
Di Masjid As-Saeri Ngusikan, Ridwan Manan mengajak jemaah menelisik kembali makna amanah—dari keteladanan K.H. Ahmad Dahlan hingga realitas kejujuran di tengah masyarakat yang kian teruji.
Tagar.co – Ahad pagi (16/11/2025), udara sejuk di Masjid As-Saeri, Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Jombang, Jawa Timur, terasa lebih teduh dari biasanya.
Sejak pukul 06.00 WIB, jemaah sudah memenuhi ruang utama masjid untuk mengikuti pengajian rutin Ahad ketiga yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngusikan.
Pada kesempatan itu, hadir penceramah Ridwan Manan, M.Pd., Pengasuh SMA Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo sekaligus Ketua Takmir Masjid “Ramah Musyafir” Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.
Baca juga: Masjid Dibuka Menjelang Salat Saja, Warisan Snouck Hurgronje
Ridwan mengawali ceramahnya dengan rasa syukur karena pengajian dimulai tepat waktu—sebuah disiplin yang menurutnya menjadi bagian penting dari menjaga amanah.
Ia mengingatkan kisah K.H. Ahmad Dahlan yang mengajarkan Surat Al-Asr berulang-ulang selama lebih dari enam bulan hanya untuk menanamkan sikap disiplin kepada jemaah.
“Disiplin itu bagian dari integritas,” tegasnya, seraya berharap warga Muhammadiyah dan Aisyiyah menjadikannya sebagai kebiasaan.
Menjaga Amanah
Dalam ceramahnya, ia menguraikan sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya amanah: mulai dari ciri Mukmin yang sukses menurut Surah Al-Mukminun ayat 1 dan 8, perintah menunaikan amanah dalam Surah An-Nisa ayat 58, hingga larangan mengkhianati amanah Allah dan Rasul sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Anfal ayat 27.
Ia juga menyinggung kecenderungan manusia yang kerap berebut memikul amanah, padahal amanah adalah beban berat yang bahkan langit, bumi, dan gunung enggan menerimanya—sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ahzab ayat 72.
Ridwan lalu menariknya ke realitas kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kemakmuran tidak akan turun kepada sebuah negeri, betapapun suburnya tanah yang dimiliki, apabila rakyat dan para pemimpinnya tidak menjaga amanah.
Ia juga mengingatkan tanda-tanda kiamat yang kian tampak: ketika yang khianat diberi amanah, yang jujur dianggap khianat, dan kepalsuan menjadi hal yang lumrah.
Pengajian pagi itu ditutup dengan suasana hangat. Para jemaah menikmati sarapan sederhana yang disajikan panitia, pulang dengan senyum cerah, membawa ilmu, inspirasi, dan sepiring sayur yang menambah keberkahan pagi mereka. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












