Feature

Menelisik Lima Karakter Dasar dan Peran Manusia dalam Al-Qur’an

35
×

Menelisik Lima Karakter Dasar dan Peran Manusia dalam Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Ketua PDM Gresik membahas Teologi Al-Ma'un. Ia mengungkap Peran dan Karakter Dasar Manusia Sesuai Al-Qur'an. Setelahnya, peserta menjalani pendalaman materi bersama imam of trainer.
Ketua PDM Gresik M. Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd.I., M.HES (kanan). (Tagar.co/Nur Laila)

Ketua PDM Gresik membahas Teologi Al-Ma’un. Setelahnya, peserta menjalani pendalaman materi bersama imam of trainer terkait Peran dan Karakter Dasar Manusia Sesuai Al-Qur’an.

Tagar.co — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, M. Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd.I., M.HES membuka wacana penting dalam kajian keislaman dengan memaparkan teologi Al-Ma’un. Di Aula Matahari lantai 2 SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, ia mengupas tuntas konsep, nilai, dan manifestasi teologi yang menjadi cerminan peran sejati manusia dalam Islam.

Thoha menjelaskan, teologi Al-Ma’un tidak hanya sekadar teori, tetapi harus terwujud sebagai peran nyata dalam kehidupan. Sebanyak 30 peserta Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) II menyimak dengan saksama pemaparannya.

Diskusi ini kemudian berlanjut mendalam bersama Rahmi Maulidiyah, S.Sy., M.Ag., imam of trainer DANA II. Rahmi, sapaan akrabnya, memperkaya materi sesuai silabus pelatihan.

Rahmi membahas peran sentral manusia dalam Al-Qur’an. Menurutnya, hakikat keberadaan mereka di dunia terrangkum dalam dua fungsi utama yang saling melengkapi: sebagai ‘Abdullāh (Hamba Allah) dan Khalīfah (Pemimpin/Pengelola Bumi).

Sebagai ‘Abdullāh, sambungnya, tugas fundamental manusia adalah beribadah dan tunduk mutlak kepada Allah swt. Ini sebagaimana dalam QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56. Peran ini menuntut ketaatan penuh—tidak hanya dalam ritual seperti salat dan puasa, melainkan juga dalam akhlak, amanah, dan keikhlasan niat di setiap aspek kehidupan.

Baca Juga:  Keputrian Spemdalas, Siswa Diajak Menjadi Muslimah Mandiri dan Bertanggung Jawab

Di sisi lain, sebagai khalīfah, manusia mengemban amanah untuk memakmurkan dan memelihara bumi, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30. Peran ini mewajibkan manusia untuk memimpin dengan adil—baik bagi diri sendiri maupun lingkungan—menjaga keseimbangan ekosistem, dan membangun peradaban yang menebar ilmu serta kemanfaatan.

Oleh karena itu, kata Rahmi, keberhasilan manusia terukur dari kemampuan untuk menyeimbangkan kedua peran ini: menjadi hamba yang taat dan bersyukur (‘Abdullāh), sekaligus menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan pembangun yang adil (Khalīfah).

Baca Juga: Siapkan Estafet Perjuangan: Risma Wahyuni Tegaskan Pentingnya Kaderisasi Berjenjang

Ketua PDM Gresik membahas Teologi Al-Ma'un. Ia mengungkap Peran dan Karakter Dasar Manusia Sesuai Al-Qur'an. Setelahnya, peserta menjalani pendalaman materi bersama imam of trainer.
Rahmi Maulidiyah, S.Sy., M.Ag., imam of trainer DANA II, menjelaskan pendalaman materi pertama. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Karakteristik Manusia dalam Al-Qur’an

Ibu tiga anak itu kemudian fokus menyoroti lima karakteristik dasar manusia yang termaktub dalam Al-Qur’an, sekaligus memberikan solusi korektif terhadap tabiat-tabiat tersebut. Ia mengawali dengan menjelaskan sisi mulia manusia. “Manusia diciptakan mulia sebagai ahsani taqwīm,” ujarnya mengutip QS. At-Tīn [95]: 4.

Perempuan muda berseragam batik nasional Nasyiatul Aisyiyah itu mengatakan, ayat tersebut memiliki makna, manusia Allah muliakan dengan karunia akal dan hati. Kedua hal inilah yang menjadikannya mampu memilih jalan kebaikan. Namun, di balik kemuliaan itu, Rahmi mengingatkan tentang tabiat-tabiat lain yang mesti mereka waspadai.

Baca Juga:  Kuatkan Literasi dan Karakter Islami, Siswa Spemdalas Ikuti Bedah Buku Ini

Menurut Rahmi, karakter pertama yang melekat pada manusia adalah sifat mudah lupa. Tersebutkan pula Insān sama dengan Nisyan. Ia menukil QS. Ṭāhā [20]: 115 yang bercerita tentang Adam. “Lupa adalah tabiat manusia, maka zikir menjadi penolong utama untuk mengatasi kelemahan ini,” tegasnya.

Karakter berikutnya adalah sifat tergesa-gesa atau ‘Ajūl. QS. Al-Anbiyā’ [37]: 37 menyebut, “Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.”

Rahmi menjelaskan, naluri ingin hasil cepat sering kali menguasai maklum Allah ini. Padahal Allah SWT mencintai kesabaran dalam setiap proses.

Selain itu, manusia juga punya kecenderungan untuk suka mengeluh (Halū‘a). Merujuk QS. Al-Ma’ārij [70]: 19–21, Rahmi menguraikan, “Bila ditimpa kesusahan, ia gelisah, dan bila mendapat kebaikan, ia kikir.”

Tabiat keluh kesah dan kikir ini, lanjutnya, hanya dapat terkendali oleh mereka yang menjaga salat dan beriman. Dengan kata lain, syukur menjadi penawar mujarab dari penyakit suka mengeluh.

Baca Juga: DANA II Dibuka, Aisyiyah Gresik Ajak Kader Nasyiah Menyalakan Obor Perjuangan

Atasi Naluri Cinta Harta dan Hikmahnya

Karakter kelima yang Rahmi soroti ialah naluri kuat cinta harta atau Ḥubb al-Māl. Sesuai QS. Al-‘Ādiyāt [100]: 8, cinta harta adalah naluri alamiah yang sangat kuat. Namun, ia menekankan, iman mengajarkan manusia untuk mengolah naluri ini menjadi kebajikan, yakni melalui berbagi, sedekah, dan amanah.

Baca Juga:  Sambut Ramadan, Siswa Mugeb Pawai dengan Membentangkan Replika Al-Qur'an Raksasa

Sebagai penutup, Rahmi menyampaikan hikmah mendalam dari telaah karakter makhluk yang berakal ini. “Al-Qur’an menunjukkan kelemahan manusia bukan untuk mencela, tetapi agar manusia memperbaiki diri dengan iman, sabar, dan syukur,” pungkasnya di hadapan peserta yang duduk dengan pola “U”.

Ia lantas merangkumkan solusi atas tabiat seseorang. Yaitu lupa dapat mereka atasi dengan zikir, tergesa-gesa dengan sabar, suka mengeluh dengan syukur, dan cinta harta dengan sedekah. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni