat ini juga sering dimanfaatkan untuk piknik, berkemah, atau sekadar berjalan-jalan menikmati udara segar.
Baca juga: Buton: Kaya, Indah, dan Bersejarah
Di kawasan bukit ini terdapat Tugu MacArthur, yang didirikan oleh Pasukan Sekutu Amerika di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur pada 22 April 1944. Tugu ini menjadi penanda keberhasilan Pasukan Sekutu dalam mendarat di New Guinea dan menguasai Jayapura (Hollandia) pada masa Perang Dunia II.
Dari Tugu MacArthur, pengunjung bisa menikmati panorama luas yang mencakup danau, pulau-pulau kecil, serta Pegunungan Cyclops yang menjulang gagah di kejauhan. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh di kawasan ini karena saat itu sudah melewati jam operasional.

Pantai Hamadi: Keindahan di Pesisir Jayapura
Dari Jayapura, akses menuju pantai atau pulau-pulau sekitarnya bisa melalui Dermaga Hamadi. Lokasi strategis dermaga ini, yang dekat dengan Jembatan Youtefa, membuatnya ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan.
Saya menyempatkan diri mengunjungi Dermaga Hamadi, yang berada di satu kawasan dengan Pantai Hamadi. Untuk menuju ke sana, saya cukup naik ojek dari depan hotel tempat saya menginap. Jaraknya hanya sekitar 5 km.
Dermaga Hamadi tidak hanya berfungsi sebagai akses transportasi tetapi juga menawarkan berbagai aktivitas wisata, seperti memancing, bersantai, atau sekadar berjalan-jalan menikmati pemandangan laut. Keberadaan Kampung Nelayan Hamadi di sekitarnya juga menambah daya tarik wisatawan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat pesisir Papua serta menikmati hidangan laut segar.
Pantai Hamadi dikenal dengan pasir putihnya yang lembut, air laut yang jernih, serta deretan pohon kelapa yang menambah suasana eksotis. Suasana siang yang terik terasa lebih nyaman berkat pondok-pondok di sepanjang pantai. Segelas air kelapa muda yang saya nikmati benar-benar terasa menyegarkan di tengah cuaca panas. Dua jam saya habiskan di sini, menikmati keindahan pantai sekaligus merenungi karunia-Nya.

Turunan Kiri
Di Jayapura Timur, tepatnya di wilayah Turunan Kiri—yang sering disebut Turki, terdapat Pantai Holtekamp. Pantai ini berjarak hanya 700 meter dari Pantai Hamadi melalui Jembatan Youtefa.
Pantai Holtekamp dikenal dengan pasir putihnya yang bersih serta ombaknya yang tenang, menjadikannya tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan alam. Tak heran, pantai ini menjadi destinasi favorit wisatawan.
Jayalah Jayapura!
Sebagai salah satu destinasi wisata yang potensial, Papua memerlukan perhatian lebih dalam hal pelestarian alam dan budaya. Wisatawan yang berkunjung diharapkan menghormati lingkungan dan adat istiadat setempat, serta ikut serta dalam upaya pelestarian alam. Dengan begitu, keindahan Papua akan tetap lestari untuk generasi mendatang.
Pengalaman mengunjungi Papua, khususnya Jayapura, memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Perjalanan ini tidak hanya membuka mata saya terhadap pesona alam yang luar biasa, tetapi juga memperkaya pemahaman saya akan keanekaragaman budaya Indonesia.
Papua, dengan segala keindahannya, benar-benar layak untuk dijelajahi dan dinikmati.

Pada akhir November 2024, saya sebenarnya memiliki kesempatan untuk kembali ke Papua, tepatnya ke Laboratorium Entomologi Kuala Kencana di Timika. Namun, karena kendala teknis, perjalanan tersebut harus dijadwal ulang.
Semoga kisah perjalanan ini dapat menginspirasi siapa pun untuk menjelajahi lebih jauh dan menghargai kekayaan alam serta budaya Indonesia. Potensi wisata Papua masih sangat besar untuk dikembangkan. Selain wisata alam, penguatan wisata budaya dan edukasi, seperti festival tahunan yang menampilkan tarian tradisional, musik, dan kuliner khas, bisa menjadi daya tarik tersendiri. Kegiatan seperti ini tidak hanya menarik wisatawan domestik tetapi juga mancanegara. (#)
Madiun 5 Februari 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












